Jumat, 15 April 2011

Cerpenku: Pada Suatu Senja

Published by Majalah Wanita Swara Cantika, 2002

Senja bergulir teramat pelan. Seperti enggan meninggalkan sisa siang yang  masih merangkul bumi dengan terik. Seorang perempuan muda duduk tepekur, di salah satu pojok ruang tamu di sebuah rumah besar yang cukup asri. Kerudung yang menutupi sebagian rambutnya jatuh di pundak. Beberapa kali dia bergeser, memberi jalan kepada orang yang keluar masuk. Bisa saja dia bergeser lebih ke dalam agar tidak terganggu lalu lalang orang, tapi toh dia tidak melakukannya. Karena justru dari sini bisa dilihat dengan lebih jelas sosok tubuh yang terbujur kaku di tengah ruangan. Beberapa meter di depannya, hanya terhalang oleh beberapa orang yang duduk di baris depan, seorang perempuan setengah baya berkerudung  hitam, berwajah kuyu, berulang kali mengusap matanya yang sembab. Duka mendalam  tergurat jelas di wajahnya. Dia adalah Aryati.
Seseorang menunjukkan tempat mengambil air wudhu di belakang. Bilasan air wudhu ke seluruh muka, tangan dan kaki mengalirkan kesegaran sekaligus ketenangan. Dengan khusyuk dibacanya surat Yasin. Dia ingin mengantar bapak dengan doa paling tulus. Dia mencoba mencari kekuatan dan ketenangan dengan bacaannya. Ya, Allah, Hanya kepada-Mu lah semua manusia kembali. Berikan bapak jalan yang lapang dan luas pada saat ia datang menghadapMu. Berikan aku kekuatan untuk menerima ini.
            “Maaf, bisa geser sedikit.” 
Tepukan di pundak menghalau khusyu doanya. Dia segera bergeser, memberi ruang kepada orang yang baru datang yang kemudian duduk di sampingnya. Dia kemudian melanjutkan bacaannya. Mencoba merangkul kembali rasa khusyu. Hanya beberapa ayat, karena kemudian tangannya tersikut langkah orang dari arah samping.
“Maaf. Tolong geser,”
Katanya. Barangkali dia salah satu kerabat dekat bapak. Dia nampak hilir mudik dan sibuk mengatur. Setelah itu, beberapa orang yang lain memintanya untuk kembali bergeser
sampai dia menyelesaikan bacaannya. Kini dia betul-betul berada di pojok dekat pintu keluar. Tidak ada lagi ruang yang tersisa bahkan untuk sekedar beringsut.
Karangan bunga terus mengalir. Sebagian besar diletakkan di depan rumah sampai ke luar pagar, sebagian diletakkan di dalam ruangan. Sebagian lagi diletakkan di halaman samping dan belakang. Karangan bunga itu menjadi bukti banyak orang yang merasa kehilangan dan ikut berduka cita atas meninggalnya Bapak.
Di tengah keramaian dan hilir mudik orang yang datang dan pergi, tak ada satu orangpun menyapanya. Tak ada ucapan bela sungkawa atau kata-kata penghiburan. Padahal, sama halnya dengan Aryati, perempuan setengah baya itu, dia juga sangat berduka. Duka itu terasa lebih menyiksa karena dia tidak bisa memperlihatkannya kepada orang lain. Dia memendamnya sendiri. Sekarang ini dia berada di suatu tempat asing dimana tidak ada satu orangpun yang dikenal dan mengenalnya. Inilah dunia Bapak sesungguhnya. Dunia dimana orang-orang mengenal bapak. Dunia yang tidak pernah disentuhnya.
Dia mengenal bapak hampir enam tahun silam. Bapak adalah salah seorang nasabah setia bank di mana dia bekerja. Pekerjaan membuat mereka secara rutin  bertemu. Bapak kerapkali meminta bantuannya untuk melakukan berbagai transaksi keuangan. Dari pertemuan rutin seperti itulah timbul kedekatan di antara mereka. Kedekatannya dengan bapak bagai mengisi kekosongan jiwa tentang kehadiran seorang ayah yang hampir tidak pernah dirasakannya sejak kecil. Dengan bapak, dia bisa bercerita apa saja, termasuk hubungannya dengan Wisnu. Nampaknya demikian juga dengan bapak. Bapak bercerita tentang apa saja. Termasuk tentang keluarganya, terutama Aryati, istrinya. Dari percakapan itulah dia tahu bahwa bapak belum memiliki anak, padahal sudah dua puluh satu tahun usia pernikahannya dengan Aryati. 
Meskipun demikian, dia masih menganggap hubungan ini biasa-biasa saja. Sampai tiba pada suatu malam, pada acara santap malam dengan nasabah yang diadakan kantornya. Bapak mengajaknya menikah. Dia menganggap ini hanya suatu lelucon belaka. 

“Terserah mau bilang apa. Mau dianggap bercanda pun boleh. Tapi jujur, saya serius,”
Dia menangkap keseriusan di mata laki-laki setengah baya itu. Tapi, apakah itu saja bisa dipercaya? Bukankah setiap laki-laki akan melakukan hal yang sama pada saat dia menyatakan keinginan semacam itu? Wisnu juga melakukan hal yang sama pada saat dia mengutarakan niat untuk meminangnya. Toh, hubungan itu berakhir juga. Dia masih menganggap lelucon sampai bapak mengulang ajakannya sewaktu mereka kembali bertemu. Tanpa sengaja. Di sebuah café dekat pantai.
“Lagi-lagi bapak bercanda,”
Mereka berjalan-jalan di pantai. Menikmati malam. Menikmati debur ombak.
“Harus berapa kali bapak mengatakan ini sampai kamu betul-betul percaya bahwa bapak serius. Bapak ingin memiliki anak,”
“Bagaimana mungkin?”
Katanya hampir berteriak. Bapak terdiam cukup lama. Dia menarik napas panjang dan dalam.
“Bapak tahu, kamu masih teramat muda. Bapak teramat menyadari itu. Lagi pula…”
Katanya pelan tanpa menyelesaikan kalimatnya. Bapak lebih memilih menatap laut. Ombak bergemuruh, berpendar dan memecah ke tepi. Menyentuh ujung kaki mereka yang telanjang. Helai-helai rambut putih di pelipis bapak nampak kemilau diterpa cahaya bulan yang jatuh di permukaan laut. Matanya memancarkan kekosongan yang teramat dalam dan hampa. Apakah bapak teramat kesepian?
Segalanya tidak mengalir begitu saja. Bahkan bergolak. Setidaknya pergolakan itu muncul dari dalam batinnya. Begitu hebat. Tidak pernah terlintas dalam benaknya dia akan menikah dengan seorang laki-laki beristri.
Sejak dia menyadari keseriusan bapak, dia berusaha menghindar. Tujuh belas bulan lamanya dia menghindari bapak setiap saat bapak mendatangi kantornya. Dia menyerahkan semua urusan transaksi milik bapak ke Trina. Sekali pun pertemuan itu tidak bisa dihindari, dia berusaha berbicara seperlunya dan tidak memperpanjang percakapan. Sampai pada akhirnya dia menerima tawaran pindah ke kantor cabang di kota lain. Waktu itu dia berpikir beban itu akhirnya selesai juga. Lepas dari bapak. Dia bisa menghindar dari laki-laki yang kesepian itu. Ah, belakangan, setelah menikah, dia baru menyadari betapa teganya memiliki pikiran semacam itu.
Di kota baru ini, dia ingin memulai segalanya dari awal. Tapi ternyata keadaannya tidak demikian. Sejak kepindahannya, kerapkali dia memikirkan bapak. Di antara derai tawa, canda dan senyum, tatapan bapak sesekali nampak kosong dan hampa. Dia menangkap riak-riak kesepian dari balik wajahnya yang tenang. Apakah bapak betul-betul kesepian? Dia berusaha menepis pikiran itu. Dia menenggelamkan diri dengan kesibukan. Dari pagi sampai malam. Sesekali, sepulang kerja, dia menghabiskan waktu di sebuah café dekat kantor, sambil mendengarkan musik. Toh, bayangan bapak terus ada. Semakin mencoba menjauh, justru bayangan laki-laki berpembawaan tenang itu begitu kuat menderanya.  Dia membayangkan saat-saat kebersamaan mereka. Saat mengobrol dan bercanda. Saat mereka berjalan di tepi pantai itu. Lalu saat bapak mengutarakan keinginannya. Ah, kenapa tiba-tiba dia membayangkan saat-saat manis bersama bapak, padahal dia juga memiliki  masa-masa manis itu bersama Wisnu. Lupakan Wisnu, demikian kata hatinya. Barangkali dia sudah memiliki dunia lain yang lebih gemerlap. Meskipun rasa sakit itu masih ada, dia berdoa untuk kebahagiaan Wisnu. Orang bilang, doa yang diberikan untuk orang lain akan memantul kepada orang yang mendoakan.
Dia mencoba menghilangkan bayang-bayang bapak dengan menerima uluran kasih Edo. Sayang, hubungan itu tidak lama. Dia yang memutuskan karena pada akhirnya disadari  Edo hanyalah pelampiasan dari rasa kesepian dan kerinduannya kepada… bapak. Ah, tak henti dia menyalahkan dirinya. Dia egois. Terlalu mementingkan kepentingannya sendiri. Tanpa memikirkan Aryati.
Lantas bapak tiba-tiba muncul di kotanya. Mengunjunginya. Barangkali ini sudah menjadi garis nasib yang harus dijalaninya. Tanpa disadari, selama ini ternyata telah tumbuh rasa sayang itu. Barangkali cinta tidak pernah memilih kepada siapa harus jatuh cinta.
Akhirnya mereka menikah dengan sederhana. Bukan bapak, melainkan dirinya yang menginginkan, perkawinan ini cukup  mereka, dan beberapa keluarga dekat saja yang tahu. Selanjutnya, dia menjalani hari-harinya sebagai istri yang berbahagia. Bapak baik. Bahkan teramat baik dan memanjakan. Meskipun tidak setiap saat bapak bisa berada di sisinya, dia mendapatkan apa yang diimpikan yang tidak didapatkan di masa kecil. Kasih sayang, perhatian tulus dan rasa aman. Hal-hal yang bahkan dia tidak merasakannya pada saat Wisnu masih bersamanya.
Suatu hari, enam bulan setelah pernikahan mereka, bapak mengutarakan niat untuk mengenalkan dia kepada Aryati. Kepada teman-teman dekat bapak. Ini teramat mengejutkan. Dia menolak. Dia sudah cukup merasa nyaman dengan keadaan sekarang. Bagaimanapun status istri muda masih menjadi hal yang dianggap kurang mengenakkan di mata orang-orang. Berulang kali bapak mengutarakan keinginan yang sama.
“Bapak ingin mereka tahu. Tentang kita,”
Berulang kali pula dia menggeleng. Kalau Bapak betul-betul mencintainya, biarkan segalanya berjalan apa adanya seperti sekarang ini. Dia menginginkan ketenangan. Ketenangan buat keluarga Bapak. Ketenangan buat Bapak. Ketenangan buat dirinya. Ketenangan buat orang-orang sekitar yang mengenali Bapak dan dirinya.
“Banyak yang sudah kau korbankan dengan menikahi bapak. Kesempatan, pekerjaan, hubungan sosial yang terbatas,”
katanya suatu malam saat mereka duduk di beranda. Memandang langit. Menikmati bintang-bintang.
“Saya tidak mengorbankan apa-apa. Saya bahagia. Itu yang saya dapatkan sekarang,”
“Saya tidak bisa membohongi hati nurani terus menerus dengan membiarkanmu bersembunyi. Saya tidak bisa lagi membiarkan diri bungkam dan bersembunyi. Kau juga istri saya yang sah, Dini,” 
“Saya tidak meminta atau menuntut apapun. Kalaupun ada permintaan, iarkan keadaan ini seperti adanya sekarang. Saya sudah cukup bahagia dengan apa yang saya peroleh sekarang,”
“Bapak berharap suatu saat pendirianmu berubah. Ini untuk kebaikanmu juga. Untuk kebaikan anak kita kelak.”
Anak? Dia tersenyum. Itu yang belakangan mewarnai alam pikirannya. Anak yang bisa dimilikinya sendiri. Anak yang sudah teramat lama didambakan bapak. Rasanya keinginan itu akan segera terkabul. Dokter menyatakan dirinya positif hamil. Hampir dua bulan usia kandungannya.
Dua hari lagi bapak pulang. Tidak sabar rasanya menunggu saat-saat yang membahagiakan itu. Dia tak sabar melihat reaksi bapak mendengar kehamilannya. Toh, rupanya ada rencana lain yang sudah digariskan buat dirinya dan bapak. Belum sempat kabar itu disampaikan, dia sudah mendapatkan kabar lain. Kabar yang teramat mengejutkan. Bapak terkena serangan jantung. Dalam perjalanan ke rumah sakit, jiwanya tidak tertolong. Kesedihan pekat sewaktu ibu meninggal sembilan tahun yang lalu kembali terulang. 
“Pak Anggoro orang baik. Mudah-mudahan Allah menerima semua amal kebaikannya dan mengampuni segala dosa yang telah dilakukannya selama hidup,” kata pelayat yang duduk tepat di sampingnya. Diam-diam, dia ikut mengamini doa itu. Dia  tidak sempat menyelesaikan surat Yasin di ayat-ayat terakhir karena  seseorang  menepuk pundaknya. 
“Maaf. Tolong beri jalan. Jenazah akan segera diberangkatkan. Hanya keluarga dekat saja yang diijinkan melihat untuk yang terakhir kali,”
Dia berdiri. Memberi ruang kepada orang-orang yang bersiap mengangkat jenazah. Kakinya kini bertumpu di lantai teras.  Hampir menyender ke pilar penghubung beranda dengan jalan kecil menuju taman. Kemudian tanpa dikehendaki, tubuhnya ikut bergeser-geser, mengikuti arus pelayat. Dari dalam sayup-sayup terdengar tangis haru. Tangisan Aryati. Andai saja dia bisa memeluk dan menenangkannya. Dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada, dia bisa memastikan Aryati adalah istri yang baik. Seorang istri yang sebenarnya… telah dihianati. Dan dia berperan besar dalam penghianatan itu.
Keranda jenazah diusung ke luar. Menuju mobil yang sudah disiapkan yang akan membawa bapak ke peristirahatannya yang terakhir. Tiba-tiba ada sesuatu yang mendesak dari dalam dadanya. Menyeruak, menghentak dan mengoyak ulu hati. Kesedihan yang teramat sangat. Kesedihan itu kemudian keluar membentuk kristal-kristal bening yang mulai berjatuhan dari kelopak matanya yang hitam pekat. Sesaat dia mengelus perutnya. Seakan ingin berbagi beban kesedihan yang nyaris rubuh. Dengan sisa tenaga yang masih ada, dia mengangkat dan melambaikan tangan. Senja masih menyisakan panas. Angin berhembus pelan. (Yeni Ratnakomala)
                                                            *         

Download File: 116Kb di sini!

Jumat, 08 April 2011

Cerpenku: Lukisan Inaya

Published by Femina, 2002

Jam menunjuk ke angka enam empat puluh lima menit ketika aku menginjakkan kaki di sebuah hotel berbintang lima di kawasan bisnis paling sibuk di Jakarta. Di lobby seorang front officer menyambutku dengan sapaan hangat. Aku melangkah menuju sayap kiri hotel menyusuri koridor. Musik gending Jawa mengalun lembut di hampir setiap sudut. Dinding koridor berbentuk ukiran kayu, licin  karena plitur, bercerita tentang kisah cinta Ramayana dengan Dewi Shinta. Di sayap lain, ukiran kayu itu berkisah tentang perang Bharata Yudha. Lekukan-lekukan yang begitu njlimet dipahat demikian rapi dan detail menggambarkan suasana perang yang dahsyat dengan ratusan atau barangkali ribuan orang. Suasana dan nuansa budaya yang kental seperti ini tak ayal dijadikan pengelola hotel sebagai  daya tarik  para tamu pengunjung. Tempat yang dijanjikan Inaya ada di sayap kanan lobby utama. Sebuah kafe. Dua orang menyambut dan menunjukkan tempat yang telah aku pesan tiga hari sebelumnya.
Aku sengaja memilih tempat duduk di pojok. Posisi paling enak untuk menebar pandangan dan melihat orang yang keluar masuk. Kupesan secangkir kopi. Kumanjakan diri dengan menghisap satu dua batang rokok. Asap rokok yang menari-nari membentuk gelombang terbang seiring dengan angan-angan pengembaraanku membayangkan Inaya.
Untuk bertemu Inaya, aku melepaskan beberapa event bagus untuk diliput kepada Hardi dan Bagus. Merancang pertemuan dengannya, seakan aku tengah berjudi dengan sesuatu yang abstrak, sesuatu misteri sekaligus harapan tentang apa yang aku dapatkan dari sesosok bernama Inaya. 
Aku mengenal Inaya hampir dua tahun silam, melalui karya-karyanya. Sebuah lukisan seorang perempuan, pada sebuah pameran, menarik perhatianku. Perempuan itu berambut panjang dengan bulan bulat penuh di pangkuan. Dia berada di sebuah padang rumput luas dengan latar belakang langit berpelangi. Di ujung kanan bawah, nyaris tertutup dengan bingkai lukisan tertulis nama: Inaya. Aku membelinya dan menempatkan lukisan itu di dinding kamar.
Pada pameran berikutnya kutemukan lagi lukisan Inaya. Masih tentang perempuan bersama bulan dengan latar belakang langit berpelangi. Kali ini perempuan itu  duduk berselonjor dengan ujung jari-jari kakinya yang kurus, panjang dan semampai menghadap langit. Ada garis keindahan yang muncul begitu kuat dalam setiap lukisan-lukisan Inaya. Barangkali dari tatap mata bulat, hitam dan bening dari perempuan itu. Barangkali dari rambut panjangnya. Barangkali dari lentik jari tangannya yang senantiasa dalam keadaan merengkuh sesuatu. Adakah dia berusaha merengkuh harapan-harapan?
Kujumpai lagi lukisan-lukisan itu pada pameran-pameran berikutnya. Sang tokoh lukisan selalu seorang perempuan, di padang rumput dengan langit berpelangi dan bulan di pangkuan.
Belakangan aku mulai penasaran. Rasa penasaran yang semakin hari semakin kuat menghentak, mengisi rongga dada. Aku mulai mencari tahu tentang Inaya dengan menghubungi beberapa panitia yang pernah menggelar pameran lukisannya. Dari mereka aku hanya mendapatkan nama Inaya. Tidak lebih. Mereka hanya mengatakan si pelukis tidak menginginkan mencantumkan alamat lengkap. Bagiku ini lucu. Misteri itu barangkali sengaja dihadirkan Inaya. Adakah sesuatu hal yang menyebabkan dirinya seperti berada di balik tembok tinggi tempatnya bersembunyi dalam kurun waktu entah berapa lama?
Lalu aku bertemu dengannya pada suatu mimpi di malam panjang dan gelisah. Lukisan Inaya yang terpampang di dinding kamar seakan menjadi hidup. Perempuan itu, aku menamakannya Inaya, sesuai dengan nama pelukisnya, bergerak. Perlahan. Kaki semampainya meniti ujung ranjang tidurku. Tangan lentiknya terangkat di atas kepala, seperti menyangga langit, membentuk gerakan memutar. Layaknya seorang balerina, dia menari. Tubuhnya meliuk, berputar, menghentak. Rambut panjangnya tergerai tanpa jepit atau pengikat rambut ikut bergerak mengikuti liukan dan hentakan tubuhnya. Dia nampak lebih indah dan cantik dari lukisan itu. Kami bercakap. Layaknya teman lama. Pada saat itu, tak kutemukan satu titik kesedihan pun di hampir setiap sudut wajah Inaya. Lalu mengapa di lukisan itu tersirat wajah muram yang samar? Dia seperti memendam sesuatu. Atau barangkali aku terlalu jauh dan keliru menafsirkannya. Lalu malam berganti pagi. Dia pamit pergi.
Sejak itu seringkali aku berharap dia kembali muncul. Namun rupanya dia cukup pelit menampakkan diri. Dia lebih suka bersembunyi di suatu tempat. Entah di mana. Pada saat harapanku mulai pudar, pada saat ujung kesabaran dalam penantian mulai sirna, dia muncul. Menyapaku. Lalu kami kembali bercengkerama. Bercerita. Tentang apa yang aku rasakan. Tentang apa yang dia rasakan. Tentang sebuah dunia tanpa batas. Tentang hening. Tentang sepi yang ramai. Lalu kukatakan, kita memiliki sifat yang sama, Inaya. Kau bermain dengan pelangi dan bulan, di belantara padang rumput yang luas. Sementara aku bermain dengan kamera dan pena di belantara manusia yang asing satu sama lain. Dia hanya tersenyum dan pergi. Meninggalkan percikan cahaya pagi yang silau dari balik gorden jendela kamar. Pagi, ternyata terlalu cepat datang.
“Kau terlalu banyak berkhayal, Niko!” Kata Wisnu, sahabatku saat kukatakan tentang Inaya.
“Kau memimpikan seorang perempuan yang tiada. Kau bergaul dengan banyak Inaya yang real! kau kecewakan beberapa orang yang mencoba mendekati kau. Dan kini jatuh cinta pada perempuan di lukisan itu? Dia tidak lebih dari sebuah benda mati!”
Apapun penjelasanku, Wisnu tetap tidak akan pernah mengerti. Toh, kata-kata Wisnu terus bergelayut di benakku. Jatuh cinta? Beberapa kali aku mengatakan kata-kata itu kepada beberapa gadis dan beberapa kali pula aku mendapatkannya. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, kata-kata itu seperti kehilangan makna.
“Selamat malam,”
Seseorang berpenampilan rapi  entah sudah berapa lama berdiri di depanku. Dia mengenakan blouse longgar berkrah shang-hai berwarna merah muda yang dipadukan dengan celana panjang berwarna gelap. Cocok dengan postur tubuhnya semampai.
“Anda terlalu larut dengan lamunan,”
Dia mengambil tempat duduk di depanku. Sorot matanya tajam. Aku tiba-tiba terjebak dengan harapan yang tanpa disadari kuhadirkan dalam angan-anganku tentang Inaya. Inikah perempuan pelukis itu? Inikah orang yang sekian lama telah mengisi rasa penasaranku? Nun di alam bawah sadar, ada pergolakan. Ada pertentangan. Ada keraguan. Akhirnya bermuara pada suatu keputusan sikap yang muncul hanya dalam hitungan detik sejak kulihat sosok itu, berdiri. Refleks aku berdiri, mengulurkan tangan. Ia menyambut uluran tanganku.
            “Sudah lama menunggu?”
Sapanya. Dalam remang cahaya lampu yang terpantul dari dinding kafe, aku menangkap senyum di ujung bibir. Teramat samar. Nyaris tiada. Ia teramat anggun bahkan untuk melepas senyuman.
            “Tidak terasa untuk menunggu seseorang seperti Anda,”
Permulaan yang hangat bisa menjadi awal dari sebuah percakapan yang menarik. Dan saat ini aku memerlukannya untuk menetralisir suasana hati yang campur aduk.
            “Mmm.. sebelum kita bercakap lebih jauh, sebaiknya pesan sesuatu. Saya sudah memesan kopi, bahkan sudah mau habis. Barangkali saya perlu memesan satu cangkir lagi,”
Kulambaikan tangan, seseorang menghampiri kami, menanyakan apa yang bisa dia bantu.
            “Saya minta teh hangat, tanpa gula. Terima kasih,” Katanya.
            “Saya minta tambah kopi,” Kataku.
Dia mengingatkan aku pada salah seorang  sepupu jauh ibuku yang keturunan keraton. Kami bertemu sesekali. Pada acara keluarga. 
Tiba tiba ponselku berdering. Ada pesan masuk. Selintas kubaca nama di layar. Wisnu. Aku tekan satu tombol memunculkan sebaris kalimat pendek : Sudah bertemu  perempuan impian itu? Ah! Masih sempat-sempatnya kirim SMS padahal anak itu  teramat sibuk dengan launching produk baru ponsel di perusahaan tempat dia bekerja. Aku memang menceritakan rencana pertemuan kami di sini. Pertemuan yang terwujud setelah usaha yang susah payah.
Kualihkan pandanganku dari layar ponsel ke sosok di depanku. Garis-garis sisa kecantikan di masa lalu masih nampak lekat di wajahnya. Dalam beberapa saat kami bercakap tentang beberapa hal. Selama hampir sepuluh menit kami bertemu, aku menangkap kesan dia teramat menjaga sikap dan kata-katanya. Inilah kenyataan, Niko! Batinku berteriak. Inilah pelukis itu. Inilah Inaya. Bukankah ini yang kau inginkan? Bertemu, bertatap muka dan bercakap dengan pelukis perempuan dengan rembulan di pangkuan? Apa yang akan kau lakukan sekarang? Banyak hal, jawab batinku yang lain.
Aku bisa menggali tentang apa saja dari dirinya. Barangkali dia bisa menceritakan tokoh perempuan di lukisan itu. Barangkali saja perempuan di lukisan adalah gambaran dirinya beberapa puluh tahun silam. Atau barangkali anaknya. Atau barangkali perempuan itu bukan siapa-siapa.
            “Kau menyukai  lukisan-lukisan itu?”
Pertanyaan yang cukup lugas dan tegas untuk seorang perempuan seumurnya.
            “Begini…”
Aku menarik napas panjang. Tidak tahu mau memulai dari mana.
            “Betul saya menyukai lukisan-lukisan Sus…, ”
            “Panggil saja Ibu atau tante atau Mbak. Anda lebih pantas menjadi anak sulung, keponakan atau adik bungsu saya,”
Barangkali dia hanya beberapa tahun lebih muda dari ibuku. Saya menarik napas panjang menepis rasa kikuk yang tiba-tiba muncul. Begitu kuat pesona dan keanggunan yang dipancarkan perempuan yang baru aku kenal beberapa menit yang lalu. Ada satu harapan yang lebur dan bermetamorfosa ke dalam bentuk yang lain,  rasa hormat.
            “Karena itulah saya ingin bertemu dan berkenalan Ibu.”
Akhirnya aku memilih memanggilnya Ibu. Karena menurutku itu menunjukkan panggilan respek kepada perempuan seusianya. Kembali kutangkap selintas senyum yang teramat samar.
            “Itu saja?”
Itu saja? Adakah tujuan yang lain? Adakah harapan lain? Adakah keinginan lain? Pertanyaan itu menggema, saling bersahutan menembus lorong-lorong hati. Bagaimana aku bisa mengungkapkan dengan jujur apa yang ada di sini sementara aku sendiri belum mendapatkan jawaban itu?
Pertanyaan sederhana itu tidak bisa kujawab dengan sederhana. Aku mencoba mencari kalimat yang enak untuk memulai. Meskipun pada awalnya meloncat-loncat, toh pada akhirnya cerita itu mengalir dengan sendirinya. Aku bercerita tentang mimpi-mimpi itu. Tentang pertemuan, tentang percakapan, tentang apa yang telah aku alami bersama Inaya, perempuan di lukisan itu, nun di sebuah dunia yang tak kenal musim dan waktu. Aku menutup cerita dengan ungkapan rasa terkesan yang teramat mendalam dengan lukisan-lukisan itu. Kutangkap senyum tersamar di ujung bibir. Setelah semuanya selesai, rasanya beban itu terangkat sudah.
Setelah itu aku meneguk habis kopiku. Dia tidak banyak berkomentar tentang apa yang telah aku ceritakan seperti yang aku harapkan.
Dia hanya berkata,  “Nak Niko. Mari ikut saya,”
Aku menurut. Lalu kami pergi. Menuju suatu tempat. Di perjalanan, dia tidak juga banyak bercakap. Dia lebih banyak berdiam diri dengan melemparkan pandangan ke luar. Ke jalanan yang macet. Ke pohon-pohon hias lampu yang kerlap-kerlip. Meskipun begitu keanggunannya begitu terpancar kuat hampir di semua sikap tubuhnya.
Kami sampai di sebuah rumah besar, asri, teduh dan rimbun dengan pepohonan. Taman yang luas dan terawat rapi dengan beberapa kolam dengan air jernih yang terus mengalir. Cahaya lampu-lampu di pinggir kolam memantulkan kilau cahaya yang menari-nari di atas riak permukaan kolam.
Dari rumah utama, kami keluar melewati beberapa koridor dengan tiang-tiang kayu  berukir dan lampu antik yang bersinar agak temaram di kiri kanannya. Tanaman hias semacam suplir, Philodendron dan begonia dengan daun-daunnya yang cantik berjejer rapi sepanjang koridor.
Lalu kami sampai di sebuah rumah dengan ukuran yang lebih kecil, agak jauh ke belakang rumah utama.  Kami kembali melewati koridor yang nyaman dengan tanaman yang tertata rapi, hampir sama dengan koridor pertama yang kami lalui. Setelah melewati beberapa ruangan, perjalanan kami berhenti di sebuah ruangan. Dia membukakan pintu dan mempersilahkan aku masuk. Aku menyapu sekeliling. Ruangan di dalam cukup luas dengan dinding berwarna putih bersih dan lantai tertutup karpet tebal. Sejuk dengan air conditioner. Ada seperangkat sofa berwarna hijau lumut. Setangkai mawar merah di vas bunga yang ramping yang diletakkan dekat jendela ke arah taman. Ruangan yang sangat nyaman dan menyenangkan. Pandanganku berhenti pada sosok yang nampaknya tengah duduk di karpet terhalang sofa.
            “Sayang! ada seseorang yang ingin bertemu denganmu,”
Dalam hitungan detik kami telah berhadapan dengan seseorang perempuan muda bertubuh semampai. Berbaju putih. Berambut panjang terurai tanpa jepitan atau ikatan rambut. Bermata hitam, bulat, bening. Di hadapannya terbentang sebuah kanvas dengan lukisan perempuan dengan rembulan di pangkuan dengan langit berpelangi. Selintas pandanganku berhenti pada kedua pangkal bahu yang tertutup dengan lengan baju panjang dan menjuntai lesu di kiri-kanan badannya. Pandanganku kemudian turun. Ke atas cawan piring beberapa cat warna yang agak berserakan. Kemudian ke jari-jari kakinya. Di sela ibu jari dan telunjuk kakinya yang lentik, terjepit erat kuas yang siap disapukan ke atas kanvas.
            “Nak Niko, ini Inaya. Puteri saya,”
Mata hitam dan bening itu menatapku. Di tengah suasana hati yang sukar dilukiskan, di tengah rasa keterkejutan yang ada, kulihat Inaya tersenyum manis. Senyum yang pernah aku temukan pada suatu tempat tanpa kenal musim, tanpa batas ruang dan waktu.
(Yeni Ratnakomala)
                                                            *

Cerpenku: Emak

Published by Tabloid Nova, 2010
Suara batuk dari kamar emak terdengar seiring dengan kokok ayam di subuh menjelang pagi. Tak lama  terdengar derit pintu yang dibuka. Setelah itu aku sudah tahu suara apa lagi yang akan datang berikutnya. Krak-krek timba ban bekas yang salah satu ujungnya diberati dengan beberapa gelang logam mengangkut air dari sumur lalu gebyur air jatuh ke bak dan kecipak-kecipuk gayung yang menyiduk air di bak tanda emak mandi. Sekitar sepuluh menit kemudian emak mengaji. Suara emak pelan. Tapi suara itu sudah cukup membangunkan aku dari tidur lelap. Seusai mengaji, emak ke dapur. Menjerang air, mencuci piring dan gelas yang kotor. Setelah itu ia akan mengetuk kamarku. Membangunkan aku untuk segera shalat Subuh.   Suara-suara itu bagai musik pengiring bangun tidur sepanjang hampir dua puluh lima tahun usiaku. Selalu begitu. Setiap hari, minggu, bulan kemudian berganti tahun ke tahun. Tanpa ada perubahan. 
Seperti juga kali ini. Sehabis mengaji emak mengetuk kamarku. Menyuruhku shalat Subuh. Namun kali ini, aku tidak langsung beranjak dari tempat tidur dan mengambil air wudhu. Aku memikirkan sesuatu. Tentang emak. Tentang hari pernikahanku. 
            “Si Abang minggu depan akan datang melamar,” Kataku kemarin siang. Waktu itu emak tengah duduk berselonjor di dekat pintu. Membersihkan beras.  Diluar tukang pecel dengan bakul dipinggang lewat menawarkan dagangannya. Tukang pecel itu setiap hari berkeliling di sekitar perumahan. 
Emak mengambil rokok dengan ujung yang sudah berasap yang tersimpan di pinggiran asbak di sampingnya. Menghisapnya dalam-dalam dan mengeluarkan asap itu dari bibirnya yang menghitam. Aku mengibaskan tangan ke udara menghindari asap yang mengepul. Sudah berulangkali aku meminta emak untuk berhenti merokok karena merokok tidak bagus untuk kesehatan.  Tapi rupanya emak tidak pernah  mendengar.  Setelah beberapa isapan, emak menyimpan rokok itu kembali di pinggiran asbak dan melanjutkan mencari gabah.
“Mak, Si Abang…”  Kataku khawatir ia tidak mendengar apa yang aku katakan tadi.
            “Abang yang mana? Teman laki-lakimu yang mana?” Katanya tanpa mengalihkan matanya dari nampan beras. Ia mengambil satu dua gabah dan memisahkannya ke piring kecil.
            “Temanku yang aku panggil si abang itu hanya satu.” Kataku. Memang ada beberapa teman laki-laki yang biasa datang ke rumah.  Mereka adalah teman-teman kuliahku dan juga teman si abang. Biasa kami berkumpul untuk mengerjakan tugas kuliah atau berdiskusi. 
            “Oo…yang rapi itu? Yang suka nganterin kamu?” Tanya emak.   Aku mengangguk. Reaksi emak seperti yang aku perkirakan. Cuek. Teramat cuek. Kadang-kadang aku kesal dengan kecuekan sikap emak. Padahal untuk mengatakan inipun aku harus mengumpulkan cukup keberanian. Sampai nyaris tidak bisa tidur memikirkan ini.  Emak akan bersikap sama terhadap hal yang sepele atau serius. Bagi emak tidak ada hal yang serius. Segala sesuatunya dianggap sepele. Atau barangkali emak sebetulnya menganggap serius. Tapi keseriusan itu ia sembunyikan jauh di dalam hati.  Emak tidak mau mengungkapkan keseriusan di depan orang lain, termasuk anak-anaknya sendiri. Kata Marni, kakakku paling sulung, sewaktu bapak meninggalpun,  waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengingat saat-saat meninggalnya bapak, emak tidak menangis. Dia hanya bilang, kita harus tabah. Tidak boleh menangis. Sebaliknya kita harus mulai berjuang untuk hidup. Tanpa bapakpun kita bisa hidup, kata emak. Emak membuktikan kata-katanya dengan bekerja keras. Pekerjaan apapun dia lakukan untuk mendapatkan uang. Menjadi tukang cuci, pembantu, jualan di pasar, buruh menjahit, makelar tanah sampai jadi tukang kredit.
Emak melakukan apapun untuk menghidupi anak-anaknya. Sewaktu meninggal, bapak hanya mewariskan dua hal: sepetak tanah yang diatasnya berdiri rumah semi permanen dengan hanya dua kamar yang kini kami tempati, dan enam anak yang memerlukan biaya untuk tumbuh dan sekolah. Tentu saja ini bukan hal yang cukup ringan untuk ditanggung sendiri. Toh emak menjalani kehidupan ini dengan tabah. Ia bekerja keras tanpa  kenal lelah untuk menyekolahkan anak-anaknya. Sungguh ini suatu perjuangan yang sangat berat. Tapi seberat dan sesulit apapun kehidupan yang dijalani, emak tidak pernah menangis. Di depan anak-anaknya, ia tidak pernah menunjukkan kesedihan dan kesusahan hatinya. Kehidupan yang keras telah menempa emak.  Dan ternyata ia mampu melakukannya. Satu demi satu anaknya berhasil menyelesaikan sekolah. Bukan saja sampai tingkat SLTA, melainkan sampai lulus perguruan tinggi. Sampai-sampai lingkungan kami pernah menganugerahi pernghargaan sebagai ibu teladan yang tegar. Dari seorang ibu pencuci baju, telah lahir lima sarjana dan satu calon sarjana. Apa itu tidak hebat. Keempat kakakku sudah bekerja. Aku baru lulus dan adik bungsuku tinggal menunggu sidang skripsi di sebuah perguruan tinggi negeri di Semarang.
Toh setelah anak-anak berhasil, emak tetap tidak berubah. Ia tetap emak. Mandiri dan tidak pernah meminta bantuan anak-anaknya meski sudah berhasil. Ia tetap bekerja dan mendapatkan penghasilan dari  hasil keringatnya sendiri. 
Berulangkali kakak-kakakku yang lebih dulu mandiri menawarkan emak untuk tinggal bersama mereka dengan kehidupan yang lebih nyaman. Emak tetap menggeleng. Ia hanya mengatakan,  “Emak tidak mengharapkan apa-apa. Melihat anak-anak emak mandiri, bisa hidup layak dan tidak lagi tergantung sama orang lain saja sudah cukup membuat emak bahagia. ”
Di depanku emak yang masih terus mencari gabah. Sesekali ia mengusap keringat di pelipis dengan punggung tangannya.

                                                *
           
“Baju ini baru Suri beli. Emak harus pake di pernikahan Suri.” Kataku sambil menyodorkan sepotong kebaya  dan kain ke pangkuannya. Emak hanya memandangku.
            “Untuk apa beli-beli baju segala. Baju emak kan masih ada. Masih enak dipakai. Mending uangnya kamu tabung.”
            “Ini hari pernikahanku. Aku ingin emak berpakaian yang baik dan pantas di hari bersejarahku,” kataku.
Di hari pernikahanku, aku ingin emak berbeda dengan kesehariannya. Berbeda dengan kakak-kakakku yang lain yang tidak begitu menghiraukan apa yang dipakai emak di hari pernikahan mereka. Aku sangat perduli dengan hal ini. Aku tidak ingin tatapan aneh terhadap emak yang kerapkali di lontarkan para besan emak di hari pernikahan anak-anak emak yang lain terjadi juga di hari pernikahanku. Di hari yang bersejarah buat anak-anaknya, mengapa emak berpenampilan seperti itu? Berbaju lusuh tanpa riasan muka. Tanpa sanggul apalagi minyak wangi. Bahkan tanpa sandal. Ia hanya duduk mencangklong di jalanan orang keluar masuk, dengan rokok yang terselip di bibir. Muka emak memang tidak pernah mengenal bedak dan gincu. Sebagaimana kesehariannya, emak hanya mengikat  rambut tipisnya ke belakang membentuk gunung kecil di atas kepala.
Emak meneliti kebaya berwarna merah muda yang sengaja aku bikin ke tukang jahit dekat kantor.
            “Emak mau pakai baju emak sendiri,” Ia masih mencoba menolak. Barangkali kata-kata ini adalah sebentuk ketidak setujuan emak karena aku mulai mengaturnya.
Aku mulai khawatir dan berpikir tentang reaksi Ibu si Abang yang notabene wanita sadar berbusana dengan seabrek kegiatan di seminar tentang berbagai hal yang berhubungan dengan kecantikan, kebugaran dan pengembangan diri. 
            “Ini juga baju emak.”  kataku. 
           “Emak lebih suka memakai baju yang sudah biasa emak pakai. Kalau memakai baju baru, badan emak gatal-gatal. Rasanya nggak nyaman. Nggak enak,” Kata emak.
Ia membuka lemari tanpa kunci yang sudah bolong kena rayap di sana-sini.  Sayang aku belum sempat membelikan emak lemari baru. Aku terlalu sibuk mengurus segala sesuatu menjelang hari pernikahanku.  Emak memilih beberapa baju yang disukainya. Duh!  Bagaimana mungkin emak memakai baju-baju itu?  Semuanya sudah lusuh dan usang. Kakak-kakakku beberapa kali membelikan emak baju baru. Namun baju-baju itu hanya menjadi pajangan di lemari emak. Emak lebih memilih memakai baju yang lama. Aku tidak bisa membayangkan reaksi ibu si Abang, calon mertuaku, melihat besannya berpenampilan seperti itu. 
  Di malam midodareni, aku kembali membujuk emak agar memakai baju seragam dengan calon mertuaku. 
  “Besok emak nggak usah di dapur. Biar emak nemenin Suri sama abang di depan, menerima tamu-tamu. Biar yang lain yang di dapur. Kan ada Bi Iyah, Bi Cacih, mang Karman dan banyak lagi keluarga kita yang lain,”
            “Apa kamu malu kalau emak seperti ini di hari pernikahanmu?”   
            “Bukan begitu mak?” Kataku menyangkal. Sulit untuk mengungkapkan kejujuran tentang hal ini di depan emak.
   “Pernikahan itu kan hanya sekali dalam seumur hidup. Suri ingin penampilan emak lain dari pada emak sehari-hari. Sama seperti Suri. Besok penampilan Suri juga lain dari keseharian Suri. Suri tidak mau ada orang lain merendahkan martabat kita hanya karena kita kurang berpakaian sepantasnya. Emak ngerti maksud Suri kan?”
Emak hanya menatapku datar. Sulit menebak apa yang ada di dalam hatinya.
            “Orang dinilai  bukan dari apa yang dia pakai. Tapi dari hatinya. Penampilan bagus tidak selalu mencerminkan hati yang bagus,”
Aku terdiam. Emak memang benar.

                                                            *

Akhirnya emak memakai kebaya merah muda itu. Aku sungguh senang melihat emak. Rambutnya berkonde. Wajahnya di rias. Meskipun agak canggung dan kikuk, emak duduk dengan anggun mendampingiku. Tanpa baju lusuhnya, tanpa rokok yang terselip di jemarinya. Yang kini ada di jemarinya adalah sebuah kipas kecil yang sengaja kuselipkan di tangan emak. Kaki-kaki kekar dan hitam milik emak kini terbalut selop. Selintas kelihatan cukup. Tapi sebenarnya, kekecilan. Semalam emak susah payah mencobanya. Rupanya emak mau juga menurut. Sewaktu tamu datang mengalir, aku mendengar emak membisikkan sesuatu ke telinga si abang.
“Rasanya emak lega. Sekarang tanggung jawab si Suri ada padamu. Jaga dia baik-baik.”
Setelah itu emak minta ijin ke belakang. Tamu yang terus berdatangan membuat aku sibuk menerima ucapan selamat. Hampir aku lupa bahwa emak belum juga kembali ke depan. Lalu aku meminta ijin abang dan mertua untuk sebentar pergi ke belakang mencari emak. Setelah menanyakan emak ke orang-orang yang juga sibuk hilir mudik mengatur makanan, kutemukan emak di kamar belakang. Ia tengah duduk bersender di pojok kamar yang pengap. Konde dan kebaya merah mudanya sudah lepas. Riasan mukanya sudah hilang.  Kipas kecil yang aku selipkan di tangannya sudah kembali berganti dengan rokok.
            “Emak,” 
Dengan bantuan cahaya lampu sepuluh watt aku menangkap kilatan bening di mata emak. Baru kali ini sepanjang hidup  aku melihat mata hitam emak berkaca-kaca. (Yeni Ratnakomala) 

                                                *
Lihat juga di sini: 

Satu Dasawarsa

Alhamdulillah. Segala puji bagi-Mu ya Allah. Satu dasawarsa telah Kau beri kekuatan bagi kami untuk tetap bisa menjaga bahtera rumah tangga yang telah dibangun dalam keadaan selamat, bahagia dan penuh dengan anugrah nikmat. Satu dasawarsa belumlah cukup bagi kami untuk mampu berlayar tanpa lindungan dan pertolongan-Mu. Semoga Engkau tak bosan memberi kekuatan itu kepada kami untuk tetap dapat menjaga bahtera ini berlayar dengan selamat dan berada di jalan-Mu hingga akhir hayat kelak. Amiiin.

Rabu, 06 April 2011

Wisata: Menonton Gua Ulat Bersinar

Published by Intisari Juni, 1999

Selandia Baru. Negeri kepulauan ini luasnya hanya 265.000 km2. Namun, begitu kaki menjejak di salah satu wilayah Pasifik Selatan ini, hati jadi jatuh cinta dan ingin kembali lagi. Atraksi apa saja yang disajikan negeri ini?

Pesawat SQ 285 dari Singapura mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Auckland, Selandia Baru, pada tanggal 23 Januari 1999, pukul 11.10. Cuaca cerah musim panas menyapa saat kaki menginjak negeri dengan bentang wilayah seluas 265.000 km2 di Pasifik Selatan. Dawson, tuan rumah yang menjemput saya sudah menunggu di bandara.Dalam perjalanan ke rumahnya, Dawson sengaja mengambil jalan memutar agar saya bisa melihat berbagai pemandangan Auckland. Maklum, inilah kunjungan pertama saya ke negeri berpenduduk 3,5 juta jiwa ini.

Setelah beristirahat, keesokan harinya saya diajak istri Dawson ke Clevedon di bagian selatan Auckland. Di sini ada beberapa toko kecil yang menjual cindera mata khas Selandia Baru. Menjelang sore, kami pergi ke Dunia Bawah Laut Kelly Tarltan di Kohimaramara Beach di pusat Kota Auckland. Tempat ini mirip Sea World Jakarta, hanya bedanya, di sini ada pinguinnya.

Kesan pertama kala tiba di Auckland adalah kebersihannya. Hampir dapat dipastikan tidak terdapat secuil pun sampah yang berantakan, baik di perumahan maupun tempat umum. Soalnya, denda sangat besar bagi orang yang sembarangan buang sampah.

Mengenai orangnya, kiwis, demikian mereka menyebut diri, amat ramah dan terbuka, tidak hanya terhadap sesama tetapi juga kepada pendatang. Keramahan ini bisa ditemukan di setiap sudut jalan. Mulai dari penjaga pompa bensin, pelayan toko, peternak, atau sopir taksi. Tepat sekali pengakuan mereka, “Kami ramah karena tinggal di negeri yang sangat indah, bebas polusi, tenang, dan nyaman tanpa hiruk pikuk kendaraan.” Setiap hari Sabtu dan Minggu toko-toko tutup lebih awal. Sebagian besar warga mengisi liburan dengan memancing atau berselancar.

Menuju Rotorua
Setelah menyelesaikan pekerjaan yang cukup menyita waktu, hari Rabu siang, kami berangkat ke Rotorua, sebuah kota turis yang terletak sekitar 250 km ke arah tenggara Auckland. Dengan waktu tempuh sekitar dua jam, kami menikmati pemandangan sepanjang perjalanan menuju ke sana.

Di Rotorua kami mengunjungi taman alam, Rainbow Springs Park. Dengan membayar tiket masuk NZ $ 17 (sekitar Rp 76.500,-) pengunjung bisa menikmati keindahan hutan dengan aneka satwanya. Taman ini dibuka untuk umum pada tahun 1898, dan merupakan tempat favorit bagi para wisatawan yang datang ke Selandia Baru.

Di taman ini pengunjung bisa menikmati kehidupan alam bebas yang dikemas menjadi objek wisata yang menarik. Ada suara cicit burung, binatang hutan, dan suara air mengalir dari sungai kecil. Ada kolam dengan beraneka ragam ikan, termasuk trout, sejenis ikan salmon, ikan berpopulasi terbanyak di perairan Selandia Baru. Ada tuatara, binatang reptil khas Selandia Baru yang pernah hidup selama 300 tahun dan merupakan sisa-sisa peninggalan keluarga dinosaurus yang sudah punah. Selain itu ada pohon kayu khas, Red Wood, sejenis pohon jati dengan batang tubuh berwarna kemerahan.


Setelah berjalan-jalan di hutan, kami menonton Rainbow Farm Show, pertunjukan tentang kegiatan peternakan seperti melatih anjing untuk menggembala domba, proses pemerahan susu, sampai mencukur bulu domba. Yang menarik, pengunjung boleh ikut berpartisipasi. Harga tiket pertunjukan yang diadakan empat kali sehari selama satu jam itu juga NZ $ 17.

Kami menginap di Palm Spring Motel, sebuah motel yang cukup nyaman dengan tarif sekitar Rp 400.000,- semalam. Dengan menginap di sana, kami bisa menikmati jalan-jalan lagi pada keesokan harinya, yakni ke Whakarewarewa Thermal Reserve, sumber air panas alami. Tempat ini menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah kebudayaan Maori. Di sini dapat disaksikan kegiatan hangi, cara masak tradisional Suku Maori. Dengan merebus makanan (daging, kumara – sejenis ubi jalar khas Maori, ikan, kerang, dll.) dalam air panas alami.

Di situ pengunjung juga bisa melihat air panas yang menyembur tinggi ke angkasa, bebatuan yang mengeluarkan asap panas, dan lumpur yang mendidih. Di tempat-tempat tertentu bau belerang cukup menyengat. Banyak terpasang rambu-rambu untuk keselamatan pengunjung. Para pengunjung hanya boleh melewati jalur-jalur yang sudah ditetapkan.
Puas menikmati pemandangan ini, kami menuju Danau Tarawera sekalian makan siang di sebuah kafe yang menghadap ke danau. Terlihat banyak orang berselancar dan menyelam di sana.


Dilarang memotret kiwi
Selain keindahan pantainya, keunikan budaya Suku Maori menjadi salah satu daya tarik pariwisata Selandia Baru. Suku ini telah ribuan tahun menempati wilayah ini. Mereka hidup terpencar di berbagai pulau. Kini populasi mereka sekitar 400.000 orang, lebih dari 10% dari penduduk Selandia Baru secara keseluruhan.


Rotorua adalah salah satu kota di Selandia Baru dengan nuansa Maori yang kental. Di situ dibangun museum Maori yang lengkap. Melalui pertunjukan, para pengunjung diajak menyelami budaya dan falsafah khas Maori. Cerita legenda cinta Hinemoa dan Tutanekai, misalnya, hampir selalu digelar oleh pusat-pusat wisata dan hotel.

Selain budaya dan kerajinan suku Maori, hal lain yang terlintas dalam pikiran setiap pengunjung Selandia Baru adalah kiwi. Burung yang sangat pemalu ini sangat dilindungi dan menjadi simbol Selandia Baru. Ia tidak hidup di tempat lain. Lubang hidungnya terletak di ujung paruh, bukan di pangkal paruh. Ia juga kurang bisa melihat, namun memiliki indera penciuman yang tajam. Kepalanya kecil, kakinya kuat dan berotot, sementara sayapnya hanya sepanjang 30–50 mm.

Meskipun namanya burung, tetapi ia tidak bisa terbang. Maka ia sangat rentan terhadap serangan hewan buas, termasuk anjing dan kucing.
Pengunjung bisa melihat keindahan burung ini di balik kaca di hutan buatan yang cukup luas. Siapa pun yang masuk untuk melihat kiwi harus menahan diri untuk tidak mengambil gambarnya karena di tempat wisata terpampang papan peringatan untuk tidak memotretnya. Di Rainbow Spring Park, pengunjung bisa melihat kiwi. Tetapi jika ingin melihat lingkungan kiwi yang lebih lengkap dan luas, kita perlu bertandang ke Otorohanga, sebuah kota kecil antara Waitomo dan Auckland.

Gua menyala
Waitomo sendiri mempunyai pusat wisata yang disebut Waitomo Glow Worm (Gua Ulat Bersinar). Gua itu ditemukan pertama kali 100 tahun yang lalu oleh seorang Maori bernama Tane Tinorau dan seorang pengelana Inggris bernama Fred Mace.

Untuk menikmati indahnya gua kita harus membayar tiket seharga sekitar Rp 70.000,-. Rasanya seperti memasuki dunia ribuan tahun lalu. Ada stalaktit, stalagmit, dan patung yang terbentuk alami dari tetesan air ke dinding. Pemandangan menakjubkan ini bisa disaksikan di lorong gua gelap sepanjang 250 m. Puncak keindahan terjadi saat pengunjung naik sampan kecil mengikuti lorong gelap dan menikmati dunia ajaib penuh bintang. Itulah glow worm alias ulat bersinar. Langit-langit gua seolah bersinar terang berkat larva insek kecil sejenis nyamuk yang mengeluarkan sinar untuk menarik mangsa.

Di kegelapan, tak ada pengunjung yang bersuara. Semua terpesona memandang keindahan cahaya di atap gua. Sayang, kami tidak diizinkan memotret keindahan di gua. Kalau ingin memiliki foto gua dengan segala keindahan di dalamnya, tersedia kartu pos yang dijajakan di luar gua. Kartu pos itu berbagai ukuran dengan harga yang berkisar antara Rp 3.600,- dan Rp 27.000,-.

Sore hari, kami kembali ke Auckland. Tanpa terasa hari bergulir begitu cepat. Tibalah hari terakhir saya berada di Negeri Kiwi ini. Pada saat makan malam terakhir, keluarga Dawson menyediakan makanan kesukaan saya, mussels alias remis! Sabtu malam 30 Januari 1999 mereka mengantar saya ke Bandara Auckland. Tepat pukul 00.00 waktu setempat, pesawat Air New Zealand terbang membawa saya ke Singapura. Lalu, dengan pesawat sore pada keesokan harinya saya melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.

Saya rekam ulang semua hal tentang Selandia Baru. Dengan keindahannya, negeri kecil ini akan membuat orang selalu tertarik untuk kembali mengunjunginya! 

Cerpenku: Pada Suatu Siang

Published by Majalah Femina & Pemenang Penghargaan Lomba Penulisan Cerpen Femina 2000.

Selama bertahun-tahun lelaki tua itu rutin menghadiri acara wisuda, dan berharap putri kebanggaannya ada di antara para wisudawan itu

Angin berhembus semilir.  Helai-helai rambut putih di pelipis laki-laki setengah baya itu ikut berkibar. Suara istrinya masih terngiang di telinga.
      
          “Sudahlah, pak. Tidak usah pergi,”
Kata-kata istrinya itu terus berulang dari waktu ke waktu. Memang tidak persis sama. Selalu ada tambahan: “Bapak kan baru sembuh dari sakit.” “Bapak kan masih cape.” Dan seribu macam alasan yang menyiratkan  kekhawatiran seorang istri. Dia tetap saja pergi. Tidak ada alasan untuk tidak pergi.


Dia menghirup napas panjang dan dalam. Menapaki jalan kecil berbatu selebar satu meter yang tumbuh pohon-pohon akasia. Hijau, rimbun dan teduh. Daun-daun kering lebih banyak berserakan. Apalagi di musim kemarau seperti sekarang. Beberapa meter dari jalan kecil itu, ada danau dengan air jernih dengan ikan berseliweran di dalamnya. Air itu tidak pernah surut meski musim kemarau tiba. Danau itu di kelilingi taman rumput yang luas. Beberapa orang duduk menyebar di pinggir danau, memancing. Mereka adalah penduduk setempat yang tinggal tidak jauh dari kompleks kampus ini. Agak ke tengah, di hamparan rumput, beberapa kelompok mahasiswa berdiskusi. Ada juga beberapa orang tengah membaca, sendirian. Ada dua bangunan yang menjadi simbol kemegahan kampus ini. Balairung dan rektorat.  Kedua bangunan itu dihubungkan oleh koridor selebar empat meter dengan tanaman hias di pot besar di pinggir-pinggirnya. Saat siang terik, area ini cukup nyaman dijadikan tempat berteduh dan berleha-leha sambil menikmati semilir angin.


Musik orkestra mengalun dari dalam gedung mengiringi paduan suara menyanyikan lagu-lagu. Tentang dunia akademika. Tentang tanah air. Tentang pahlawan. Laki-laki itu mengambil tempat duduk di sayap kanan balairung. Hampir terhalang oleh pilar-pilar penyangga gedung yang kokoh.
          “Mari duduk lebih kesini, pak. Biar lebih kelihatan,”
Seorang laki-laki disampingnya menyapa sambil menggeser kursinya.
          “Terima kasih. Dari sini juga kelihatan,” Dia memang sengaja mengambil tempat duduk agak terpisah. Dari balik pilar kokoh itu dia bisa memandang Rena yang berjalan ke panggung kehormatan dengan leluasa. Diiringi musik. Para guru besar yang duduk berjejer memberi Rena ucapan  selamat.
          “Yang maju ke panggung itu anak saya,”
Katanya berbisik. Kata-kata itu sudah dia rancang bahkan sejak beberapa tahun lalu. Rasanya baru kemarin Rena berjingkrak kegirangan sewaktu mendapatkan namanya tercantum di koran. Laki-laki itu, berdua istrinya, langsung bersujud. Prestasi Rena sejak di sekolah dasar kelas satu seperti rangkaian anugerah yang terus mengalir tiada habisnya. Rena adalah malaikat kecil yang tidak berhenti membuat mereka bangga. Rena adalah  bintang kejora yang terus bersinar dan tidak pernah putus memberi mereka kebahagiaan. Sewaktu mengantar Rena mendaftar ulang ke tempat ini, hati kecilnya berbisik, ‘lima tahun lagi aku datang ke sini. Sebagai orangtua yang berbahagia’.


Sepasang suami istri, istri berkebaya dan suami berjas lengkap, duduk di depannya begitu khusyuk mengikuti acara ini. Sesekali si istri berbisik. Sepasang lagi duduk di samping kirinya. Wajah mereka berbinar bahagia.             
          “Menghadiri wisuda anak?” Dia menoleh. Berharap pertanyaan itu tidak tertuju kepadanya. Dia datang ke sini tidak untuk bercakap-cakap. Bahkan dia ingin menghindari percakapan. Laki-laki yang tadi mengajaknya menggeser tempat duduk tengah tersenyum kepadanya. Dia tergugup.
          “Eh…Eh.. Iya,”
          “Dari fakultas mana?” 
Dia semakin tergugup. Tidak menyangka pertanyaan-pertanyaan ini datang beruntun. Dia tidak akan pernah siap menerima berbagai pertanyaan.
          “Mm….Ekonomi,”  
          “Anak saya fakultas teknik.”
Katanya. Kalimat yang meluncur dari mulut dan pancaran wajahnya mengekspresikan hal yang sama:  kebahagiaan.
          “Baru pertama kali menghadiri wisuda di sini?”
          “Tidak,” Jawabnya pendek. “Beberapa kali,” Lanjutnya.  Berharap ini jawaban terakhir dan memuaskan teman barunya.
            “Wah, hebat! Punya anak-anak pintar dan berprestasi. Ngomong-ngomong anaknya berapa, pak?”
            “Satu,” Katanya pelan.
            “Kok sering ke sini?”
Dia tergagap. Laki-laki kenalan barunya ini tidak salah. Barangkali dia yang salah mengambil tempat duduk.
            “Mm… Ada... ada beberapa keponakan yang juga kuliah di sini,”
Entah dari mana dia mendapatkan jawaban seperti itu.
            “O. “ O, bulat dari mulutnya tanda dia mulai mengerti. “Sayang anak saya cuma satu. Jadi saya hanya bisa datang kesini sekali saja dalam seumur hidup saya. Tapi sungguh saya sangat bersyukur dan bahagia,”
Kenalan barunya itu kemudian asyik bercerita tentang kebahagiaannya.
            “Saya baru pertama ke sini. Luas sekali kompleks kampus ini. Tadi saya hampir nyasar di gerbang depan sana. Untung saja ada adik-adik mahasiswa berseragam tentara memberi tahu arah kesini. Saya bangga bisa datang kesini. Rasanya tidak sia-sia pengorbanan saya dan ibunya.”


Dari balik pilar, di depan panggung, Rena melambaikan tangan. Dia nampak cantik dengan  baju wisuda dan toga yang dikenakannya. 


Masa beberapa tahun ke belakang seakan kembali berputar ulang. Semula segala sesuatu berjalan baik-baik saja. Sampai muncul laki-laki itu. Rena mengenalnya entah di mana. Laki-laki yang sampai sekarang dia tidak pernah ingin menyebut namanya. Dia tidak pernah melihat satu kelebihan apapun dari laki-laki itu. Sayang Rena  sudah terlanjur terpesona. Dia memujanya setinggi langit. Berbagai cara dia lakukan untuk mencegah berlanjutnya hubungan ini. Rena  memiliki masa depan yang terlalu berharga untuk ditinggalkan. Sayang Rena mengambil keputusan lain. Laki-laki itu menangis disaat saat hampir semua orang tua tertawa bahagia. Dia seperti dihempaskan ke dalam sebuah jurang yang paling dalam. Gelap. Curam. Pada saat berteriak, dia hanya mendengar gema suaranya sendiri.
Sejak itu suasana rumah berubah. Muram. Sejak itu tidak ada malam yang tidak dilaluinya tanpa bersujud sambil menangis. Memohon ampun atas segala kesalahan yang pernah dilakukannya.  Barangkali dia telah melakukan banyak kekhilafan. Barangkali dia terlalu berbangga.  Dalam hari-hari redup yang dilaluinya, ribuan kali  dia mencoba menemukan jawaban  pada sisi mana  kesalahan telah dia lakukan. Sama seperti dirinya, istrinya yang lebih banyak diam dan sabar nampak semakin tua dari hari ke hari.


Iringan orkestra sudah selesai. Para wisudawan berbaur dengan sanak keluarga. Di berbagai sudut mereka sibuk berpotret.  Blitz kamera masih terus berkilat. Seorang perempuan muda menggelendot manja di bahu tunangannya yang berpakaian wisuda. Seorang ibu sibuk mengelap keringat anaknya yang berpakaian wisuda sebelum diambil foto. Seorang bapak merapikan jas sambil memeluk puterinya. Mereka bercengkerama dan tertawa. Dia melengos. Sudah berabad-abad dia tidak pernah lagi bercengkerama dengan Rena. Jarak di antara mereka sudah terbentang. Teramat jauh. Suatu malam  dia pernah bermimpi membunuh laki-laki itu. Pisau di tangannya menghunjam tepat di jantungnya. Darah mengalir di mana-mana. Rena menjerit. Terus menjerit. Sampai dia terbangun dengan keringat dingin membanjir.
      
          “Belum ketemu anaknya?” Laki-laki yang tadi duduk di sampingnya menyapanya. Di sampingnya seorang gadis muda berkebaya tersenyum. Sebaya Rena. 
          “Be… belum. Mungkin di sayap sebelah kiri gedung ini. Mari pak, saya pamit dulu,” 
          “Monggo. Saya juga masih mencari ibunya,” Katanya sambil  tersenyum. Mereka bergandengan tangan berbaur dengan kerumunan orang-orang yang berlalu lalang. 
Laki-laki itu berdiri. Tiba saatnya untuk pergi. Acara wisuda mendatang, dia akan kembali datang. Menyaksikan Rena mengenakan kebaya dengan toga. Rena akan melambai di panggung ke arahnya. Saat itu dia akan  berteriak lantang.  
          “Lulusan berprestasi itu adalah anakku!” Kata-kata itu sudah cukup mengental di mulutnya. Dia ingin segera mengucapkannya. Semilir angin berhembus di siang yang terik saat laki-laki itu beranjak meninggalkan tempat itu.


Sampai di rumah, teriakan manja Mimi, cucu yang tidak pernah diharapkannya,  menyambutnya.
          “Mimi. kakek masih cape. Main sama mama aja, ya sayang!”
Baginya, itu bukan suara Rena. Itu suara orang lain. Baginya Rena adalah malaikat kecil kebanggaan keluarga yang akan berkebaya dan menggandeng tangannya di saat wisuda. Entah kapan. (Yeni Ratnakomala)