Jumat, 08 April 2011

Cerpenku: Lukisan Inaya

Published by Femina, 2002

Jam menunjuk ke angka enam empat puluh lima menit ketika aku menginjakkan kaki di sebuah hotel berbintang lima di kawasan bisnis paling sibuk di Jakarta. Di lobby seorang front officer menyambutku dengan sapaan hangat. Aku melangkah menuju sayap kiri hotel menyusuri koridor. Musik gending Jawa mengalun lembut di hampir setiap sudut. Dinding koridor berbentuk ukiran kayu, licin  karena plitur, bercerita tentang kisah cinta Ramayana dengan Dewi Shinta. Di sayap lain, ukiran kayu itu berkisah tentang perang Bharata Yudha. Lekukan-lekukan yang begitu njlimet dipahat demikian rapi dan detail menggambarkan suasana perang yang dahsyat dengan ratusan atau barangkali ribuan orang. Suasana dan nuansa budaya yang kental seperti ini tak ayal dijadikan pengelola hotel sebagai  daya tarik  para tamu pengunjung. Tempat yang dijanjikan Inaya ada di sayap kanan lobby utama. Sebuah kafe. Dua orang menyambut dan menunjukkan tempat yang telah aku pesan tiga hari sebelumnya.
Aku sengaja memilih tempat duduk di pojok. Posisi paling enak untuk menebar pandangan dan melihat orang yang keluar masuk. Kupesan secangkir kopi. Kumanjakan diri dengan menghisap satu dua batang rokok. Asap rokok yang menari-nari membentuk gelombang terbang seiring dengan angan-angan pengembaraanku membayangkan Inaya.
Untuk bertemu Inaya, aku melepaskan beberapa event bagus untuk diliput kepada Hardi dan Bagus. Merancang pertemuan dengannya, seakan aku tengah berjudi dengan sesuatu yang abstrak, sesuatu misteri sekaligus harapan tentang apa yang aku dapatkan dari sesosok bernama Inaya. 
Aku mengenal Inaya hampir dua tahun silam, melalui karya-karyanya. Sebuah lukisan seorang perempuan, pada sebuah pameran, menarik perhatianku. Perempuan itu berambut panjang dengan bulan bulat penuh di pangkuan. Dia berada di sebuah padang rumput luas dengan latar belakang langit berpelangi. Di ujung kanan bawah, nyaris tertutup dengan bingkai lukisan tertulis nama: Inaya. Aku membelinya dan menempatkan lukisan itu di dinding kamar.
Pada pameran berikutnya kutemukan lagi lukisan Inaya. Masih tentang perempuan bersama bulan dengan latar belakang langit berpelangi. Kali ini perempuan itu  duduk berselonjor dengan ujung jari-jari kakinya yang kurus, panjang dan semampai menghadap langit. Ada garis keindahan yang muncul begitu kuat dalam setiap lukisan-lukisan Inaya. Barangkali dari tatap mata bulat, hitam dan bening dari perempuan itu. Barangkali dari rambut panjangnya. Barangkali dari lentik jari tangannya yang senantiasa dalam keadaan merengkuh sesuatu. Adakah dia berusaha merengkuh harapan-harapan?
Kujumpai lagi lukisan-lukisan itu pada pameran-pameran berikutnya. Sang tokoh lukisan selalu seorang perempuan, di padang rumput dengan langit berpelangi dan bulan di pangkuan.
Belakangan aku mulai penasaran. Rasa penasaran yang semakin hari semakin kuat menghentak, mengisi rongga dada. Aku mulai mencari tahu tentang Inaya dengan menghubungi beberapa panitia yang pernah menggelar pameran lukisannya. Dari mereka aku hanya mendapatkan nama Inaya. Tidak lebih. Mereka hanya mengatakan si pelukis tidak menginginkan mencantumkan alamat lengkap. Bagiku ini lucu. Misteri itu barangkali sengaja dihadirkan Inaya. Adakah sesuatu hal yang menyebabkan dirinya seperti berada di balik tembok tinggi tempatnya bersembunyi dalam kurun waktu entah berapa lama?
Lalu aku bertemu dengannya pada suatu mimpi di malam panjang dan gelisah. Lukisan Inaya yang terpampang di dinding kamar seakan menjadi hidup. Perempuan itu, aku menamakannya Inaya, sesuai dengan nama pelukisnya, bergerak. Perlahan. Kaki semampainya meniti ujung ranjang tidurku. Tangan lentiknya terangkat di atas kepala, seperti menyangga langit, membentuk gerakan memutar. Layaknya seorang balerina, dia menari. Tubuhnya meliuk, berputar, menghentak. Rambut panjangnya tergerai tanpa jepit atau pengikat rambut ikut bergerak mengikuti liukan dan hentakan tubuhnya. Dia nampak lebih indah dan cantik dari lukisan itu. Kami bercakap. Layaknya teman lama. Pada saat itu, tak kutemukan satu titik kesedihan pun di hampir setiap sudut wajah Inaya. Lalu mengapa di lukisan itu tersirat wajah muram yang samar? Dia seperti memendam sesuatu. Atau barangkali aku terlalu jauh dan keliru menafsirkannya. Lalu malam berganti pagi. Dia pamit pergi.
Sejak itu seringkali aku berharap dia kembali muncul. Namun rupanya dia cukup pelit menampakkan diri. Dia lebih suka bersembunyi di suatu tempat. Entah di mana. Pada saat harapanku mulai pudar, pada saat ujung kesabaran dalam penantian mulai sirna, dia muncul. Menyapaku. Lalu kami kembali bercengkerama. Bercerita. Tentang apa yang aku rasakan. Tentang apa yang dia rasakan. Tentang sebuah dunia tanpa batas. Tentang hening. Tentang sepi yang ramai. Lalu kukatakan, kita memiliki sifat yang sama, Inaya. Kau bermain dengan pelangi dan bulan, di belantara padang rumput yang luas. Sementara aku bermain dengan kamera dan pena di belantara manusia yang asing satu sama lain. Dia hanya tersenyum dan pergi. Meninggalkan percikan cahaya pagi yang silau dari balik gorden jendela kamar. Pagi, ternyata terlalu cepat datang.
“Kau terlalu banyak berkhayal, Niko!” Kata Wisnu, sahabatku saat kukatakan tentang Inaya.
“Kau memimpikan seorang perempuan yang tiada. Kau bergaul dengan banyak Inaya yang real! kau kecewakan beberapa orang yang mencoba mendekati kau. Dan kini jatuh cinta pada perempuan di lukisan itu? Dia tidak lebih dari sebuah benda mati!”
Apapun penjelasanku, Wisnu tetap tidak akan pernah mengerti. Toh, kata-kata Wisnu terus bergelayut di benakku. Jatuh cinta? Beberapa kali aku mengatakan kata-kata itu kepada beberapa gadis dan beberapa kali pula aku mendapatkannya. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, kata-kata itu seperti kehilangan makna.
“Selamat malam,”
Seseorang berpenampilan rapi  entah sudah berapa lama berdiri di depanku. Dia mengenakan blouse longgar berkrah shang-hai berwarna merah muda yang dipadukan dengan celana panjang berwarna gelap. Cocok dengan postur tubuhnya semampai.
“Anda terlalu larut dengan lamunan,”
Dia mengambil tempat duduk di depanku. Sorot matanya tajam. Aku tiba-tiba terjebak dengan harapan yang tanpa disadari kuhadirkan dalam angan-anganku tentang Inaya. Inikah perempuan pelukis itu? Inikah orang yang sekian lama telah mengisi rasa penasaranku? Nun di alam bawah sadar, ada pergolakan. Ada pertentangan. Ada keraguan. Akhirnya bermuara pada suatu keputusan sikap yang muncul hanya dalam hitungan detik sejak kulihat sosok itu, berdiri. Refleks aku berdiri, mengulurkan tangan. Ia menyambut uluran tanganku.
            “Sudah lama menunggu?”
Sapanya. Dalam remang cahaya lampu yang terpantul dari dinding kafe, aku menangkap senyum di ujung bibir. Teramat samar. Nyaris tiada. Ia teramat anggun bahkan untuk melepas senyuman.
            “Tidak terasa untuk menunggu seseorang seperti Anda,”
Permulaan yang hangat bisa menjadi awal dari sebuah percakapan yang menarik. Dan saat ini aku memerlukannya untuk menetralisir suasana hati yang campur aduk.
            “Mmm.. sebelum kita bercakap lebih jauh, sebaiknya pesan sesuatu. Saya sudah memesan kopi, bahkan sudah mau habis. Barangkali saya perlu memesan satu cangkir lagi,”
Kulambaikan tangan, seseorang menghampiri kami, menanyakan apa yang bisa dia bantu.
            “Saya minta teh hangat, tanpa gula. Terima kasih,” Katanya.
            “Saya minta tambah kopi,” Kataku.
Dia mengingatkan aku pada salah seorang  sepupu jauh ibuku yang keturunan keraton. Kami bertemu sesekali. Pada acara keluarga. 
Tiba tiba ponselku berdering. Ada pesan masuk. Selintas kubaca nama di layar. Wisnu. Aku tekan satu tombol memunculkan sebaris kalimat pendek : Sudah bertemu  perempuan impian itu? Ah! Masih sempat-sempatnya kirim SMS padahal anak itu  teramat sibuk dengan launching produk baru ponsel di perusahaan tempat dia bekerja. Aku memang menceritakan rencana pertemuan kami di sini. Pertemuan yang terwujud setelah usaha yang susah payah.
Kualihkan pandanganku dari layar ponsel ke sosok di depanku. Garis-garis sisa kecantikan di masa lalu masih nampak lekat di wajahnya. Dalam beberapa saat kami bercakap tentang beberapa hal. Selama hampir sepuluh menit kami bertemu, aku menangkap kesan dia teramat menjaga sikap dan kata-katanya. Inilah kenyataan, Niko! Batinku berteriak. Inilah pelukis itu. Inilah Inaya. Bukankah ini yang kau inginkan? Bertemu, bertatap muka dan bercakap dengan pelukis perempuan dengan rembulan di pangkuan? Apa yang akan kau lakukan sekarang? Banyak hal, jawab batinku yang lain.
Aku bisa menggali tentang apa saja dari dirinya. Barangkali dia bisa menceritakan tokoh perempuan di lukisan itu. Barangkali saja perempuan di lukisan adalah gambaran dirinya beberapa puluh tahun silam. Atau barangkali anaknya. Atau barangkali perempuan itu bukan siapa-siapa.
            “Kau menyukai  lukisan-lukisan itu?”
Pertanyaan yang cukup lugas dan tegas untuk seorang perempuan seumurnya.
            “Begini…”
Aku menarik napas panjang. Tidak tahu mau memulai dari mana.
            “Betul saya menyukai lukisan-lukisan Sus…, ”
            “Panggil saja Ibu atau tante atau Mbak. Anda lebih pantas menjadi anak sulung, keponakan atau adik bungsu saya,”
Barangkali dia hanya beberapa tahun lebih muda dari ibuku. Saya menarik napas panjang menepis rasa kikuk yang tiba-tiba muncul. Begitu kuat pesona dan keanggunan yang dipancarkan perempuan yang baru aku kenal beberapa menit yang lalu. Ada satu harapan yang lebur dan bermetamorfosa ke dalam bentuk yang lain,  rasa hormat.
            “Karena itulah saya ingin bertemu dan berkenalan Ibu.”
Akhirnya aku memilih memanggilnya Ibu. Karena menurutku itu menunjukkan panggilan respek kepada perempuan seusianya. Kembali kutangkap selintas senyum yang teramat samar.
            “Itu saja?”
Itu saja? Adakah tujuan yang lain? Adakah harapan lain? Adakah keinginan lain? Pertanyaan itu menggema, saling bersahutan menembus lorong-lorong hati. Bagaimana aku bisa mengungkapkan dengan jujur apa yang ada di sini sementara aku sendiri belum mendapatkan jawaban itu?
Pertanyaan sederhana itu tidak bisa kujawab dengan sederhana. Aku mencoba mencari kalimat yang enak untuk memulai. Meskipun pada awalnya meloncat-loncat, toh pada akhirnya cerita itu mengalir dengan sendirinya. Aku bercerita tentang mimpi-mimpi itu. Tentang pertemuan, tentang percakapan, tentang apa yang telah aku alami bersama Inaya, perempuan di lukisan itu, nun di sebuah dunia yang tak kenal musim dan waktu. Aku menutup cerita dengan ungkapan rasa terkesan yang teramat mendalam dengan lukisan-lukisan itu. Kutangkap senyum tersamar di ujung bibir. Setelah semuanya selesai, rasanya beban itu terangkat sudah.
Setelah itu aku meneguk habis kopiku. Dia tidak banyak berkomentar tentang apa yang telah aku ceritakan seperti yang aku harapkan.
Dia hanya berkata,  “Nak Niko. Mari ikut saya,”
Aku menurut. Lalu kami pergi. Menuju suatu tempat. Di perjalanan, dia tidak juga banyak bercakap. Dia lebih banyak berdiam diri dengan melemparkan pandangan ke luar. Ke jalanan yang macet. Ke pohon-pohon hias lampu yang kerlap-kerlip. Meskipun begitu keanggunannya begitu terpancar kuat hampir di semua sikap tubuhnya.
Kami sampai di sebuah rumah besar, asri, teduh dan rimbun dengan pepohonan. Taman yang luas dan terawat rapi dengan beberapa kolam dengan air jernih yang terus mengalir. Cahaya lampu-lampu di pinggir kolam memantulkan kilau cahaya yang menari-nari di atas riak permukaan kolam.
Dari rumah utama, kami keluar melewati beberapa koridor dengan tiang-tiang kayu  berukir dan lampu antik yang bersinar agak temaram di kiri kanannya. Tanaman hias semacam suplir, Philodendron dan begonia dengan daun-daunnya yang cantik berjejer rapi sepanjang koridor.
Lalu kami sampai di sebuah rumah dengan ukuran yang lebih kecil, agak jauh ke belakang rumah utama.  Kami kembali melewati koridor yang nyaman dengan tanaman yang tertata rapi, hampir sama dengan koridor pertama yang kami lalui. Setelah melewati beberapa ruangan, perjalanan kami berhenti di sebuah ruangan. Dia membukakan pintu dan mempersilahkan aku masuk. Aku menyapu sekeliling. Ruangan di dalam cukup luas dengan dinding berwarna putih bersih dan lantai tertutup karpet tebal. Sejuk dengan air conditioner. Ada seperangkat sofa berwarna hijau lumut. Setangkai mawar merah di vas bunga yang ramping yang diletakkan dekat jendela ke arah taman. Ruangan yang sangat nyaman dan menyenangkan. Pandanganku berhenti pada sosok yang nampaknya tengah duduk di karpet terhalang sofa.
            “Sayang! ada seseorang yang ingin bertemu denganmu,”
Dalam hitungan detik kami telah berhadapan dengan seseorang perempuan muda bertubuh semampai. Berbaju putih. Berambut panjang terurai tanpa jepitan atau ikatan rambut. Bermata hitam, bulat, bening. Di hadapannya terbentang sebuah kanvas dengan lukisan perempuan dengan rembulan di pangkuan dengan langit berpelangi. Selintas pandanganku berhenti pada kedua pangkal bahu yang tertutup dengan lengan baju panjang dan menjuntai lesu di kiri-kanan badannya. Pandanganku kemudian turun. Ke atas cawan piring beberapa cat warna yang agak berserakan. Kemudian ke jari-jari kakinya. Di sela ibu jari dan telunjuk kakinya yang lentik, terjepit erat kuas yang siap disapukan ke atas kanvas.
            “Nak Niko, ini Inaya. Puteri saya,”
Mata hitam dan bening itu menatapku. Di tengah suasana hati yang sukar dilukiskan, di tengah rasa keterkejutan yang ada, kulihat Inaya tersenyum manis. Senyum yang pernah aku temukan pada suatu tempat tanpa kenal musim, tanpa batas ruang dan waktu.
(Yeni Ratnakomala)
                                                            *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar