Sabtu, 21 Mei 2011

Cerpenku: Kerinduan

Published by Kartini (March 2000)

Sekali lagi Amuh menoleh. Hampir dua puluh meter ia melangkah. Suara Oji yang menangis di gendongan emak mengiris hatinya. Anak itu belum sembuh betul. Badannya masih panas. 
            “Sudahlah. Lebih baik kamu menunggu saja. Suamimu pasti pulang,”
Begitu kata emak tadi malam setelah ia mengutarakan niatnya. Saat itu emak  tengah memasak air. Amuh memperhatikan perempuan tua itu meniup  api di tungku dengan batang bambu. Menjaga api tetap menyala.
            “Sampai kapan, Mak? Kang Obon biasa pulang sebulan sekali. Tapi sekarang ini, tak ada sedikitpun kabar. Saya khawatir dia sakit.”
            “Tapi kamu tidak tahu dimana dia tinggal. Si Urip bilang mencari alamat di Jakarta itu seperti mencari jarum di jerami. Susah!”
Mulut perempuan tua yang menempel di ujung batang bambu kembali membentuk gelembung. Ia menghimpun udara dan menghembuskannya ke tungku lewat ujung lain batang bambu itu.
            “Saya tahu, mak.”
Amuh mengeluarkan sesuatu dari balik kutangnya.
            “Tadi pagi saya mencari Kang Ardi. Ia memberikan alamat ini. Dia bilang Kang Obon bekerja di sini.”
Dibantu cahaya api dari tungku, mata rabun perempuan tua itu membuatnya harus menjauhkan secarik kertas itu dari matanya. Ia hanya bisa melihat tulisan-tulisan buram yang tidak dimengerti. Sepanjang hidupnya ia tidak pernah mengenal baca dan tulis. Amuh mengambil kembali kertas itu dan dengan hati-hati menyelipkannya ke saku plastik berisi pakaian yang akan dibawanya.
            “Si Ardi itu kan sudah lama tidak ke Jakarta. Mungkin saja Obon sudah pindah.”
            “Saya yakin ia masih bekerja di sana. Doakan saja, mak.”
Amuh ingat kang Obon pernah menyebut nama tempat dimana dia tinggal dan bekerja. Setelah mencocokkan dengan alamat yang diberikan Kang Ardi, Amuh yakin alamat itulah yang akan ia tuju. Tak ada lagi yang bisa menghalangi niat Amuh. Tidak juga Oji, anak semata wayangnya. Anak berumur tiga tahun itu dilahirkan di musim penghujan di malam gelap gulita tepat setahun usia perkawinan mereka.
            Sekali lagi Amuh menoleh. Dengan menguatkan hati, Amuh kembali melangkah menyusuri jalan setapak. Kali ini tanpa bakul berisi pakaian dan piring kotor untuk dibawa ke sungai. Juga tanpa si Oji yang dengan tubuh telanjang mengikuti Amuh dari belakang. Kali ini ia hanya menenteng tas plastik berisi dua potong baju, bersepatu sandal dan berbaju sedikit rapi dari yang biasa dipakai sehari-hari. Ia akan pergi ke Jakarta menyusul Kang Obon dengan bekal uang pinjaman dari Atun, TKW yang baru pulang dari Saudi dan tentu saja membawa uang.
            Sejauh mata memandang, sawah-sawah hanya membentuk bongkahan dan retakan lebar. Kering dan gersang. Tanah kelahirannya yang memang sudah gersang diperburuk dengan kemarau panjang tahun ini. Kemarau sekarang ini tidak menyisakan apapun bagi penghuni kampungnya untuk tetap bertahan. Berbondong-bondong anak muda keluar dari tanah kelahiran mereka untuk mengadu nasib. Merantau ke Jakarta.
            Setelah lima belas menit berjalan, Amuh sampai di pangkalan ojek. Dari situ ia menumpang ojek ke kota kecamatan. Ia harus membayar ongkos ojek cukup mahal untuk ukuran kantongnya, karena posisi desanya yang terpencil dan paling jauh dibandingkan dengan desa-desa lain di kecamatan ini. Dari kota kecamatan ia menumpang bis omprengan ke kota terdekat. Dari situ Amuh baru melanjutkan perjalanan ke Jakarta.
                                                            *
            Amuh tengadah. Ini Hari sudah gelap saat bis yang ditumpanginya sampai di Jakarta.  Ini adalah terminal paling megah dan luas yang pernah dilihatnya. Sepanjang hidupnya, Amuh baru melihat kesibukan yang luar biasa. Orang-orang bergegas seperti mengejar sesuatu. Suara klakson mobil dan teriakan calo-calo saling bersahutan.  Hampir saja ia ditabrak seorang perempuan yang membawa kopor besar dan menuntun anak kecil. Amuh menarik napas panjang. Menghimpun kekuatan. Pada tarikan napas berikutnya, ia melangkah mantap. Mendatangi petugas terminal berpakaian seragam tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sesaat kemudian Amuh sudah duduk di sebuah angkutan kecil. Wajah Kang Obon sudah di pelupuk mata. Banyak sekali yang ingin ia ceritakan. Tentu saja hal pertama yang akan ia ceritakan adalah Oji sakit. Sejak seminggu lalu hanya sedikit saja makanan masuk ke dalam perutnya. Oji baru mau makan kalau dibikinkan bubur kaldu ayam. Untuk kesembuhan Oji, terpaksa tiga ayam piaraan mereka, termasuk ayam jago kesayangan si Oji, dipotong satu demi satu. Kini, tidak ada lagi ayam piaraan yang tersisa. Setelah itu Amuh akan bercerita tentang sawah sepetak mereka yang kini hanya ditumbuhi dengan pohon alang-alang yang semakin tinggi. Lalu atap rumbia rumah mereka yang bocor, tukang kredit yang beberapa kali datang menagih hutang, tapi Amuh tidak mampu membayar karena tidak ada uang.  Jangankan untuk bayar utang, untuk membawa Si Oji ke puskesmas pun ia harus berutang. Lalu tentang Arum yang setelah pulang dari Saudi bisa membeli sapi dan memperbaiki rumah. 
            Amuh merapatkan tas plastiknya ke dada saat seorang penumpang naik. Ia harus semakin merapatkan tubuh ke pinggir. Penumpang begitu sesak. Sekitar setengah jam kemudian angkutan mulai memasuki jalan kecil. Di kiri kanan jalan rumah-rumah kecil berdempetan. Jam didekat kemudi sudah menunjukkan hampir pukul sembilan. Satu persatu penumpang mulai turun. Kini tinggal hanya tiga penumpang termasuk dirinya. Amuh mulai kebingungan. Di mana  ia akan turun? Bukankah nanti kernet atau sopir yang akan memberitahu? Bukankah sebelum naik tadi ia sudah mengatakan daerah yang ia tuju dan meminta kernet memberitahu di mana ia harus turun, sebagaimana yang dinasehatkan petugas terminal tadi. Apakah mereka sudah lupa? Amuh ingat kampungnya. Pada jam seperti ini semestinya ia sudah jatuh terlelap di alam mimpi, mengeloni si Oji.  Kini hanya emak yang mengeloni anak itu. Tubuh Amuh kembali terhempas saat angkutan kembali terguncang. Kini ia tinggal satu-satunya penumpang yang belum turun. Kegelisahan mulai melanda dirinya.
            “Ibu turun di mana?” kata kernet. Di depan sopir memperlambat mobil dan menoleh ke arahnya, membenarkan pertanyaan kernet.
            “Tadi kan saya sudah bilang, saya akan pergi ke daerah ini. Manggarai.”
Amuh menyodorkan kertas lecek yang sedari tadi digenggamnya. Kernet sekilas membacanya. Lalu menyodorkan kertas itu ke sopir.
            “Kita nggak lewat Manggarai.”
Amuh tersentak. Apa ia salah mendengar dari petugas terminal yang menunjuk angkutan ini. Apa kernet tidak mendengar kata-katanya tadi?
            “Sebelum naik tadi saya teh sudah bilang. Kenapa tidak memberitahu saya naik mobil yang salah?”
            “Yang namanya penumpang kan banyak, bu. Mana saya ingat?”
            “Jadi?” 
Kernet mengatakan sesuatu dalam bahasa daerah yang tidak dimengerti. Amuh merasa seluruh tubuhnya menggigil dijerat ketakutan yang sangat. Ia tidak tahu Jakarta. Ia tidak tahu di daerah mana kini ia berada. Tiba-tiba ia ingin menangis. Ia merasa sendirian. Tanpa emak dan si Oji. Tanpa Kang Obon. Tanpa sanak saudara atau satu orangpun yang ia kenal.
            “Ibu sebaiknya kembali ke terminal. Lalu naik bis kota ke arah Manggarai.”
Amuh tidak bisa berkata-kata. Lidahnya terasa kelu. Bagaimana ia bisa kembali ke terminal di malam yang sudah cukup larut seperti ini. Baru kali ini ia merasakan kesedihan dan kesepian yang sangat. Kalau saja ia mendengarkan kata-kata emak.
            “Kalau ibu mau kembali ke terminal, ibu tinggal menyeberangi jembatan penyeberangan di depan. Lalu berjalan ke lampu merah. Dari situ masih ada kendaraan ke arah terminal.”
            “Pak, saya baru datang dari daerah. Saya ke sini mau mencari suami saya. Saya betul-betul tidak tahu Jakarta.”
Tiba-tiba saja kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Amuh. Ia berusaha keras untuk tidak mengucurkan air mata. Amuh memperhatikan sopir dan kernet bercakap. Cukup lama. Dalam obrolan mereka, ia juga menangkap ucapan sopir dengan nada tinggi. Sayang satu katapun Amuh tidak mengerti.  Yang ia mengerti kemudian adalah sopir dan kernet akhirnya menyarankan Amuh tidur di angkutan ini sementara menunggu besok pagi. Tak ada pilihan lain. Setelah itu, angkutan kembali melaju. Dua puluh menit kemudian, sopir memarkir mobil di sebuah warung kopi. Nampaknya mereka akan minum kopi. Dari tempatnya duduknya, Amuh bisa melihat ke ruang dalam warung kopi itu. Sebagian orang tengah bermain kartu. Sebagian lagi mengobrol sambil menikmati hidangan kopi panas atau bir. Ada juga sebagian yang hanya menyelonjorkan kaki dengan wajah terkantuk-kantuk. Lalu ada  beberapa wanita muda yang berlalu lalang melayani. Amuh heran. Malam semakin larut tapi warung kopi itu seperti tidak menunjukkan tanda-tanda akan tutup. Setelah sopir dan kernet pergi, Amuh merapatkan pintu mobil. Ia merasa cukup penat. Berbantalkan tas plastiknya, Amuh membaringkan badan. Tempat duduk penumpang ternyata tidak cukup mampu menampung badan Amuh dan membuatnya harus memiringkan badan. Alam lamunannya membayangkan Kang Obon, Oji dan emak. Dengan harapan pagi segera tiba Amuh jatuh tertidur. Belum juga ia betul-betul lelap, samar ia mendengar pintu angkutan di ujung kakinya terbuka. Kernet masuk. Bau minuman keluar dari mulutnya. Belum sadar sepenuhnya terhadap bahaya yang ada, kernet sudah memepet Amuh sampai ke sudut mobil. Amuh terkejut. Untuk sesaat ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Jeritannya seperti tertelan di tenggorokan. Kernet semakin berani. Menjambak rambut dan menarik pakaiannya. Apa yang bisa ia lakukan saat itu adalah berteriak sekuat tenaga sambil memukuli kernet dengan tasnya. Entah berapa lama ia berontak sampai tiba-tiba ada tangan lain yang menjambak kepala si kernet. Menempeleng dan menyeret keluar sampai si kernet jatuh terhuyung.
            “Dia mabuk.” Kata si sopir. Matanya memancarkan ketidaksenangan.
            “Kunci dari dalam.” Lanjutnya. Dengan air mata yang ia tidak tahu sejak kapan turun, Amuh mengangguk. Amuh kemudian melihat sopir menyeret si kernet masuk kembali ke warung. Malam itu ia tidak bisa tidur. Amuh berharap pagi segera tiba.
                                                            *
            Pagi hari dengan di antar sopir, Amuh sampai di suatu tempat. Di mulut sebuah gang.
            “Saya kenal seseorang di sini. Namanya Pak Lenggono. Ia banyak tahu dan kenal para pekerja di lingkungan sini.”
            “Terima kasih.”
Mungkin itu ucapan terima kasih yang paling tulus yang pernah diucapkan Amuh. Sopir itu telah menyelamatkan diri dan kehormatannya. Peristiwa yang hampir terjadi semalam membuatnya tak berhenti bersyukur dan berterima kasih atas kebaikan sopir itu. Amuh berjalan menyusuri gang sempit yang ramai dengan teriakan anak kecil yang tengah bermain. Nasi bungkus pemberian sopir lumayan bisa mengganjal perutnya setidaknya sampai nanti siang. Ia celingukan. Apakah ia bisa menemukan Pak Lenggono yang tidak dikenalnya di tengah belantara manusia yang juga tak satupun dikenalnya. Amuh memutuskan untuk langsung saja menanyakan Kang Obon. Pada saat celingukan itulah,  seorang laki-laki berbadan gemuk menghampiri Amuh. Ia meneliti alamat yang disodorkan Amuh.
            “Wilayah ini sudah kena gusur sejak hampir setahun lalu.”
Amuh tersentak. Lalu di mana Kang Obon sekarang?
            “Adik memang cari siapa?”
Dalam kekhawatiran Amuh menjelaskan maksudnya. Ia juga menceritakan ciri-ciri Kang Obon. Barangkali saja bapak ini pernah melihatnya.
            “Obon….Obon….”
Laki-laki bertampang ramah ini mengernyitkan alis. Berpikir.
            “Rasanya…”
Tiba-tiba ia menepuk dahi. “Obon! Saya ingat sekarang. Saya kenal. Ia pernah tinggal di daerah ini sebelum di gusur.”
Amuh hampir tidak percaya mendengarnya. Bapak bertubuh tambun itu mengenal Kang Obon. Dunia terasa kembali terbuka luas di depan Amuh.
            “Bagaimana saya bisa menemuinya?”
            “Saya biasa melihatnya ditempat kerjanya. Kebetulan tempat kerja Obon biasa saya lalui setiap hari.”      
Amuh menarik napas lega. Ia begitu berterima kasih pada laki-laki yang mengingatkannya pada sebuah wajah di televisi saat ia menonton  di rumah pak lurah.
            “Dari sini memang agak jauh. Tapi nggak apa-apa. Dalam waktu satu setengah sampai dua jam kita bisa sampai ke sana.”
Amuh tidak lagi peduli berapa lama lagi waktu yang ia perlukan agar bisa bertemu dengan kang Obon. Pak Sobri, nama laki-laki ramah itu,  meminta Amuh menunggu sepuluh menit untuk bersiap. Dengan  menumpang bis kota, mereka berangkat. Sekitar satu jam kemudian mereka turun di perempatan. Dari perempatan Amuh mengikuti pak Sobri menaiki mokrolet yang penuh sesak.  Lima belas menit kemudian mereka turun di sebuah gang. Amuh mengikuti pak Sobri masuk gang sempit itu. Sebentar kemudian mereka sudah sampai di gang agak besar. Dengan mengikuti kelokan gang yang agak menurun, mereka sampai di sebuah rumah yang cukup besar di ujung kelokan. Pak Sobri mengajak Amuh memasuki gerbang rumah besar itu.
            “Yang saya tahu ini tempat kerja Obon. Tunggu sebentar di sini.”
Amuh memperhatikan Pak Sobri menghampiri dua petugas di sudut kanan rumah besar ini. Tak lama kemudian mereka dipersilahkan masuk melewati pintu samping. Pak Sobri meminta Amuh menunggu di beranda kecil. Sementara menunggu, ia meneliti seisi ruangan. Ada lukisan kuda berlatar pemandangan di dinding. Tepat di sebelah Amuh ada pot bunga berisi mawar segar. Di sebelah paviliun, sebuah taman tertata cukup rapi dengan batu-batu kecil dan rumput hijau yang terawat. Mungkin ini hanya salah satu dari beberapa paviliun  di rumah besar ini. Amuh diliputi perasaan haru sekaligus bangga saat melihat betapa rapi dan nyamannya tempat kerja Kang Obon. Tiba-tiba ia merasa bangga memiliki suami Kang Obon yang beruntung memiliki pekerjaan di tempat nyaman ini, padahal Kang Obon hanya lulusan SD. Ah, banyak sekali yang akan ia ceritakan ke emak dan si Oji kalau nanti ia pulang. Seperempat jam kemudian, Pak Sobri kembali datang ditemani seorang perempuan setengah baya berambut pendek dan berponi yang menyambut Amuh dengan senyum ramah.
            “Obon memang kerja dan tinggal di sini. Tapi hari ini ia lagi tugas keluar. Mungkin baru nanti malam ia kembali.”
Amuh menarik napas lega. Menunggu sampai nanti malam bukan waktu yang lama bagi Amuh.
            “Ruangan Obon ada di sebelah. Tapi di kunci. Sementara menunggu, kamar ini bisa dipakai untuk istirahat.” Perempuan itu mengajak Amuh masuk ke sebuah kamar yang juga tertata rapi.
            “Kamar mandi juga ada di dalam kamar. Anggap saja rumah sendiri.” 
Kata perempuan itu sebelum menutup pintu.
            “Terima kasih.”
Hanya  itu yang bisa diucapkan Amuh. Kata-kata itu pula yang diucapkan Amuh kepada Pak Sobri yang segera pamit pulang.
            Sepuluh menit kemudian, kamarnya diketuk. Seorang wanita tua mengantarkan segelas air jeruk dan makanan kecil. Amuh hanya meminum air jeruk saja sampai habis. Ia tidak bernapsu untuk mencicipi makanan kecil. Sambil membaringkan badan ke kasur Amuh menatap langit-langit kamar. Membayangkan emak dan si Oji. Membayangkan nanti malam ia akan bertemu dengan Kang Obon. Apa yang akan dilakukannya?   O, iya. Sebaiknya ia membersihkan badan dulu sekarang. Tapi nanti saja. Amuh menggeliat merasakan kantuk yang pekat. Perjalanan sejak dari kampung, pengalamannya dengan sopir dan kernet di warung kopi sangat menguras tenaga dan pikirannya. Hanya sebentar saja Amuh sudah jatuh terlelap. Dalam lelapnya Kang Obon datang. Memeluknya dengan kerinduan yang sangat. Mencium keningnya. Menyapu bau tubuhnya. Ia ingat saat-saat pertama bertemu dengan Kang Obon. Laki-laki yang membuatnya tertarik karena kesederhanaan dan kesopanannya. Amuh membelai rambut Kang Obon yang sudah panjang. Tubuhnya begitu kekar. Tapi… Kang Obon tidak kekar. Ia kurus. Rambutnya juga tidak biasa panjang. Apakah Jakarta telah mengubah Kang Obon? Amuh tersentak. Ini bukan mimpi. Amuh memaksakan membuka mata. Dalam keremangan lampu lima watt ia melihat bukan Kang Obon yang tengah menindihnya. Tapi orang lain. Entah siapa. Ia berteriak.
                                                             *
             Sementara itu, sekitar delapan kilometer dari rumah besar itu ke bagian selatan kota Jakarta, seorang laki-laki tengah duduk mencangklong, di sebuah trotoar berdebu. Di sampingnya tergeletak pacul, blencong dan pengki. Berharap seorang kontraktor sudi menyewa tenaganya. Dengan itu ia bisa mendapatkan sedikit uang untuk ongkos pulang. Tapi sejak enam bulan lalu, tak satupun kontraktor yang datang. Udara panas kota Jakarta membuat peluh mengucur di sekujur tubuhnya. Bayangan Amuh dan Oji begitu lekat beberapa hari belakangan ini. Esok ia harus pulang. Bagaimanapun caranya. Meski tak sepeserpun uang di saku. (Yeni Ratnakomala)

Cerpenku: Andrina

Published by Kompas Minggu (August 1999)
Terjemahan bebas dari karya George Mackay Brown  “Andrina”, dalam buku The Oxford Book of Scottish Short Stories, Douglas Dunn, Oxford University Press 1995, hal 327-333. 

Andrina biasa datang berkunjung di senja musim dingin, sebelum hari gelap. Dia akan menyalakan lampu, menghidupkan perapian dan memeriksa air minum. Jika aku sakit ( meskipun cukup jarang karena aku seorang pelaut tua yang cukup kuat) dia cerewet. Dia akan meletakkan lebih banyak suluh ke perapian, mengisi botol minum dengan air panas, memakaikan baju hangat wol tebal ke tubuhku. Setelah dia pergi, aku melepaskan baju hangat itu dan meminum toddy  (whiski dengan air panas dan gula). 
            Akhir Februari tahun lalu aku terserang demam yang cukup  berat. Sakit paling buruk yang pernah aku derita. Aku terbangun dengan tubuh menggigil, merangkak turun dari tempat tidur  untuk menyiapkan sarapan pagi dengan napas terengah-engah ---entah kenapa, sepertinya ada yang menghambat jalur napasku---. Kupaksakan diri untuk makan dan minum teh hangat.  Pagi itu aku tidak bisa melakukan apa-apa selain terbaring di tempat tidur. Aku paksakan membaca buku. Tapi ini juga tidak membuatku nyaman. Kepalaku sangat berat. Hari ini Andrina akan datang sekitar jam lima atau enam. Meskipun dia tidak akan bisa melakukan apapun untuk meringankan sakitku, aku akan senang melihatnya.

Sayang Andrina tidak muncul.Aku mengharapkan dia datang. Kubayangkan dia membuka pintu pelan-pelan lalu  kudengar sapaan yang lemah lembut. Barangkali ia  akan menyatakan  dengan manis ketidaksetujuan --seperti yang biasa dilakukannya-- terhadap hal-hal yang dilihatnya setelah ia menyalakan lampu. Ruangan ini memang sangat berantakan. Toh orang sakit tidak akan perduli dengan apapun di sekelilingnya.   Namun sampai hari gelap, Andrina tidak datang. Barangkali ada alasan yang membuatnya tidak bisa datang. Aku tetap menunggunya sampai tertidur. 
            Aku terbangun pada saat silau matahari masuk dari jendela. Tenggorokanku kering. Mukaku panas bagai terbakar. Kepalaku bertambah berat. Aku bangkit mengambil air minum dan  kembali ke tempat tidur. Gigiku menggelutuk. Dalam keadaan menggigil, aku kembali tertidur dan bangun menjelang sore. Sore ini Andrina pasti datang. Hari ini ada hal-hal yang harus dilakukan Andrina : membeli aspirin, menyelimuti tubuhku, atau menuang minuman. Tapi dia tidak datang. Dia juga tidak datang di senja ketiga.

Aku terbangun. Gemetar. Malam sangat gelap. Angin berhembus dari cerobong asap. Ada percikan air hujan di jendela. Bagiku ini malam terpanjang yang aku rasakan dalam hidupku.

Saat terbangun aku mendengar untuk  pertama kalinya sejak empat hari lalu, suara seseorang. Itu suara Stanley, tukang pos yang berbicara pada anjing milik tetangga sebelah. “Ada paket katalog buat Minnie. Bilang pada Minnie ada surat  cinta buatnya. Ayo panggil! Bagus! Anjing pintar.  Hai Minnie kamu disitu ? Aku takut Ben si tua ada disini dan mendampratku. Ya, Minnie, hari ini sangat cerah….”.
Aku tidak pernah menyukai tukang pos itu. Tapi pagi ini dia lewat ke depan jendelaku. Dia membuka pintu tanpa mengetuk lebih dulu.
“Ada surat dari tempat yang sangat jauh, Pelaut!” Dia meletakkan surat itu di kursi dekat pintu.
“Aku lagi sakit, aku khawatir tidak bisa….”  Kataku. Suaraku teramat pelan. Tukang pos itu melihat perapian yang padam dan jendela yang tertutup. “Wow, ruangan ini apek. Ingin udara segar?” lalu dia menutup pintu dan pergi. Aku teringat kapten Scott yang menulis beberapa kalimat terakhir  di tenda Antartika.

Padaa saat sakit seperti ini aku merana. Aku kasihan dengan nasib diri.  Teman-teman pergi meninggalkan aku. Aku dihianati dan dibuang pada saat terpuruk. Tapi aku harus tegar. Seorang pelaut tua yang kuat sepertiku tidak mudah begitu saja menyerah. Aku berkata, “Torvald, kamu ini mengharapkan apa? Apa yang kamu inginkan pada seorang gadis dua puluh satu tahun yang sangat menarik hati. Coba pikir dengan cara ini. Andrina, dengan kebaikan dan perhatiannya, sudah menghabiskan musim dinginnya  bersamamu. Gadis itu telah membawa sinar terang di waktu gelapmu. Karena suatu alasan ia  tidak datang beberapa hari ini. Aku harus menemukan alasan ketidakhadirannya sekarang,”
Aku memutuskan untuk turun dari tempat tidur dan pergi ke pusat desa. Sekalian mengambil uang pensiun ke kantor pos dan membeli persediaan makanan. Dua mil berjalan dengan susah payah sungguh membuatku tersiksa.
Ternyata aku tidak tahu apapun tentang Andrina. Aku tidak pernah menanyakan apapun dan dia tidak pernah menceritakan apapun. Siapa ibunya, siapa bapaknya, berapa saudaranya, dimana dia tinggal. Hal-hal itu  tak pernah terlintas dalam percakapan kami. Bagiku sudah cukup dia datang setiap sore menjelang malam dengan menunjukkan perhatian dan dukungannya, berlama-lama sebentar dan pergi dengan meninggalkan kedamaian di hati.
            Musim dingin lalu dia bertanya tentang diriku. Semua hal yang baik, buruk dan menyenangkan yang pernah aku alami. Aku menceritakannya. Seorang laki-laki tua selalu menyukai masa lalunya. Ia akan menceritakan dengan  bersemangat seakan-akan semua masa lalunya itu penting untuk diketahui. Aku menggambarkan diriku di masa muda sebagai seorang pemuda pemberani yang juga sembrono. Karakterku perpaduan antara karakter Kapten Cook dan Kapten Hook. Aku juga menambahkan petualanganku dengan figur-figur menakutkan di begitu banyak pelabuhan dari Hongkong, Durban sampai San Fransisco. Andrina menyukai ceritaku. Dia akan mengecilkan sumbu lampu, mengatur perapian lebih kecil untuk menciptakan suasana lebih misterius. Di antara berbagai pengalaman yang aku ceritakan, ada satu episode yang tidak kuceritakan dengan lengkap. Episode menyakitkan dalam hidupku, kapanpun aku pikirkan itu. Episode itu tetap menghantui disaat aku sakit seperti sekarang.
Di sore terakhir Andrina bersamaku, dia duduk dekat perapian, Aku bercerita.  Sebelum ceritaku selesai --- seakan Andrina tahu akhir cerita yang menyedihkan---tiba-tiba Andrina menatapku dengan hambar. Ia memberikan ciuman di pipi. Lalu dia pergi.

            Ceritanya berawal dari sebuah pulau, lima puluh tahun lalu. Alkisah ada sepasang anak muda yang tengah dimabuk asmara. Seusai pesta dansa di suatu musim panas, mereka berjalan bergandengan tangan melintasi bukit batu, menikmati senja yang menakjubkan dan memandangi matahari tenggelam di pesisir laut. Mereka bertemu : di persimpangan jalan, di toko kampung, disisi bukit. Tapi dari tempat-tempat  pertemuan itu, mereka lebih menyukai pertemuan di pantai. Disana mereka bisa bebas berdua. Tak ada orang lain mengganggu kecuali teriakan burung laut dan debur ombak. Mereka bertemu dari malam satu ke malam lainnya dan bercinta. 
Di suatu senja di salah satu gua pesisir pantai, si gadis mengatakan suatu rahasia dengan gemetar. Si pemuda menggeleng dan berpaling. Dia menatap seakan si gadis seorang pelacur liar. Dia pergi meninggalkan si gadis dan berlari sepanjang pesisir pantai sampai ke tepi jalan.  Tanpa pernah menoleh lagi.
Dia kemudian menjadi pelaut  yang berpetualang melintasi benua : Kanada, Australia, Afrika Selatan. Dia pergi kemanapun untuk menghindari si gadis yang terus mengikuti dengan segenap cintanya. Waktu terus bergulir sampai tiba rambut-rambut putih tumbuh. Dia kembali pulang. Berharap lima puluh musim dingin yang dilaluinya akan berhasil menyembuhkan luka lama. Dia menaiki bukit berbatu dan melihat ke sekeliling. Dalam kehampaan dia ingat wajah seorang wanita yang pernah ada dan kemudian pudar dalam hidupnya.

 Tina Stewart adalah pegawai pos yang mengetahui setiap orang dan segala sesuatu di pulau ini. Aku mendekatinya.  Aku ingin tahu apa saja berita yang beredar belakangan ini : apakah ada orang yang tiba-tiba sakit ? Apakah ada seseorang – misalnya seorang perempuan muda – mendadak meninggalkan pulau ini untuk alasan apapun ? Tina Stewart menatapku dengan mata menyelidik.
“Tidak,” katanya. “Tak ada satupun yang datang atau pergi. Hanya kamu, kapten Torvald, yang tinggal sepanjang hari di tempat tidur. Coba perhatikan kesehatanmu sendiri. Kamu sendirian di rumah. Wajahmu pucat…”
Aku bertanya barangkali dia tahu daerah pertanian dimana Andrina tinggal. Tina Stewart menatapku sejenak. Lalu menggeleng. Sepanjang pengetahuannya tidak ada seorangpun dengan nama itu disini. Dan tidak pernah ada. Aku beranjak dengan tangan gemetar. Aku perlu minuman segar. Di suatu bar kecil aku melihat Isaac Irving pemilik bar. Aku juga menanyakan Andrina kepadanya.
“Andrina selalu datang setiap senja ke rumahku, Untuk menata rumah, memasak dan mencuci untukku. Sudah seminggu lebih ini dia tidak muncul. Kamu tahu tentang gadis ini?”
Isaac menatapku seakan-akan aku sudah kehilangan akal. “Seorang perempuan muda datang ke rumah kau? Menyelesaikan pekerjaan rumah? Betulkah? Aku betul-betul tidak tahu. Berapa banyak gelas minuman yang kau habiskan sebelum kesini, pelaut ” Aku minum gelas keempat dan bersiap pergi.
            “Sorry pelaut,” kata Isaac. “Aku sarankan, saat kau demam, kau bayangkan saja gadis itu, siapapun namanya. Satu-satunya perempuan yang aku lihat pada saat aku demam adalah iblis betina. Kau masih untung, memimpikan seorang Andrina,”
Isaac Irving tahu pulau ini beserta semua penduduknya. Bahkan lebih tahu dan Tina Stewart.
Sampai di rumah aku mendapatkan secarik surat yang tergeletak di atas meja. Surat itu bercap Pos Australia :
Aku mengikutimu dari Selskay mengikuti arah putaran dunia sampai  akhirnya berhenti di Tasmania. Setelah aku sadar tak ada gunanya bagiku untuk pergi lebih jauh mencarimu. Aku menyimpannya sendiri. Aku tidak ingin kau terganggu. Aku tidak ingin kau menderita sepertiku. Selama bertahun-tahun.   Kita berdua sudah tua. Aku menulis ini mungkin sia-sia. Karena mungkin saja kau tidak kembali ke Selskai atau barangkali kamu sudah sirna seperti debu atau membeku bersama garam laut. Jika kau masih hidup (dan ku pikir kau kesepian), barangkali suratku akan membuatmu bahagia, meskipun akhir cerita ini menyedihkan. Tapi inilah kehidupan. Anak perempuanmu --- anak kita --- aku  tidak ingin mengatakan apapun karena kau tidak ingin mengenal dan mengakuinya. Aku ingin mengatakan satu hal padamu :  anak itu telah memiliki anak perempuan  yang telah memberiku nuansa kebahagiaan. Bagiku, ia adalah pelita kebahagiaan. Aku harus berterima kasih padamu yang telah memberikan pelita yang juga melahirkan pelita. Ia juga menjadi pelitamu di musim dingin. Aku sering bercerita tentang kau ---dan saat saat musim panas yang pernah kita lalu bersama di masa lampau. Masa yang sudah lama berlalu---kepadanya.    Aku mengatakan hal-hal manis dan menyenangkan tentang kita. Dia berkata,” Aku ingin tahu dan mengenal kakekku. Apakah dia kesepian? Dia pasti akan senang dan bahagia jika ada seseorang yang membuatkannya secangkir kopi panas dan menjaga perapiannya. Suatu saat aku akan pergi ke Scotland. Aku akan mengetuk pintu rumahnya, dimanapun dia tinggal, aku akan melakukan apapun untuknya. Apakah nenek sangat mencintainya? Dia pasti orang baik. Aku akan menjenguknya. Aku akan mendengar cerita lama itu dari mulutnya sendiri. Lebih dari itu, tentu saja tentang kisah cinta. Karena nenek tidak pernah menceritakan apapun  tentang itu”.
Aku menulis surat ini hanya untuk memberi tahu bahwa ini sudah berakhir dan tidak akan terjadi lagi. Cucu kita, Andrina meninggal seminggu yang lalu, di awal musim semi. Kecelakaan tiba-tiba merenggut nyawanya…

Di perapian, aku duduk  tercenung. Andrina adalah tunas yang tumbuh dimusim dinginku. Namun tunas itu telah gugur. Ia membawa pergi sejumput kenangan tentang  bagaimana dia datang di saat cahaya bintang bersinar di langit. Barangkali nun di atas sana, dalam kemayaan, Andrina tersenyum melihatku menangis.  (Yeni Ratnakomala)

Cerpenku: Sapu Tangan

Published by Tabloid Nova (November 1999)
Wulan mengaduk orange juice yang sudah habis hampir setengahnya.  Di hadapannya Rosa masih terus bercerita. 
            “Beberapa kali aku berusaha mengakhiri. Beberapa kali pula gagal. Belakangan  aku malah berpikir untuk menyerah saja. Biar saja waktu yang membuktikan  mau ke arah mana hubunganku dengannya.”
            “Suamimu?”  tanya Wulan.
Rosa mengangkat bahu. Ia menghabiskan sisa-sisa potongan kecil daging ayam dari
mangkok sotonya. Lipstiknya sudah lama pudar terhapus kuah bersantan. 
“Dia adalah laki-laki yang tidak pernah jujur. Selalu bersembunyi di belakang kedoknya. Seringkali aku berpikir dia sangat berperan besar membuat keadaan kami seperti ini. Aku begini karena dia begitu,” Rosa menarik napas dan melanjutkan kalimatnya. “Tapi dia cukup pandai menyembunyikan kebusukannya.”  Ia mengangkat gelas berisi teh manis dingin di depannya. Dengan sekali regukan, hampir setengah isi gelas berpindah ke perutnya yang langsing. 
            “Bagaimana kalian bisa hidup satu atap kalau rasa saling mencurigai satu sama lain terus dipupuk. Sampai kapan kalian bisa bertahan?”
            “Entahlah.” Kata Rosa sambil menyedot rokoknya. “Akhir-akhir ini aku nggak perduli. Aku malah semakin enjoy berhubungan dengan kekasihku. Dia sangat baik. Perhatian. Sabar.” 
Asap mengepul membentuk gulungan. Semakin ke atas semakin pudar dan pecah meninggalkan sisa-sisa kepulan seperti kabut tipis. 
            “Aku khawatir kau lebih melihat kelebihan dan kebaikan kekasihmu daripada suamimu. Sebaiknya kau pertimbangkan resikonya. Bagaimanapun, dia masih suamimu. Kau pikirkan perasaan suamimu saat tahu kau berhubungan dengan laki-laki lain,”
Rosa tertawa.
“Apa dia memikirkan perasaan aku saat berhubungan dengan wanita lain?”
Wulan tepekur. Ia tidak bisa mengatakan apapun karena hal ini tidak pernah dialaminya. Ketidakjujuran dan ketidakpercayaan terhadap suami dilampiaskan Rosa dengan melakukan perselingkuhan. Sayangnya, Rosa kemudian menikmatinya. Diam-diam Wulan merasa menjadi orang yang lebih beruntung dari Rosa. Secara lahiriah, Rosa boleh memiliki banyak kelebihan. Cantik, kaya dan karir yang cukup bagus. Tapi ia tidak memiliki suami seperti Hartono yang mempercayai dan dipercayainya. Yang dimiliki Rosa hanya suami yang mencurigai dan dicurigainya.
“Bagaimana hubunganmu dengan suami?”  
            “Kami baik-baik saja,”
            “Ada yang perlu diceritakan?”
Wulan menggeleng.     
            “Aku dan dia menjalani runtinitas keseharian kami dengan  bahagia. Bangun pagi, menyiapkan sarapan. Sama-sama pergi ke kantor. Sepulang kerja, aku menyiapkan makan malam. Sementara menunggu suami pulang, aku baca-baca. Setelah dia pulang, kami makan malam bersama sambil menceritakan pengalaman seharian. Kalau masih sempat nonton tivi. Lalu tidur. Itu saja.”
            “Apa suamimu pernah menjalin hubungan dengan wanita lain?” Desak Rosa.
            “Mudah-mudahan nggak. Aku mempercayainya.”
            “Kepercayaan jangan terlalu diandalkan secara membabi-buta.”
            “Tentu saja nggak.” 
Jam satu tepat, keduanya segera meninggalkan cafe.


                                                            *
Laki-laki tinggi besar itu terus memburu Wulan. Ia berdiri diantara pohon-pohon tebu yang batang-batangnya rebah diinjak sepatu boot yang membalut kaki-kaki besar miliknya.  Beberapa meter dari situ, Wulan tengkurap tanpa napas. Ia merasakan lumpur becek  meresap ke dalam bajunya. Nyamuk-nyamuk seakan berpesta di sekitar tubuhnya. Tapi ia memilih tidak bergerak dan membiarkan nyamuk-nyamuk itu menggigiti dan menyedot darah di bawah kulitnya. Beruntung malam yang gelap tanpa bintang menolong dirinya.  Wulan terbangun. Keringat dingin mengalir.  Sentuhan di pundak menenangkan dirinya.
            “Ada apa?”  
Wulan menggeleng. Ia masih merasa belum siap untuk menceritakannya. Padahal sudah dua tahun Hartono menjadi suaminya.   Waktu yang sebenarnya cukup untuk menceritakan bayangan buruk masa lalunya.  Wulan masih merasakan perihnya kaki yang penuh baretan luka terkena tanaman liar dan ranting-ranting yang berserakan di perkebunan tebu itu.  Toh,   ia sangat bersyukur, kehormatannya masih terjaga. Meskipun dengan begitu ia harus pergi dari rumah meninggalkan ibu. Ibu meminta Wulan untuk tidak usah kembali. Ia terlalu percaya sama laki-laki itu yang selama ini harus dipanggilnya bapak.   
            “Kamu nggak bisa memendamnya sendiri, Wulan.”
Kata Hartono sambil mengelus pundaknya.  “Kapanpun kamu siap. Tolong aku diberitahu. Aku siap mendengarkannya.” 
Kata-katanya menyejukkan. Wulan bersyukur Hartono  masih tetap memiliki kesabaran yang cukup untuk menunggu sampai dia siap mengatakannya.
                                                            *
            Selamat ulang tahun.
Sekali lagi Wulan membaca hasil sulamannya di saputangan berwarna biru muda sebelum memasukkannya ke kotak kecil yang sudah disiapkan. Di ulang tahun Hartono kali ini, ia memilih menghadiahkan sebuah saputangan bersulamkan kata-kata yang akan selalu mengingatkan Hartono  pada dirinya.  Sepasang lilin sudah terpasang   di atas meja makan. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana mereka biasa merayakan hari ulang tahun masing-masing dengan makan di luar, kali ini Wulan ingin merayakannya di rumah saja.  Ia sudah menyiapkan makan malam yang romantis. Pada saat bersantap nanti, ia siap menceritakan semuanya. Kesabaran Hartono membantu mempercepat kesiapan Wulan menceritakan masa lalunya yang pahit.  Namun sampai jam sembilan malam, Hartono tidak muncul.  Jam setengah sepuluh telepon berdering.
             “Wulan,” Suara Hartono di seberang telepon.
            “Mas di mana?” Kata Wulan dengan khawatir.
            “Di kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku pulang telat. Kamu makan aja dulu. Nggak usah nunggu.”
Wulan tercenung. Ia memutuskan untuk menunggu. Jam satu lewat sepuluh malam Hartono baru pulang.  “Maaf. Aku membiarkan kamu menunggu. Aku kan sudah bilang tidak usah menunggu,” Katanya. 
        “Tidak apa-apa. Aku ingin menunggu kamu pulang di hari istimewa-mu. Selamat ulang tahun, ya,” Kata Wulan sambil mendaratkan ciuman selamat di pipi Hartono. Ia kemudian menyodorkan kado kecil yang langsung di buka Hartono.
           “Terima kasih, sayang,” Katanya.
Wajah penat Hartono membuat Wulan urung mengatakannya sekarang.  Apalagi dalam sesaat dia sudah jatuh tertidur. Kasihan. Untuk mewujudkan  satu impian memang perlu kerja keras. Impian mereka. Sebuah rumah mungil yang ditengahnya ada kolam kecil berisi air jernih dengan ikan-ikan kecil yang berenang riang di dalamnya.
            “Beri saya waktu dua tahun untuk mewujudkan impian kita.” Kata Hartono suatu hari. Jangankan dua tahun, lima atau sepuluh tahunpun Wulan sanggup menunggu.
Lagi pula, tentang masa lalu itu, masih ada hari-hari esok.   

                                                            *
            “Hampir saja aku ketahuan.” Kata Rosa. “Suamiku datang pada saat dia ada di rumah.”
            “Bagaimana itu terjadi?”
            “Aku pikir suamiku kembali dari Hongkong hari minggu. Ternyata, karena suatu alasan,  ia mempercepat kepulangannya.”
            “Lantas?”
            “Aku sembunyikan dia di gudang belakang rumah. Dia baru keluar setelah  suamiku tertidur.”
            “Itu suatu pertanda,”
“Pertanda apa?’
            “Kau harus mulai sadar. Aku khawatir suatu saat kau betul-betul kepergok. Serapi-rapinya menyimpan bangkai, pasti akan ketahuan juga.”
            “Tapi sungguh sangat sulit melepaskan dia, Barangkali aku akan terus menjaga hubungan ini. Apapun yang terjadi,” Kata Rosa.   Ia tertawa.  Seperti menertawakan dirinya. Sampai ia tersedak. Mulutnya yang masih penuh dengan kuah soto menyembur keluar tanpa bisa di tahan lagi.  
            “Sorry,” Rosa terus terbatuk. Wajahnya memerah.  Dia mencari-cari sesuatu dari tasnya. Sebuah saputangan menyembul dari dalam tasnya. Saputangan itu berwarna biru muda. Selintas Wulan membaca sulaman tulisan di ujung sapu tangan itu : Selamat ulang tahun.  Sapu tangan yang ia berikan di hari ulang tahun Hartono. (Yeni Ratnakomala)

Cerpenku: Surat

Published by Tabloid Nova (August 1999)
Berkas-berkas kertas masih berserakan di lantai. Gelas berisi  kopi hangat lima atau enam jam lalu  kini tinggal menyisakan ampas kopi didasarnya. Sebenarnya aku masih berniat menambah satu gelas kopi lagi agar kerjaanku hari ini selesai dan besok pagi aku bisa mulai mengerjakan yang lain. Tapi tenagaku sudah terkuras habis.  Aku  menarik napas dalam dan panjang. Menghilangkan kepenatan. Di luar, suara jengkerik dan binatang malam lainnya saling bersahutan. Ada suara gemuruh di atap. Setiap malam tikus-tikus itu berpesta. Kali ini entah pesta apa lagi yang mereka gelar. 
Semestinya aku masih harus bersyukur menempati kamar berdinding papan triplek ini. Ada tempat tidur berkasur kapuk yang meskipun sudah usang tapi masih layak pakai. Ada lemari  yang kini kuisi dengan beberapa helai baju. Ada juga meja untuk menulis.  Kurebahkan badan ke atas kasur. Kugeliatkan tanganku melewati kepala sambil memejamkan mata.  Namun kepenatan yang sangat telah menghilangkan rasa  kantuk. Aku  bangkit. Kuambil sehelai kertas.
            Ibu, apa kabar. Anakmu kini berada di Sangir, sebuah desa terpencil di daratan Sumatera. Aku dalam keadaan baik-baik. Bulan depan aku akan pulang…
Tulisan sependek inipun pasti akan membuat ibuku senang.  Aku tidak pernah lupa untuk menulis secuil kabar buat ibuku dimanapun aku berada.
Suara gemuruh di atap semakin ribut.  Kuambil sapu ijuk dari pojok kamar dan menempelkan ujung gagangnya ke atap sambil kuketuk-ketuk meminta pengertian para tikus agar sedikit tenang karena di bawah sini ada manusia yang tidak menyukai keriuhan mereka. Apalagi di larut malam seperti ini. Lalu kuambil  selembar kertas yang lain.
            Karin sayang, apa kabar?   
Rasa penatku hilang saat penaku menari menuliskan nama Karin. Kata-kata ini pernah kukatakan padanya tiga bulan lalu lewat telepon. 
            “Aku baik-baik saja. Ada apa malam-malam begini telepon?” katanya waktu itu.
            “Hanya ingin mendengar suaramu.”
“Gombal!” pekiknya di telepon. Lantas dia tertawa senang.
“Malam sudah larut. Kamu ada dimana?”  lanjutnya.
            “Di kantor. Aku dikejar dead line besok.”
Lalu aku terlibat percakapan yang panjang dengannya. Dengan Karin aku tidak pernah kehabisan bahan obrolan. Sayang, aku harus memutuskan percakapan ini untuk melanjutkan pekerjaan yang pada saat-saat dikejar dead line seperti ini membuatku stress. Dua hari kemudian, kami bertemu. 
                                                             *
             “Aku tidak setuju dengan pendapat saudara….”
Kata gadis berambut cepak yang duduk di deretan depan kursi dan  tengah memegang mikrofon itu berusaha menyebut namaku, dua tahun lalu.
            “Hendraning,”
“Ya. Saudara Hendraning. Karena menurut saya masalah sumber daya ini tidak sesempit yang digambarkan saudara. Masalah ini lebih kompleks dan sebaiknya ditinjau dari berbagai aspek. Dari aspek sosial… misalnya.”
Aku menyimak uraiannya yang panjang lebar.  Aku terkesan dengan keberanian dan ketegasannya menyampaikan pendapat.  Sejak itulah aku mulai menyimpan perhatian pada Karin.
Aku kembali dipertemukan dengan Karin di suatu seminar. Ia masih galak dengan argumen-argumennya yang tegas. Baru di pertemuan ketiga, waktu itu aku melakukan suatu peliputan di sebuah acara dimana dia juga bertugas meliput, aku bisa bercakap dengannya. Pertemuan itu juga berawal dengan ketidakenakan. Waktu itu hampir terjadi perselisihan kecil antara aku dan Karin. Soal kecil sebenarnya. Tentang kartu identitas pers yang diyakini Karin aku memakai miliknya. Padahal aku merasa kartu yang aku pakai tidak tertukar dengan milik orang lain.  Namun setelah itu, kami bisa melakukan beberapa percakapan kecil tanpa perselisihan atau argumen. Lalu kami kerapkali bertemu.  Dengan sengaja. 
Ini hari ke tujuh ratus lima puluh dua sejak kita bertemu. Kau selalu menghitung usia pertemuan kita.  Aku juga mulai terbiasa menghitung hari demi hari. 
Karin, suatu hari kau pernah mengajak bertaruh tentang apa yang akan terjadi di hari keseribu usia pertemuan kita. Aku katakan biarkan waktu yang membuktikan…biarkan waktu bergulir dengan sendirinya.
“Apa yang kau mau?”  tanyaku. 
“Ajak aku pergi ke suatu tempat yang belum pernah aku kunjungi.” Pintamu.
“Bilang, ya.” Katamu merajuk. Helai-helai rambutmu didahi berkibar dihempas angin. Aku bilang ya.  Bila saat itu tiba, ingatkan aku dengan janjiku. Saat itu senja mulai turun. Lembayung di kaki langit berwarna merah.  Buih-buih ombak pecah di ujung kakimu yang telanjang. 
Lalu gemuruh ombak berganti dengan gemuruh di atap. Tikus-tikus itu tidak akan pernah membiarkan aku sendirian dengan lamunan manis.
                                                             *
Empat hari yang lalu, aku memutar sebuah nomor telepon.
            “Karin cuti. Ayahnya sakit.”
Itu kata teman kantor Karin di telepon . Aku tercenung. Begitu mendadak.  Lebih mendadak dari tugas yang juga datang mendadak: meliput potret kemiskinan di desa yang selama empat hari ini aku tinggali.   Karena tugas mendadak ini aku harus membatalkan pertemuanku dengan Karin.  Tapi ternyata kepulangan Karin juga  tidak memungkinkan kami untuk bertemu.
Lantas sesuatu mendorongku untuk mendatangi kota sejuk kelahiran Karin. Aku harus menemui Karin sebelum berangkat untuk memastikan dia baik-baik saja. Dorongan itu begitu kuat. Wajah Karin seakan berlari diantara deretan pohon-pohon hijau dan teduh sepanjang jalan.  
“Aku pernah punya pikiran cinta itu adalah sebentuk belenggu. Sukar terbebas pada saat kita terjerat didalamnya. Bahkan aku tidak tahu lagi bagaimana bisa melepaskan diri.” Kata Karin.
Wajah Karin semakin nyata di pelupuk mata saat aku menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di sebuah rumah. Seorang wanita setengah baya membukakan pintu.
            “Selamat malam….  Ini rumah Karin?”
Wanita itu lama menatapku sebelum akhirnya ia mengangguk. 
            “Mmm…dia ada?”
Ia masih menatapku.  Barangkali ia berpikir siapa laki-laki lusuh yang datang pada jam delapan malam mengetuk pintu rumah dan menanyakan anak gadisnya.
            “Nak siapa?”
            “Saya….. teman Karin dari Jakarta.   Boleh saya ketemu?”
            “Karin sudah kembali ke Jakarta tadi sore. Setelah ayahnya meninggal kemarin…” katanya dengan mata berkaca. Ia  berusaha melanjutkan kata-katanya. “Karin tidak tahan untuk berlama-lama tinggal. Semua hal di rumah ini akan selalu mengingatkannya pada ayahnya,”
 Kamu mewarisi semua hal-hal bagus yang dimiliki ibumu. Mata, hidung, bibir dan dahi.    Sebaiknya kamu tetap bersamanya barang beberapa saat. Saling menghibur dan berbagi. Bukankah beban kesedihan akan terasa lebih ringan kalau ditanggung bersama? 
Aku merasa sangat penat dan lunglai. Perjalanan empat jam menuju tempat Karin tidak membuatku penat. Tapi kegagalanku menemui Karin dan berita meninggalnya ayah Karin membuat tenagaku seperti terkuras habis. Aku lelah. Bahkan untuk sekedar melangkahkan kaki meninggalkan halaman rumah ini.  Sayang aku tidak punya waktu lagi untuk menemui Karin. Jam enam pagi besok aku harus segera berangkat.
            Aku tahu beban kehilangan ini begitu berat bagimu. Andai saja saat ini aku ada bersamamu….   Terkadang aku menyesali waktuku, waktu kita,  yang sangat terbatas.  Aku ingin menggantikan waktu kita yang hilang  setelah aku pulang  dari desa  ini.
   
            Malam sudah berganti dengan subuh. Kokok ayam mulai terdengar. Aku melipat kertas dan memasukkannya ke dalam amplop. Surat ini akan segera sampai satu atau dua hari sebelum aku pulang.
                                                 *
 Baru saja kopor dan tas kecil kuletakkan di teras,  pintu terbuka. 
“Apa-apaan ini?”
Tatapan mataku terpaku pada  surat bersampul yang kutulis delapan hari  yang lalu di desa terpencil. Sayang aku tidak mengecek ulang alamat yang aku tulis di atas sampulnya. Kutatap punggung Ade, istriku, yang dengan air mata terurai berlari melintasi jalan dengan kopor kecil di tangannya. Bibirku kelu. (Yeni Ratnakomala)