Published by Majalah Wanita Swara Cantika, 2002
Senja bergulir teramat pelan. Seperti enggan meninggalkan sisa siang yang masih merangkul bumi dengan terik. Seorang perempuan muda duduk tepekur, di salah satu pojok ruang tamu di sebuah rumah besar yang cukup asri. Kerudung yang menutupi sebagian rambutnya jatuh di pundak. Beberapa kali dia bergeser, memberi jalan kepada orang yang keluar masuk. Bisa saja dia bergeser lebih ke dalam agar tidak terganggu lalu lalang orang, tapi toh dia tidak melakukannya. Karena justru dari sini bisa dilihat dengan lebih jelas sosok tubuh yang terbujur kaku di tengah ruangan. Beberapa meter di depannya, hanya terhalang oleh beberapa orang yang duduk di baris depan, seorang perempuan setengah baya berkerudung hitam, berwajah kuyu, berulang kali mengusap matanya yang sembab. Duka mendalam tergurat jelas di wajahnya. Dia adalah Aryati. Seseorang menunjukkan tempat mengambil air wudhu di belakang. Bilasan air wudhu ke seluruh muka, tangan dan kaki mengalirkan kesegaran sekaligus ketenangan. Dengan khusyuk dibacanya surat Yasin. Dia ingin mengantar bapak dengan doa paling tulus. Dia mencoba mencari kekuatan dan ketenangan dengan bacaannya. Ya, Allah, Hanya kepada-Mu lah semua manusia kembali. Berikan bapak jalan yang lapang dan luas pada saat ia datang menghadapMu. Berikan aku kekuatan untuk menerima ini.
“Maaf, bisa geser sedikit.”
“Maaf, bisa geser sedikit.”
Tepukan di pundak menghalau khusyu doanya. Dia segera bergeser, memberi ruang kepada orang yang baru datang yang kemudian duduk di sampingnya. Dia kemudian melanjutkan bacaannya. Mencoba merangkul kembali rasa khusyu. Hanya beberapa ayat, karena kemudian tangannya tersikut langkah orang dari arah samping.
“Maaf. Tolong geser,”
Katanya. Barangkali dia salah satu kerabat dekat bapak. Dia nampak hilir mudik dan sibuk mengatur. Setelah itu, beberapa orang yang lain memintanya untuk kembali bergeser
sampai dia menyelesaikan bacaannya. Kini dia betul-betul berada di pojok dekat pintu keluar. Tidak ada lagi ruang yang tersisa bahkan untuk sekedar beringsut.
Karangan bunga terus mengalir. Sebagian besar diletakkan di depan rumah sampai ke luar pagar, sebagian diletakkan di dalam ruangan. Sebagian lagi diletakkan di halaman samping dan belakang. Karangan bunga itu menjadi bukti banyak orang yang merasa kehilangan dan ikut berduka cita atas meninggalnya Bapak.
Di tengah keramaian dan hilir mudik orang yang datang dan pergi, tak ada satu orangpun menyapanya. Tak ada ucapan bela sungkawa atau kata-kata penghiburan. Padahal, sama halnya dengan Aryati, perempuan setengah baya itu, dia juga sangat berduka. Duka itu terasa lebih menyiksa karena dia tidak bisa memperlihatkannya kepada orang lain. Dia memendamnya sendiri. Sekarang ini dia berada di suatu tempat asing dimana tidak ada satu orangpun yang dikenal dan mengenalnya. Inilah dunia Bapak sesungguhnya. Dunia dimana orang-orang mengenal bapak. Dunia yang tidak pernah disentuhnya.
Dia mengenal bapak hampir enam tahun silam. Bapak adalah salah seorang nasabah setia bank di mana dia bekerja. Pekerjaan membuat mereka secara rutin bertemu. Bapak kerapkali meminta bantuannya untuk melakukan berbagai transaksi keuangan. Dari pertemuan rutin seperti itulah timbul kedekatan di antara mereka. Kedekatannya dengan bapak bagai mengisi kekosongan jiwa tentang kehadiran seorang ayah yang hampir tidak pernah dirasakannya sejak kecil. Dengan bapak, dia bisa bercerita apa saja, termasuk hubungannya dengan Wisnu. Nampaknya demikian juga dengan bapak. Bapak bercerita tentang apa saja. Termasuk tentang keluarganya, terutama Aryati, istrinya. Dari percakapan itulah dia tahu bahwa bapak belum memiliki anak, padahal sudah dua puluh satu tahun usia pernikahannya dengan Aryati.
Meskipun demikian, dia masih menganggap hubungan ini biasa-biasa saja. Sampai tiba pada suatu malam, pada acara santap malam dengan nasabah yang diadakan kantornya. Bapak mengajaknya menikah. Dia menganggap ini hanya suatu lelucon belaka.
*
“Terserah mau bilang apa. Mau dianggap bercanda pun boleh. Tapi jujur, saya serius,”
Dia menangkap keseriusan di mata laki-laki setengah baya itu. Tapi, apakah itu saja bisa dipercaya? Bukankah setiap laki-laki akan melakukan hal yang sama pada saat dia menyatakan keinginan semacam itu? Wisnu juga melakukan hal yang sama pada saat dia mengutarakan niat untuk meminangnya. Toh, hubungan itu berakhir juga. Dia masih menganggap lelucon sampai bapak mengulang ajakannya sewaktu mereka kembali bertemu. Tanpa sengaja. Di sebuah café dekat pantai.
“Lagi-lagi bapak bercanda,”
Mereka berjalan-jalan di pantai. Menikmati malam. Menikmati debur ombak.
“Harus berapa kali bapak mengatakan ini sampai kamu betul-betul percaya bahwa bapak serius. Bapak ingin memiliki anak,”
“Bagaimana mungkin?”
Katanya hampir berteriak. Bapak terdiam cukup lama. Dia menarik napas panjang dan dalam.
“Bapak tahu, kamu masih teramat muda. Bapak teramat menyadari itu. Lagi pula…”
Katanya pelan tanpa menyelesaikan kalimatnya. Bapak lebih memilih menatap laut. Ombak bergemuruh, berpendar dan memecah ke tepi. Menyentuh ujung kaki mereka yang telanjang. Helai-helai rambut putih di pelipis bapak nampak kemilau diterpa cahaya bulan yang jatuh di permukaan laut. Matanya memancarkan kekosongan yang teramat dalam dan hampa. Apakah bapak teramat kesepian?
Segalanya tidak mengalir begitu saja. Bahkan bergolak. Setidaknya pergolakan itu muncul dari dalam batinnya. Begitu hebat. Tidak pernah terlintas dalam benaknya dia akan menikah dengan seorang laki-laki beristri.
Sejak dia menyadari keseriusan bapak, dia berusaha menghindar. Tujuh belas bulan lamanya dia menghindari bapak setiap saat bapak mendatangi kantornya. Dia menyerahkan semua urusan transaksi milik bapak ke Trina. Sekali pun pertemuan itu tidak bisa dihindari, dia berusaha berbicara seperlunya dan tidak memperpanjang percakapan. Sampai pada akhirnya dia menerima tawaran pindah ke kantor cabang di kota lain. Waktu itu dia berpikir beban itu akhirnya selesai juga. Lepas dari bapak. Dia bisa menghindar dari laki-laki yang kesepian itu. Ah, belakangan, setelah menikah, dia baru menyadari betapa teganya memiliki pikiran semacam itu.
Di kota baru ini, dia ingin memulai segalanya dari awal. Tapi ternyata keadaannya tidak demikian. Sejak kepindahannya, kerapkali dia memikirkan bapak. Di antara derai tawa, canda dan senyum, tatapan bapak sesekali nampak kosong dan hampa. Dia menangkap riak-riak kesepian dari balik wajahnya yang tenang. Apakah bapak betul-betul kesepian? Dia berusaha menepis pikiran itu. Dia menenggelamkan diri dengan kesibukan. Dari pagi sampai malam. Sesekali, sepulang kerja, dia menghabiskan waktu di sebuah café dekat kantor, sambil mendengarkan musik. Toh, bayangan bapak terus ada. Semakin mencoba menjauh, justru bayangan laki-laki berpembawaan tenang itu begitu kuat menderanya. Dia membayangkan saat-saat kebersamaan mereka. Saat mengobrol dan bercanda. Saat mereka berjalan di tepi pantai itu. Lalu saat bapak mengutarakan keinginannya. Ah, kenapa tiba-tiba dia membayangkan saat-saat manis bersama bapak, padahal dia juga memiliki masa-masa manis itu bersama Wisnu. Lupakan Wisnu, demikian kata hatinya. Barangkali dia sudah memiliki dunia lain yang lebih gemerlap. Meskipun rasa sakit itu masih ada, dia berdoa untuk kebahagiaan Wisnu. Orang bilang, doa yang diberikan untuk orang lain akan memantul kepada orang yang mendoakan.
Dia mencoba menghilangkan bayang-bayang bapak dengan menerima uluran kasih Edo. Sayang, hubungan itu tidak lama. Dia yang memutuskan karena pada akhirnya disadari Edo hanyalah pelampiasan dari rasa kesepian dan kerinduannya kepada… bapak. Ah, tak henti dia menyalahkan dirinya. Dia egois. Terlalu mementingkan kepentingannya sendiri. Tanpa memikirkan Aryati.
Lantas bapak tiba-tiba muncul di kotanya. Mengunjunginya. Barangkali ini sudah menjadi garis nasib yang harus dijalaninya. Tanpa disadari, selama ini ternyata telah tumbuh rasa sayang itu. Barangkali cinta tidak pernah memilih kepada siapa harus jatuh cinta.
Akhirnya mereka menikah dengan sederhana. Bukan bapak, melainkan dirinya yang menginginkan, perkawinan ini cukup mereka, dan beberapa keluarga dekat saja yang tahu. Selanjutnya, dia menjalani hari-harinya sebagai istri yang berbahagia. Bapak baik. Bahkan teramat baik dan memanjakan. Meskipun tidak setiap saat bapak bisa berada di sisinya, dia mendapatkan apa yang diimpikan yang tidak didapatkan di masa kecil. Kasih sayang, perhatian tulus dan rasa aman. Hal-hal yang bahkan dia tidak merasakannya pada saat Wisnu masih bersamanya.
Suatu hari, enam bulan setelah pernikahan mereka, bapak mengutarakan niat untuk mengenalkan dia kepada Aryati. Kepada teman-teman dekat bapak. Ini teramat mengejutkan. Dia menolak. Dia sudah cukup merasa nyaman dengan keadaan sekarang. Bagaimanapun status istri muda masih menjadi hal yang dianggap kurang mengenakkan di mata orang-orang. Berulang kali bapak mengutarakan keinginan yang sama.
“Bapak ingin mereka tahu. Tentang kita,”
Berulang kali pula dia menggeleng. Kalau Bapak betul-betul mencintainya, biarkan segalanya berjalan apa adanya seperti sekarang ini. Dia menginginkan ketenangan. Ketenangan buat keluarga Bapak. Ketenangan buat Bapak. Ketenangan buat dirinya. Ketenangan buat orang-orang sekitar yang mengenali Bapak dan dirinya.
“Banyak yang sudah kau korbankan dengan menikahi bapak. Kesempatan, pekerjaan, hubungan sosial yang terbatas,”
katanya suatu malam saat mereka duduk di beranda. Memandang langit. Menikmati bintang-bintang.
“Saya tidak mengorbankan apa-apa. Saya bahagia. Itu yang saya dapatkan sekarang,”
“Saya tidak bisa membohongi hati nurani terus menerus dengan membiarkanmu bersembunyi. Saya tidak bisa lagi membiarkan diri bungkam dan bersembunyi. Kau juga istri saya yang sah, Dini,”
“Saya tidak meminta atau menuntut apapun. Kalaupun ada permintaan, iarkan keadaan ini seperti adanya sekarang. Saya sudah cukup bahagia dengan apa yang saya peroleh sekarang,”
“Bapak berharap suatu saat pendirianmu berubah. Ini untuk kebaikanmu juga. Untuk kebaikan anak kita kelak.”
Anak? Dia tersenyum. Itu yang belakangan mewarnai alam pikirannya. Anak yang bisa dimilikinya sendiri. Anak yang sudah teramat lama didambakan bapak. Rasanya keinginan itu akan segera terkabul. Dokter menyatakan dirinya positif hamil. Hampir dua bulan usia kandungannya.
Dua hari lagi bapak pulang. Tidak sabar rasanya menunggu saat-saat yang membahagiakan itu. Dia tak sabar melihat reaksi bapak mendengar kehamilannya. Toh, rupanya ada rencana lain yang sudah digariskan buat dirinya dan bapak. Belum sempat kabar itu disampaikan, dia sudah mendapatkan kabar lain. Kabar yang teramat mengejutkan. Bapak terkena serangan jantung. Dalam perjalanan ke rumah sakit, jiwanya tidak tertolong. Kesedihan pekat sewaktu ibu meninggal sembilan tahun yang lalu kembali terulang.
“Pak Anggoro orang baik. Mudah-mudahan Allah menerima semua amal kebaikannya dan mengampuni segala dosa yang telah dilakukannya selama hidup,” kata pelayat yang duduk tepat di sampingnya. Diam-diam, dia ikut mengamini doa itu. Dia tidak sempat menyelesaikan surat Yasin di ayat-ayat terakhir karena seseorang menepuk pundaknya.
“Maaf. Tolong beri jalan. Jenazah akan segera diberangkatkan. Hanya keluarga dekat saja yang diijinkan melihat untuk yang terakhir kali,”
Dia berdiri. Memberi ruang kepada orang-orang yang bersiap mengangkat jenazah. Kakinya kini bertumpu di lantai teras. Hampir menyender ke pilar penghubung beranda dengan jalan kecil menuju taman. Kemudian tanpa dikehendaki, tubuhnya ikut bergeser-geser, mengikuti arus pelayat. Dari dalam sayup-sayup terdengar tangis haru. Tangisan Aryati. Andai saja dia bisa memeluk dan menenangkannya. Dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada, dia bisa memastikan Aryati adalah istri yang baik. Seorang istri yang sebenarnya… telah dihianati. Dan dia berperan besar dalam penghianatan itu.
Keranda jenazah diusung ke luar. Menuju mobil yang sudah disiapkan yang akan membawa bapak ke peristirahatannya yang terakhir. Tiba-tiba ada sesuatu yang mendesak dari dalam dadanya. Menyeruak, menghentak dan mengoyak ulu hati. Kesedihan yang teramat sangat. Kesedihan itu kemudian keluar membentuk kristal-kristal bening yang mulai berjatuhan dari kelopak matanya yang hitam pekat. Sesaat dia mengelus perutnya. Seakan ingin berbagi beban kesedihan yang nyaris rubuh. Dengan sisa tenaga yang masih ada, dia mengangkat dan melambaikan tangan. Senja masih menyisakan panas. Angin berhembus pelan. (Yeni Ratnakomala)*
Download File: 116Kb di sini!



















