Senin, 28 Maret 2011

Cerpenku: Murni (episode pulang)

Published by Tabloid Nova, 2000

Perempuan itu membalikkan badannya. Cuaca begitu panas malam ini. Biasanya menjelang dini hari, cuaca dingin. Tapi kali ini sekujur tubuhnya berpeluh. Ia bangkit.  Mengambil koran bekas pembungkus dari dapur lalu mengipas-ngipaskannya ke badan. 
Sebenarnya bukan hanya karena perubahan cuaca yang akhir-akhir ini sukar ditebak, kadang-kadang panas kadang-kadang mendung dan hujan, melainkan juga karena ada yang dipikirkannya. Murni. Sudah sejak sembilan bulan anak sulungnya itu pergi ke Arab, bekerja sebagai TKW. Tapi belum ada sepucuk surat pun yang dikirim sekedar menyampaikan kabar dia baik-baik saja. 
Dihalaunya seekor nyamuk yang menempel di kaki Empin yang nampak teramat lelap. Sejak Murni pergi, tak ada lagi orang yang bisa diajak bicara. Apa saja. Termasuk keluh kesah. Belakangan wajah Murni semakin sering hadir. Rasanya baru saja kemarin malam mereka masih bercakap-cakap. 

             “Saya ingin pergi ke Arab,” Katanya.
             “Kerjaan kamu di pabrik sepatu bagaimana?”
“Penghasilan saya di sana tidak bisa diandalkan untuk mencukupi kebutuhan kita, Mak. Kalau saya kerja di Arab mungkin saya bisa  menghasilkan uang lebih banyak untuk emak dan biaya sekolah adik-adik. Saya juga bisa membayarkan utang kita ke Pak Romli.”
Katanya, bola matanya menari-nari mengikuti gerak api di lampu teplok yang tertiup angin. Suara jengkerik dan kodok nyaring terdengar. Saling bersahutan. Anaking jimat awaking. Hati perempuan itu menjerit. Kalau saja kemiskinan ini tidak menjerat kehidupan, dia tidak akan pernah membiarkan satu-satunya anak perempuannya pergi mencari penghidupan di negeri orang. Anak itu cukup pintar. Ia sebenarnya sangat ingin menyekolahkan Murni setinggi mungkin. Jangan sampai seperti ibu dan bapaknya yang hanya menjadi petani kecil. Hanya saja kesempatan ternyata belum berpihak padanya. Apalagi setelah ayah Murni meninggal, Murni tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan bahwa kini ia menjadi tulang punggung keluarganya. Seminggu sebelum berangkat ia menemani  Murni berkunjung ke rumah Pak Romli.
               “Saya mau berterima kasih. Selama saya bekerta di Jakarta, Pak Romli telah membantu Emak dan adik-adik,” Katanya.
“Itu tidak usah dipikirkan. Sudah kewajiban Bapak membantu keluargamu. Sebentar lagi, ini semua akan menjadi milik Murni. Saya sudah membeli beberapa petak sawah untukmu,” Kata Pak Romli. Semula dia tidak pernah menyadari kebaikan dan bantuan yang selama ini diberikan laki-laki beristri tiga ini ada maksud lain. Dia menginginkan Murni. Ah.
            “Seperti yang saya bilang pada ibumu, Bapak tidak memintamu untuk cepat menerima pinangan bapak. Kalau mau jujur, tentu saja bapak pengen cepat-cepat. Tapi itu tergantung kamu juga,”

            “Saya mau pergi ke Arab dulu, pak.”
            “Ke Arab? Untuk apa ke sana?”
            “Bekerja.”
“Bapak mendengar kabar yang kurang bagus anak-anak kita yang bekerja disana, Ceu Tijah,” Katanya. nada tidak setuju cukup kuat terpancar diwajahnya.
            “Semua saya serahkan kepada Allah. Dia bersikeras untuk berangkat. Keinginannya begitu kuat. Saya tidak bisa menahannya untuk tinggal. Semuanya terserah anak itu, pak.”
“Kalau masalah uang, sebaiknya kamu tidak usah pikirkan. Disini, semua kebutuhan kamu, emakmu dan adik-adik saya cukupi.”
“Saya hanya ingin mencoba pengalaman baru,”
Beberapa hari sebelum keberangkatan Murni, Pak Romli masih mencoba membujuk anaknya itu untuk tetap tinggal.
            “Kalau kamu bersikeras begitu, bapak akan menunggumu di sini.”
Toh, bagi perempuan itu tak ada pilihan yang lebih baik buat Murni: tinggal di desa atau  pergi ke Arab. Mungkin ia lebih memilih pergi ke Arab, karena disana dia jauh dari pak Romli, orang beristri tiga yang berniat untuk menjadikan murni sebagai istri keempat. Ah. Murni tidak pernah mengatakan tidak pada saat Pak Romli meminta Murni padanya. Anak itu begitu santun.
            “Jangan pernah berpikiran emak memaksamu menikah dengan pak Romli, nak. Tidak sama sekali. Emak tidak akan pernah memaksamu. Semuanya terserah kamu,”
Katanya sehari menjelang keberangkatannya. Perempuan itu menatap langit-langit.

*
Emak..
Akhirnya surat yang ditunggu berbulan-bulan muncul juga. Murni disini baik-baik saja. uang ini adalah uang gaji Murni beberapa bulan. Sebagian untuk biaya sekolah adik-adik. Sebagian lagi untuk membayar utang ke Pak Romli. Murni disini sangat senang. Majikan Murni baik sekali.
Perempuan itu berlutut dan bersujud. Bukan karena sejumlah uang yang kini ada di tangannya. Tapi lebih karena rasa syukur Murni dalam keadaan baik-baik. Sejak anak itu pergi, tiada malam terlewati tanpa bersujud ke hadapan Allah, mendoakan keselamatannya. Setelah itu beberapa kali Murni mengirimkan uang. Dia mengatur uang itu sebaik mungkin. Ini adalah uang Murni yang harus digunakan sebaik mungkin. Sebagian ditabung. Sebagian untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagian untuk membayar hutang, terutama hutang ke Pak Romli, sebagaimana pesan Murni. Tapi toh pak Romli tetap menolak menerima uang itu.
“Pakailah untuk keperluan sekolah adik-adik Murni,”
Perempuan itu ragu. Barangkali dulupun Pak Romli bersikap sama terhadap orang tua Nunung, sebelum menjadikannya istri ketiga. Tapi kelihatannya Nunung baik-baik aja. Bahkan tubuhnya semakin subur. Perhiasannya semakin banyak menghiasi leher, telinga, jari dan pergelangan tangannya. Orang-orang sekampung bilang, siapa sih yang tidak mau diperistri Pak Romli, orang kaya dan banyak uang. Meskipun gemar judi.

**
            Minggu depan Murni pulang, mak.
Ini kabar paling membahagiakan yang pernah diterimanya. Dia hampir tidak sabar menunggu kedatangan Murni. Dengan menggunakan mobil Haji Zarkasih dia menjemput Murni di kota kecamatan. Dan itulah, anak itu muncul diantara sekian banyak TKW yang juga pulang kampung.  Keduanya berpelukan tanpa sepatah kata. Murni nampak kurus dibalik jilbab putihnya. Murni begitu kurus. Namun kegembiraan sekaligus kepenatan bersatu padu terpancar diwajahnya.
            “Rasanya lega sudah sampai di rumah…” Kata Murni. Kepenatan yang dipendam berbulan-bulan terpancar disetiap garis wajah Murni, berujung dalam tidur yang lelap. Sangat lelap. Semalaman Sutijah memeluk anak sulungnya itu. Seakan tidak akan pernah lagi melepasnya. Malam-malam tubuh Murni mengigil. Rupanya anak ini terlalu capai. Perjalanan yang begitu lama dan jauh membuatnya masuk angin. Dia membuka baju Murni. Membalurnya tubuhnya dengan minyak angin. Baru beberapa usapan tangan, Murni mengaduh dan berteriak. Sutijah merasakan sesuatu di punggung Murni. Dia mendekatkan lampu teplok ke dekat tubuh Murni yang terus menggigil. Punggungnya berbarut-barut. Legam, sebagian melepuh.
            “Ya, Allah,”
Tubuh Murni masih terus menggigil. (Yeni Ratnakomala)

 ***