Published by Tabloid Nova, 2010
Suara batuk dari kamar emak terdengar seiring dengan kokok ayam di subuh menjelang pagi. Tak lama terdengar derit pintu yang dibuka. Setelah itu aku sudah tahu suara apa lagi yang akan datang berikutnya. Krak-krek timba ban bekas yang salah satu ujungnya diberati dengan beberapa gelang logam mengangkut air dari sumur lalu gebyur air jatuh ke bak dan kecipak-kecipuk gayung yang menyiduk air di bak tanda emak mandi. Sekitar sepuluh menit kemudian emak mengaji. Suara emak pelan. Tapi suara itu sudah cukup membangunkan aku dari tidur lelap. Seusai mengaji, emak ke dapur. Menjerang air, mencuci piring dan gelas yang kotor. Setelah itu ia akan mengetuk kamarku. Membangunkan aku untuk segera shalat Subuh. Suara-suara itu bagai musik pengiring bangun tidur sepanjang hampir dua puluh lima tahun usiaku. Selalu begitu. Setiap hari, minggu, bulan kemudian berganti tahun ke tahun. Tanpa ada perubahan.
Seperti juga kali ini. Sehabis mengaji emak mengetuk kamarku. Menyuruhku shalat Subuh. Namun kali ini, aku tidak langsung beranjak dari tempat tidur dan mengambil air wudhu. Aku memikirkan sesuatu. Tentang emak. Tentang hari pernikahanku.
“Si Abang minggu depan akan datang melamar,” Kataku kemarin siang. Waktu itu emak tengah duduk berselonjor di dekat pintu. Membersihkan beras. Diluar tukang pecel dengan bakul dipinggang lewat menawarkan dagangannya. Tukang pecel itu setiap hari berkeliling di sekitar perumahan.
Emak mengambil rokok dengan ujung yang sudah berasap yang tersimpan di pinggiran asbak di sampingnya. Menghisapnya dalam-dalam dan mengeluarkan asap itu dari bibirnya yang menghitam. Aku mengibaskan tangan ke udara menghindari asap yang mengepul. Sudah berulangkali aku meminta emak untuk berhenti merokok karena merokok tidak bagus untuk kesehatan. Tapi rupanya emak tidak pernah mendengar. Setelah beberapa isapan, emak menyimpan rokok itu kembali di pinggiran asbak dan melanjutkan mencari gabah.
“Mak, Si Abang…” Kataku khawatir ia tidak mendengar apa yang aku katakan tadi.
“Abang yang mana? Teman laki-lakimu yang mana?” Katanya tanpa mengalihkan matanya dari nampan beras. Ia mengambil satu dua gabah dan memisahkannya ke piring kecil.
“Temanku yang aku panggil si abang itu hanya satu.” Kataku. Memang ada beberapa teman laki-laki yang biasa datang ke rumah. Mereka adalah teman-teman kuliahku dan juga teman si abang. Biasa kami berkumpul untuk mengerjakan tugas kuliah atau berdiskusi.
“Oo…yang rapi itu? Yang suka nganterin kamu?” Tanya emak. Aku mengangguk. Reaksi emak seperti yang aku perkirakan. Cuek. Teramat cuek. Kadang-kadang aku kesal dengan kecuekan sikap emak. Padahal untuk mengatakan inipun aku harus mengumpulkan cukup keberanian. Sampai nyaris tidak bisa tidur memikirkan ini. Emak akan bersikap sama terhadap hal yang sepele atau serius. Bagi emak tidak ada hal yang serius. Segala sesuatunya dianggap sepele. Atau barangkali emak sebetulnya menganggap serius. Tapi keseriusan itu ia sembunyikan jauh di dalam hati. Emak tidak mau mengungkapkan keseriusan di depan orang lain, termasuk anak-anaknya sendiri. Kata Marni, kakakku paling sulung, sewaktu bapak meninggalpun, waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengingat saat-saat meninggalnya bapak, emak tidak menangis. Dia hanya bilang, kita harus tabah. Tidak boleh menangis. Sebaliknya kita harus mulai berjuang untuk hidup. Tanpa bapakpun kita bisa hidup, kata emak. Emak membuktikan kata-katanya dengan bekerja keras. Pekerjaan apapun dia lakukan untuk mendapatkan uang. Menjadi tukang cuci, pembantu, jualan di pasar, buruh menjahit, makelar tanah sampai jadi tukang kredit.
Emak melakukan apapun untuk menghidupi anak-anaknya. Sewaktu meninggal, bapak hanya mewariskan dua hal: sepetak tanah yang diatasnya berdiri rumah semi permanen dengan hanya dua kamar yang kini kami tempati, dan enam anak yang memerlukan biaya untuk tumbuh dan sekolah. Tentu saja ini bukan hal yang cukup ringan untuk ditanggung sendiri. Toh emak menjalani kehidupan ini dengan tabah. Ia bekerja keras tanpa kenal lelah untuk menyekolahkan anak-anaknya. Sungguh ini suatu perjuangan yang sangat berat. Tapi seberat dan sesulit apapun kehidupan yang dijalani, emak tidak pernah menangis. Di depan anak-anaknya, ia tidak pernah menunjukkan kesedihan dan kesusahan hatinya. Kehidupan yang keras telah menempa emak. Dan ternyata ia mampu melakukannya. Satu demi satu anaknya berhasil menyelesaikan sekolah. Bukan saja sampai tingkat SLTA, melainkan sampai lulus perguruan tinggi. Sampai-sampai lingkungan kami pernah menganugerahi pernghargaan sebagai ibu teladan yang tegar. Dari seorang ibu pencuci baju, telah lahir lima sarjana dan satu calon sarjana. Apa itu tidak hebat. Keempat kakakku sudah bekerja. Aku baru lulus dan adik bungsuku tinggal menunggu sidang skripsi di sebuah perguruan tinggi negeri di Semarang.
Toh setelah anak-anak berhasil, emak tetap tidak berubah. Ia tetap emak. Mandiri dan tidak pernah meminta bantuan anak-anaknya meski sudah berhasil. Ia tetap bekerja dan mendapatkan penghasilan dari hasil keringatnya sendiri.
Berulangkali kakak-kakakku yang lebih dulu mandiri menawarkan emak untuk tinggal bersama mereka dengan kehidupan yang lebih nyaman. Emak tetap menggeleng. Ia hanya mengatakan, “Emak tidak mengharapkan apa-apa. Melihat anak-anak emak mandiri, bisa hidup layak dan tidak lagi tergantung sama orang lain saja sudah cukup membuat emak bahagia. ”
Di depanku emak yang masih terus mencari gabah. Sesekali ia mengusap keringat di pelipis dengan punggung tangannya.
*
“Baju ini baru Suri beli. Emak harus pake di pernikahan Suri.” Kataku sambil menyodorkan sepotong kebaya dan kain ke pangkuannya. Emak hanya memandangku.
“Untuk apa beli-beli baju segala. Baju emak kan masih ada. Masih enak dipakai. Mending uangnya kamu tabung.”
“Ini hari pernikahanku. Aku ingin emak berpakaian yang baik dan pantas di hari bersejarahku,” kataku.
Di hari pernikahanku, aku ingin emak berbeda dengan kesehariannya. Berbeda dengan kakak-kakakku yang lain yang tidak begitu menghiraukan apa yang dipakai emak di hari pernikahan mereka. Aku sangat perduli dengan hal ini. Aku tidak ingin tatapan aneh terhadap emak yang kerapkali di lontarkan para besan emak di hari pernikahan anak-anak emak yang lain terjadi juga di hari pernikahanku. Di hari yang bersejarah buat anak-anaknya, mengapa emak berpenampilan seperti itu? Berbaju lusuh tanpa riasan muka. Tanpa sanggul apalagi minyak wangi. Bahkan tanpa sandal. Ia hanya duduk mencangklong di jalanan orang keluar masuk, dengan rokok yang terselip di bibir. Muka emak memang tidak pernah mengenal bedak dan gincu. Sebagaimana kesehariannya, emak hanya mengikat rambut tipisnya ke belakang membentuk gunung kecil di atas kepala.
Emak meneliti kebaya berwarna merah muda yang sengaja aku bikin ke tukang jahit dekat kantor.
“Emak mau pakai baju emak sendiri,” Ia masih mencoba menolak. Barangkali kata-kata ini adalah sebentuk ketidak setujuan emak karena aku mulai mengaturnya.
Aku mulai khawatir dan berpikir tentang reaksi Ibu si Abang yang notabene wanita sadar berbusana dengan seabrek kegiatan di seminar tentang berbagai hal yang berhubungan dengan kecantikan, kebugaran dan pengembangan diri.
“Ini juga baju emak.” kataku.
“Emak lebih suka memakai baju yang sudah biasa emak pakai. Kalau memakai baju baru, badan emak gatal-gatal. Rasanya nggak nyaman. Nggak enak,” Kata emak.
“Emak lebih suka memakai baju yang sudah biasa emak pakai. Kalau memakai baju baru, badan emak gatal-gatal. Rasanya nggak nyaman. Nggak enak,” Kata emak.
Ia membuka lemari tanpa kunci yang sudah bolong kena rayap di sana-sini. Sayang aku belum sempat membelikan emak lemari baru. Aku terlalu sibuk mengurus segala sesuatu menjelang hari pernikahanku. Emak memilih beberapa baju yang disukainya. Duh! Bagaimana mungkin emak memakai baju-baju itu? Semuanya sudah lusuh dan usang. Kakak-kakakku beberapa kali membelikan emak baju baru. Namun baju-baju itu hanya menjadi pajangan di lemari emak. Emak lebih memilih memakai baju yang lama. Aku tidak bisa membayangkan reaksi ibu si Abang, calon mertuaku, melihat besannya berpenampilan seperti itu.
Di malam midodareni, aku kembali membujuk emak agar memakai baju seragam dengan calon mertuaku.
“Besok emak nggak usah di dapur. Biar emak nemenin Suri sama abang di depan, menerima tamu-tamu. Biar yang lain yang di dapur. Kan ada Bi Iyah, Bi Cacih, mang Karman dan banyak lagi keluarga kita yang lain,”
“Apa kamu malu kalau emak seperti ini di hari pernikahanmu?”
“Bukan begitu mak?” Kataku menyangkal. Sulit untuk mengungkapkan kejujuran tentang hal ini di depan emak.
“Pernikahan itu kan hanya sekali dalam seumur hidup. Suri ingin penampilan emak lain dari pada emak sehari-hari. Sama seperti Suri. Besok penampilan Suri juga lain dari keseharian Suri. Suri tidak mau ada orang lain merendahkan martabat kita hanya karena kita kurang berpakaian sepantasnya. Emak ngerti maksud Suri kan?”
Emak hanya menatapku datar. Sulit menebak apa yang ada di dalam hatinya.
“Orang dinilai bukan dari apa yang dia pakai. Tapi dari hatinya. Penampilan bagus tidak selalu mencerminkan hati yang bagus,”
Aku terdiam. Emak memang benar.
*
Akhirnya emak memakai kebaya merah muda itu. Aku sungguh senang melihat emak. Rambutnya berkonde. Wajahnya di rias. Meskipun agak canggung dan kikuk, emak duduk dengan anggun mendampingiku. Tanpa baju lusuhnya, tanpa rokok yang terselip di jemarinya. Yang kini ada di jemarinya adalah sebuah kipas kecil yang sengaja kuselipkan di tangan emak. Kaki-kaki kekar dan hitam milik emak kini terbalut selop. Selintas kelihatan cukup. Tapi sebenarnya, kekecilan. Semalam emak susah payah mencobanya. Rupanya emak mau juga menurut. Sewaktu tamu datang mengalir, aku mendengar emak membisikkan sesuatu ke telinga si abang.
“Rasanya emak lega. Sekarang tanggung jawab si Suri ada padamu. Jaga dia baik-baik.”
Setelah itu emak minta ijin ke belakang. Tamu yang terus berdatangan membuat aku sibuk menerima ucapan selamat. Hampir aku lupa bahwa emak belum juga kembali ke depan. Lalu aku meminta ijin abang dan mertua untuk sebentar pergi ke belakang mencari emak. Setelah menanyakan emak ke orang-orang yang juga sibuk hilir mudik mengatur makanan, kutemukan emak di kamar belakang. Ia tengah duduk bersender di pojok kamar yang pengap. Konde dan kebaya merah mudanya sudah lepas. Riasan mukanya sudah hilang. Kipas kecil yang aku selipkan di tangannya sudah kembali berganti dengan rokok.
“Emak,”
Dengan bantuan cahaya lampu sepuluh watt aku menangkap kilatan bening di mata emak. Baru kali ini sepanjang hidup aku melihat mata hitam emak berkaca-kaca. (Yeni Ratnakomala)
*
Lihat juga di sini:


Tidak ada komentar:
Posting Komentar