Published by Tabloid Nova (August 1999)Berkas-berkas kertas masih berserakan di lantai. Gelas berisi kopi hangat lima atau enam jam lalu kini tinggal menyisakan ampas kopi didasarnya. Sebenarnya aku masih berniat menambah satu gelas kopi lagi agar kerjaanku hari ini selesai dan besok pagi aku bisa mulai mengerjakan yang lain. Tapi tenagaku sudah terkuras habis. Aku menarik napas dalam dan panjang. Menghilangkan kepenatan. Di luar, suara jengkerik dan binatang malam lainnya saling bersahutan. Ada suara gemuruh di atap. Setiap malam tikus-tikus itu berpesta. Kali ini entah pesta apa lagi yang mereka gelar.
Semestinya aku masih harus bersyukur menempati kamar berdinding papan triplek ini. Ada tempat tidur berkasur kapuk yang meskipun sudah usang tapi masih layak pakai. Ada lemari yang kini kuisi dengan beberapa helai baju. Ada juga meja untuk menulis. Kurebahkan badan ke atas kasur. Kugeliatkan tanganku melewati kepala sambil memejamkan mata. Namun kepenatan yang sangat telah menghilangkan rasa kantuk. Aku bangkit. Kuambil sehelai kertas.
Ibu, apa kabar. Anakmu kini berada di Sangir, sebuah desa terpencil di daratan Sumatera. Aku dalam keadaan baik-baik. Bulan depan aku akan pulang…
Tulisan sependek inipun pasti akan membuat ibuku senang. Aku tidak pernah lupa untuk menulis secuil kabar buat ibuku dimanapun aku berada.
Suara gemuruh di atap semakin ribut. Kuambil sapu ijuk dari pojok kamar dan menempelkan ujung gagangnya ke atap sambil kuketuk-ketuk meminta pengertian para tikus agar sedikit tenang karena di bawah sini ada manusia yang tidak menyukai keriuhan mereka. Apalagi di larut malam seperti ini. Lalu kuambil selembar kertas yang lain.
Karin sayang, apa kabar?
Rasa penatku hilang saat penaku menari menuliskan nama Karin. Kata-kata ini pernah kukatakan padanya tiga bulan lalu lewat telepon.
“Aku baik-baik saja. Ada apa malam-malam begini telepon?” katanya waktu itu.
“Hanya ingin mendengar suaramu.”
“Gombal!” pekiknya di telepon. Lantas dia tertawa senang.
“Malam sudah larut. Kamu ada dimana?” lanjutnya.
“Di kantor. Aku dikejar dead line besok.”
Lalu aku terlibat percakapan yang panjang dengannya. Dengan Karin aku tidak pernah kehabisan bahan obrolan. Sayang, aku harus memutuskan percakapan ini untuk melanjutkan pekerjaan yang pada saat-saat dikejar dead line seperti ini membuatku stress. Dua hari kemudian, kami bertemu.
*
“Aku tidak setuju dengan pendapat saudara….”
Kata gadis berambut cepak yang duduk di deretan depan kursi dan tengah memegang mikrofon itu berusaha menyebut namaku, dua tahun lalu.
“Hendraning,”
“Ya. Saudara Hendraning. Karena menurut saya masalah sumber daya ini tidak sesempit yang digambarkan saudara. Masalah ini lebih kompleks dan sebaiknya ditinjau dari berbagai aspek. Dari aspek sosial… misalnya.”
Aku menyimak uraiannya yang panjang lebar. Aku terkesan dengan keberanian dan ketegasannya menyampaikan pendapat. Sejak itulah aku mulai menyimpan perhatian pada Karin.
Aku kembali dipertemukan dengan Karin di suatu seminar. Ia masih galak dengan argumen-argumennya yang tegas. Baru di pertemuan ketiga, waktu itu aku melakukan suatu peliputan di sebuah acara dimana dia juga bertugas meliput, aku bisa bercakap dengannya. Pertemuan itu juga berawal dengan ketidakenakan. Waktu itu hampir terjadi perselisihan kecil antara aku dan Karin. Soal kecil sebenarnya. Tentang kartu identitas pers yang diyakini Karin aku memakai miliknya. Padahal aku merasa kartu yang aku pakai tidak tertukar dengan milik orang lain. Namun setelah itu, kami bisa melakukan beberapa percakapan kecil tanpa perselisihan atau argumen. Lalu kami kerapkali bertemu. Dengan sengaja.
Ini hari ke tujuh ratus lima puluh dua sejak kita bertemu. Kau selalu menghitung usia pertemuan kita. Aku juga mulai terbiasa menghitung hari demi hari.
Karin, suatu hari kau pernah mengajak bertaruh tentang apa yang akan terjadi di hari keseribu usia pertemuan kita. Aku katakan biarkan waktu yang membuktikan…biarkan waktu bergulir dengan sendirinya.
“Apa yang kau mau?” tanyaku.
“Ajak aku pergi ke suatu tempat yang belum pernah aku kunjungi.” Pintamu.
“Bilang, ya.” Katamu merajuk. Helai-helai rambutmu didahi berkibar dihempas angin. Aku bilang ya. Bila saat itu tiba, ingatkan aku dengan janjiku. Saat itu senja mulai turun. Lembayung di kaki langit berwarna merah. Buih-buih ombak pecah di ujung kakimu yang telanjang.
Lalu gemuruh ombak berganti dengan gemuruh di atap. Tikus-tikus itu tidak akan pernah membiarkan aku sendirian dengan lamunan manis.
*
Empat hari yang lalu, aku memutar sebuah nomor telepon.
“Karin cuti. Ayahnya sakit.”
Itu kata teman kantor Karin di telepon . Aku tercenung. Begitu mendadak. Lebih mendadak dari tugas yang juga datang mendadak: meliput potret kemiskinan di desa yang selama empat hari ini aku tinggali. Karena tugas mendadak ini aku harus membatalkan pertemuanku dengan Karin. Tapi ternyata kepulangan Karin juga tidak memungkinkan kami untuk bertemu.
Lantas sesuatu mendorongku untuk mendatangi kota sejuk kelahiran Karin. Aku harus menemui Karin sebelum berangkat untuk memastikan dia baik-baik saja. Dorongan itu begitu kuat. Wajah Karin seakan berlari diantara deretan pohon-pohon hijau dan teduh sepanjang jalan.
“Aku pernah punya pikiran cinta itu adalah sebentuk belenggu. Sukar terbebas pada saat kita terjerat didalamnya. Bahkan aku tidak tahu lagi bagaimana bisa melepaskan diri.” Kata Karin.
Wajah Karin semakin nyata di pelupuk mata saat aku menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di sebuah rumah. Seorang wanita setengah baya membukakan pintu.
“Selamat malam…. Ini rumah Karin?”
Wanita itu lama menatapku sebelum akhirnya ia mengangguk.
“Mmm…dia ada?”
Ia masih menatapku. Barangkali ia berpikir siapa laki-laki lusuh yang datang pada jam delapan malam mengetuk pintu rumah dan menanyakan anak gadisnya.
“Nak siapa?”
“Saya….. teman Karin dari Jakarta. Boleh saya ketemu?”
“Karin sudah kembali ke Jakarta tadi sore. Setelah ayahnya meninggal kemarin…” katanya dengan mata berkaca. Ia berusaha melanjutkan kata-katanya. “Karin tidak tahan untuk berlama-lama tinggal. Semua hal di rumah ini akan selalu mengingatkannya pada ayahnya,”
Kamu mewarisi semua hal-hal bagus yang dimiliki ibumu. Mata, hidung, bibir dan dahi. Sebaiknya kamu tetap bersamanya barang beberapa saat. Saling menghibur dan berbagi. Bukankah beban kesedihan akan terasa lebih ringan kalau ditanggung bersama?
Aku merasa sangat penat dan lunglai. Perjalanan empat jam menuju tempat Karin tidak membuatku penat. Tapi kegagalanku menemui Karin dan berita meninggalnya ayah Karin membuat tenagaku seperti terkuras habis. Aku lelah. Bahkan untuk sekedar melangkahkan kaki meninggalkan halaman rumah ini. Sayang aku tidak punya waktu lagi untuk menemui Karin. Jam enam pagi besok aku harus segera berangkat.
Aku tahu beban kehilangan ini begitu berat bagimu. Andai saja saat ini aku ada bersamamu…. Terkadang aku menyesali waktuku, waktu kita, yang sangat terbatas. Aku ingin menggantikan waktu kita yang hilang setelah aku pulang dari desa ini.
Malam sudah berganti dengan subuh. Kokok ayam mulai terdengar. Aku melipat kertas dan memasukkannya ke dalam amplop. Surat ini akan segera sampai satu atau dua hari sebelum aku pulang.
*
Baru saja kopor dan tas kecil kuletakkan di teras, pintu terbuka.
“Apa-apaan ini?”
Tatapan mataku terpaku pada surat bersampul yang kutulis delapan hari yang lalu di desa terpencil. Sayang aku tidak mengecek ulang alamat yang aku tulis di atas sampulnya. Kutatap punggung Ade, istriku, yang dengan air mata terurai berlari melintasi jalan dengan kopor kecil di tangannya. Bibirku kelu. (Yeni Ratnakomala)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar