Selama bertahun-tahun lelaki tua itu rutin menghadiri acara wisuda, dan berharap putri kebanggaannya ada di antara para wisudawan itu
Angin berhembus semilir. Helai-helai rambut putih di pelipis laki-laki setengah baya itu ikut berkibar. Suara istrinya masih terngiang di telinga.“Sudahlah, pak. Tidak usah pergi,”
Kata-kata istrinya itu terus berulang dari waktu ke waktu. Memang tidak persis sama. Selalu ada tambahan: “Bapak kan baru sembuh dari sakit.” “Bapak kan masih cape.” Dan seribu macam alasan yang menyiratkan kekhawatiran seorang istri. Dia tetap saja pergi. Tidak ada alasan untuk tidak pergi.
Dia menghirup napas panjang dan dalam. Menapaki jalan kecil berbatu selebar satu meter yang tumbuh pohon-pohon akasia. Hijau, rimbun dan teduh. Daun-daun kering lebih banyak berserakan. Apalagi di musim kemarau seperti sekarang. Beberapa meter dari jalan kecil itu, ada danau dengan air jernih dengan ikan berseliweran di dalamnya. Air itu tidak pernah surut meski musim kemarau tiba. Danau itu di kelilingi taman rumput yang luas. Beberapa orang duduk menyebar di pinggir danau, memancing. Mereka adalah penduduk setempat yang tinggal tidak jauh dari kompleks kampus ini. Agak ke tengah, di hamparan rumput, beberapa kelompok mahasiswa berdiskusi. Ada juga beberapa orang tengah membaca, sendirian. Ada dua bangunan yang menjadi simbol kemegahan kampus ini. Balairung dan rektorat. Kedua bangunan itu dihubungkan oleh koridor selebar empat meter dengan tanaman hias di pot besar di pinggir-pinggirnya. Saat siang terik, area ini cukup nyaman dijadikan tempat berteduh dan berleha-leha sambil menikmati semilir angin.
Musik orkestra mengalun dari dalam gedung mengiringi paduan suara menyanyikan lagu-lagu. Tentang dunia akademika. Tentang tanah air. Tentang pahlawan. Laki-laki itu mengambil tempat duduk di sayap kanan balairung. Hampir terhalang oleh pilar-pilar penyangga gedung yang kokoh.
“Mari duduk lebih kesini, pak. Biar lebih kelihatan,”
Seorang laki-laki disampingnya menyapa sambil menggeser kursinya.
“Terima kasih. Dari sini juga kelihatan,” Dia memang sengaja mengambil tempat duduk agak terpisah. Dari balik pilar kokoh itu dia bisa memandang Rena yang berjalan ke panggung kehormatan dengan leluasa. Diiringi musik. Para guru besar yang duduk berjejer memberi Rena ucapan selamat.
“Yang maju ke panggung itu anak saya,”
Katanya berbisik. Kata-kata itu sudah dia rancang bahkan sejak beberapa tahun lalu. Rasanya baru kemarin Rena berjingkrak kegirangan sewaktu mendapatkan namanya tercantum di koran. Laki-laki itu, berdua istrinya, langsung bersujud. Prestasi Rena sejak di sekolah dasar kelas satu seperti rangkaian anugerah yang terus mengalir tiada habisnya. Rena adalah malaikat kecil yang tidak berhenti membuat mereka bangga. Rena adalah bintang kejora yang terus bersinar dan tidak pernah putus memberi mereka kebahagiaan. Sewaktu mengantar Rena mendaftar ulang ke tempat ini, hati kecilnya berbisik, ‘lima tahun lagi aku datang ke sini. Sebagai orangtua yang berbahagia’.
Sepasang suami istri, istri berkebaya dan suami berjas lengkap, duduk di depannya begitu khusyuk mengikuti acara ini. Sesekali si istri berbisik. Sepasang lagi duduk di samping kirinya. Wajah mereka berbinar bahagia.
“Menghadiri wisuda anak?” Dia menoleh. Berharap pertanyaan itu tidak tertuju kepadanya. Dia datang ke sini tidak untuk bercakap-cakap. Bahkan dia ingin menghindari percakapan. Laki-laki yang tadi mengajaknya menggeser tempat duduk tengah tersenyum kepadanya. Dia tergugup.
“Eh…Eh.. Iya,”
“Dari fakultas mana?”
Dia semakin tergugup. Tidak menyangka pertanyaan-pertanyaan ini datang beruntun. Dia tidak akan pernah siap menerima berbagai pertanyaan.
“Mm….Ekonomi,”
“Anak saya fakultas teknik.”
Katanya. Kalimat yang meluncur dari mulut dan pancaran wajahnya mengekspresikan hal yang sama: kebahagiaan.
“Baru pertama kali menghadiri wisuda di sini?”
“Tidak,” Jawabnya pendek. “Beberapa kali,” Lanjutnya. Berharap ini jawaban terakhir dan memuaskan teman barunya.
“Wah, hebat! Punya anak-anak pintar dan berprestasi. Ngomong-ngomong anaknya berapa, pak?”
“Satu,” Katanya pelan.
“Kok sering ke sini?”
Dia tergagap. Laki-laki kenalan barunya ini tidak salah. Barangkali dia yang salah mengambil tempat duduk.
“Mm… Ada... ada beberapa keponakan yang juga kuliah di sini,”
Entah dari mana dia mendapatkan jawaban seperti itu.
“O. “ O, bulat dari mulutnya tanda dia mulai mengerti. “Sayang anak saya cuma satu. Jadi saya hanya bisa datang kesini sekali saja dalam seumur hidup saya. Tapi sungguh saya sangat bersyukur dan bahagia,”
Kenalan barunya itu kemudian asyik bercerita tentang kebahagiaannya.
“Saya baru pertama ke sini. Luas sekali kompleks kampus ini. Tadi saya hampir nyasar di gerbang depan sana. Untung saja ada adik-adik mahasiswa berseragam tentara memberi tahu arah kesini. Saya bangga bisa datang kesini. Rasanya tidak sia-sia pengorbanan saya dan ibunya.”
Dari balik pilar, di depan panggung, Rena melambaikan tangan. Dia nampak cantik dengan baju wisuda dan toga yang dikenakannya.
Masa beberapa tahun ke belakang seakan kembali berputar ulang. Semula segala sesuatu berjalan baik-baik saja. Sampai muncul laki-laki itu. Rena mengenalnya entah di mana. Laki-laki yang sampai sekarang dia tidak pernah ingin menyebut namanya. Dia tidak pernah melihat satu kelebihan apapun dari laki-laki itu. Sayang Rena sudah terlanjur terpesona. Dia memujanya setinggi langit. Berbagai cara dia lakukan untuk mencegah berlanjutnya hubungan ini. Rena memiliki masa depan yang terlalu berharga untuk ditinggalkan. Sayang Rena mengambil keputusan lain. Laki-laki itu menangis disaat saat hampir semua orang tua tertawa bahagia. Dia seperti dihempaskan ke dalam sebuah jurang yang paling dalam. Gelap. Curam. Pada saat berteriak, dia hanya mendengar gema suaranya sendiri.
Sejak itu suasana rumah berubah. Muram. Sejak itu tidak ada malam yang tidak dilaluinya tanpa bersujud sambil menangis. Memohon ampun atas segala kesalahan yang pernah dilakukannya. Barangkali dia telah melakukan banyak kekhilafan. Barangkali dia terlalu berbangga. Dalam hari-hari redup yang dilaluinya, ribuan kali dia mencoba menemukan jawaban pada sisi mana kesalahan telah dia lakukan. Sama seperti dirinya, istrinya yang lebih banyak diam dan sabar nampak semakin tua dari hari ke hari.
Iringan orkestra sudah selesai. Para wisudawan berbaur dengan sanak keluarga. Di berbagai sudut mereka sibuk berpotret. Blitz kamera masih terus berkilat. Seorang perempuan muda menggelendot manja di bahu tunangannya yang berpakaian wisuda. Seorang ibu sibuk mengelap keringat anaknya yang berpakaian wisuda sebelum diambil foto. Seorang bapak merapikan jas sambil memeluk puterinya. Mereka bercengkerama dan tertawa. Dia melengos. Sudah berabad-abad dia tidak pernah lagi bercengkerama dengan Rena. Jarak di antara mereka sudah terbentang. Teramat jauh. Suatu malam dia pernah bermimpi membunuh laki-laki itu. Pisau di tangannya menghunjam tepat di jantungnya. Darah mengalir di mana-mana. Rena menjerit. Terus menjerit. Sampai dia terbangun dengan keringat dingin membanjir.
“Belum ketemu anaknya?” Laki-laki yang tadi duduk di sampingnya menyapanya. Di sampingnya seorang gadis muda berkebaya tersenyum. Sebaya Rena.
“Be… belum. Mungkin di sayap sebelah kiri gedung ini. Mari pak, saya pamit dulu,”
“Monggo. Saya juga masih mencari ibunya,” Katanya sambil tersenyum. Mereka bergandengan tangan berbaur dengan kerumunan orang-orang yang berlalu lalang.
Laki-laki itu berdiri. Tiba saatnya untuk pergi. Acara wisuda mendatang, dia akan kembali datang. Menyaksikan Rena mengenakan kebaya dengan toga. Rena akan melambai di panggung ke arahnya. Saat itu dia akan berteriak lantang.
“Lulusan berprestasi itu adalah anakku!” Kata-kata itu sudah cukup mengental di mulutnya. Dia ingin segera mengucapkannya. Semilir angin berhembus di siang yang terik saat laki-laki itu beranjak meninggalkan tempat itu.
Sampai di rumah, teriakan manja Mimi, cucu yang tidak pernah diharapkannya, menyambutnya.
“Mimi. kakek masih cape. Main sama mama aja, ya sayang!”
Baginya, itu bukan suara Rena. Itu suara orang lain. Baginya Rena adalah malaikat kecil kebanggaan keluarga yang akan berkebaya dan menggandeng tangannya di saat wisuda. Entah kapan. (Yeni Ratnakomala)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar