Published by Tabloid Nova (August 1999)
Hampir setiap hari aku melihat laki-laki itu. Ia selalu datang dari arah lobby sebelah kiri, menenteng tas dengan kunci mobil di tangannya. Pada jam delapan kurang seperempat pagi. Penampilannya rapi. Dia biasa mengenakan kemeja putih dengan dasi berwarna gelap. Kulitnya kuning bersih. Rambutnya tersisir rapi. Sedikit basah di hampir sepanjang pinggir rambutnya: dahi, cambang sampai tengkuk. Bukan karena memakai jelly atau lotion rambut melainkan karena sisa-sisa guyuran air. Dengan begitu kesegaran yang alami begitu kuat terpancar dari wajahnya. Ia bukan tipe laki-laki yang ramah, meski kerapkali kami berpapasan di lift. Di bibirnya tidak pernah ada senyum. Bahkan untuk sekedar senyum basa basi. Sementara lift berjalan naik, tatapannya lurus ke depan. Sekali dua kali aku berharap ia menyapaku. Tapi karena nampaknya ia tidak menunjukkan minat untuk sekedar tersenyum atau bertegur sapa, aku memutuskan untuk bersikap sama. Sepertinya ia termasuk laki-laki yang tidak mudah diajak bicara. Meskipun demikian, toh ia tetap menarik perhatianku. Barangkali bukan hanya perhatianku. Melainkan juga perhatian wanita-wanita muda lain yang kebetulan satu lift dengannya. Secara fisik ia memang menarik. Tubuhnya tinggi dan tegap. Pahatan wajahnya, mulai dari tulang pipi, hidung, bibir dan dagu, sempurna.
“Kali aja dia masih lajang, lho, Ti.” Kata Dian temanku saat kuutarakan hal ini.
“Mungkin,”
“Kau lihat cincin di jarinya nggak?”
“Nggak.”
“Nah itu berarti dia belum menikah.”
“Lantas?”
“Masih ada kesempatan untuk mendapatkannya,”
“Jangan berpikir sejauh itu. Kenal aja nggak.”
“Dicoba, dong. Kalau perlu informasi lain, aku siap membantu.”
Percakapan kami terhenti ketika Pak Gundi, bosku memanggilku.
*
Aku tengah sibuk mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan pak Gundi yang akan berangkat ke luar negeri saat telepon di mejaku berdering.
“Kali aja dia masih lajang, lho, Ti.” Kata Dian temanku saat kuutarakan hal ini.
“Mungkin,”
“Kau lihat cincin di jarinya nggak?”
“Nggak.”
“Nah itu berarti dia belum menikah.”
“Lantas?”
“Masih ada kesempatan untuk mendapatkannya,”
“Jangan berpikir sejauh itu. Kenal aja nggak.”
“Dicoba, dong. Kalau perlu informasi lain, aku siap membantu.”
Percakapan kami terhenti ketika Pak Gundi, bosku memanggilku.
*
Aku tengah sibuk mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan pak Gundi yang akan berangkat ke luar negeri saat telepon di mejaku berdering.
“Halo,”
“Kinanti, ya?”
“Iya,” Aku menerka-nerka suara di seberang telepon.
“Apa kabar?”
“Baik. Siapa nih?”
“Baik. Siapa nih?”
“Ranggito.”
“Ranggito?” Aku mengingat-ingat nama-nama yang aku kenal. Tidak ada satupun yang memiliki nama seperti itu. Sebelum selesai menggali nama Ranggito dari memoriku ia melanjutkan.
“Kita sering bertemu di lift.”
“Di lift?”
“Iya. Ingat?”
“Di lift?”
“Iya. Ingat?”
Tiba-tiba wajah laki-laki berkulit bersih dengan pahatan wajah sempurna itu melintas di benakku. Aku tidak pernah menyangka laki-laki di lift itu meneleponku.
“Namamu Kinanti, kan?”
“Iya. Mm…kok tahu?” Kataku gugup. Nalarku untuk menyusun kata-kata menghilang. Maklum baru kemarin aku menceritakan laki-laki ini sama Dian, hari ini tiba-tiba aku mendapat telepon.
“Seringkali ketemu di satu lift masa tidak kenal,”
“Banyak orang yang keluar masuk di lift itu.”
“Betul. Tapi Kinanti yang kerja di lantai empat, berponi dan berambut lurus sebahu itu rasanya cuma satu. Kamu.” Rupanya dia mulai berakrab-akrab. Setelah itu kegugupanku mulai mencair. Beberapa saat kemudian kami sudah tenggelam dengan percakapan yang mengasyikkan. Tidak seperti pembawaannya di lift, di telepon ia cukup lugas dan enak di ajak berbicara.
“Iya. Mm…kok tahu?” Kataku gugup. Nalarku untuk menyusun kata-kata menghilang. Maklum baru kemarin aku menceritakan laki-laki ini sama Dian, hari ini tiba-tiba aku mendapat telepon.
“Seringkali ketemu di satu lift masa tidak kenal,”
“Banyak orang yang keluar masuk di lift itu.”
“Betul. Tapi Kinanti yang kerja di lantai empat, berponi dan berambut lurus sebahu itu rasanya cuma satu. Kamu.” Rupanya dia mulai berakrab-akrab. Setelah itu kegugupanku mulai mencair. Beberapa saat kemudian kami sudah tenggelam dengan percakapan yang mengasyikkan. Tidak seperti pembawaannya di lift, di telepon ia cukup lugas dan enak di ajak berbicara.
“Eh, ngomong-ngomong bagaimana dengan keadaan kakimu sekarang?” Katanya dalam percakapan keesokan harinya. Aku cukup heran juga ternyata dia tahu dengan kecelakaan tempo hari yang membuat aku harus memakai penopang kaki selama dua minggu.
“Sekarang sudah baik, kok.”
“Syukurlah.”
Keesokan harinya dia kembali telepon. Kami kembali bercakap. Layaknya teman lama dengan berbagai cerita yang mengalir tanpa habis.
*
Sudah tiga hari Ranggito tidak telepon. Sudah seminggu aku tidak melihatnya di lift. Sejak telepon pertama itu kami belum pernah lagi bertemu. Lucu, pada saat kami sudah mulai bertegur sapa dan akrab, kami belum juga bertemu. Entah karena dia sekarang datang siang, entah karena aku selalu datang lebih pagi belakangan ini. Jam sepuluh empat puluh enam menit, telepon dimejaku berdering.
“Sekarang sudah baik, kok.”
“Syukurlah.”
Keesokan harinya dia kembali telepon. Kami kembali bercakap. Layaknya teman lama dengan berbagai cerita yang mengalir tanpa habis.
*
Sudah tiga hari Ranggito tidak telepon. Sudah seminggu aku tidak melihatnya di lift. Sejak telepon pertama itu kami belum pernah lagi bertemu. Lucu, pada saat kami sudah mulai bertegur sapa dan akrab, kami belum juga bertemu. Entah karena dia sekarang datang siang, entah karena aku selalu datang lebih pagi belakangan ini. Jam sepuluh empat puluh enam menit, telepon dimejaku berdering.
“Kinanti?”
Suara Ranggito terdengar di seberang. Ini telepon yang aku tunggu. Aku berusaha menutupi kegirangan yang tiba-tiba saja meletup.
“Ya, saya sendiri.”
“Ya, saya sendiri.”
“Apa kabar, Kinanti?” Lucu. Dia menanyakan kabarku. Padahal baru tiga hari berlalu sejak dia telepon terakhir.
“Baik,”
“Aku ingin mengajak kamu makan siang,”
“Baik,”
“Aku ingin mengajak kamu makan siang,”
Tawaran yang mengasyikkan, tentunya.
“Hari ini aku sibuk sekali.”
Hampir saja aku mengatakan iya. Tapi selain karena kesibukanku siang itu, aku juga tidak ingin memberikan kesan bahwa aku bisa dengan mudah di ajak pergi sekalipun untuk sekedar makan siang. Bukankah seorang perempuan harus menjaga sikap dan perilaku untuk tidak terkesan gampangan di mata laki-laki.
“Ajakanku tidak berlaku hari ini saja, kok. Kalau hari ini nggak bisa, ya bisa kapan-kapan.”
“Maaf, ya. Hari ini aku betul-betul nggak bisa. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan segera,”
“Bagaimana kalau besok?”
Kalimat itu yang sebenarnya aku tunggu.
Hampir saja aku mengatakan iya. Tapi selain karena kesibukanku siang itu, aku juga tidak ingin memberikan kesan bahwa aku bisa dengan mudah di ajak pergi sekalipun untuk sekedar makan siang. Bukankah seorang perempuan harus menjaga sikap dan perilaku untuk tidak terkesan gampangan di mata laki-laki.
“Ajakanku tidak berlaku hari ini saja, kok. Kalau hari ini nggak bisa, ya bisa kapan-kapan.”
“Maaf, ya. Hari ini aku betul-betul nggak bisa. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan segera,”
“Bagaimana kalau besok?”
Kalimat itu yang sebenarnya aku tunggu.
“Boleh,”
“Kalau begitu, besok aku telepon lagi.”
“Kalau begitu, besok aku telepon lagi.”
Telepon ditutup. Semalaman aku tidak bisa tidur. Tak sabar menunggu esok hari. Akhirnya pada jam setengah sebelas menjelang makan siang keesokan harinya, Ranggito kembali menelepon. Kami sepakat bertemu jam dua belas tepat di lobby. Ranggito akan menungguku di lobby. Jam dua belas kurang dua menit, aku segera turun. Ini adalah pertemuan pertama sejak dia telepon untuk pertama kali. Aku berdiri di antara beberapa orang yang juga tengah menunggu. Sepuluh menit kemudian seseorang mendekatiku.
“Kinanti?”
Aku menoleh.
“Sorry telat. Sudah lama menunggu?”
“Sorry telat. Sudah lama menunggu?”
Katanya sumringah. Sementara aku terpana.
“Ada warung soto yang enak di daerah Benhil. Aku ingin mengajak kamu kesana,”
Kepalaku tiba-tiba merasa pening. Sungguh tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikiranku bahwa Ranggito adalah laki-laki setengah baya yang hampir setiap pagi bertemu denganku di dalam lift dengan tangan yang terampil mengelap dinding-dinding lift sampai mengkilat. Ya, ternyata Ranggito adalah petugas kebersihan. Pada saat yang sama seorang laki-laki berkulit bersih dengan pahatan wajah yang sempurna, yang selama ini kusangka bernama Ranggito, melintas tepat di hadapanku. (Yeni Ratnakomala)
“Ada warung soto yang enak di daerah Benhil. Aku ingin mengajak kamu kesana,”
Kepalaku tiba-tiba merasa pening. Sungguh tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikiranku bahwa Ranggito adalah laki-laki setengah baya yang hampir setiap pagi bertemu denganku di dalam lift dengan tangan yang terampil mengelap dinding-dinding lift sampai mengkilat. Ya, ternyata Ranggito adalah petugas kebersihan. Pada saat yang sama seorang laki-laki berkulit bersih dengan pahatan wajah yang sempurna, yang selama ini kusangka bernama Ranggito, melintas tepat di hadapanku. (Yeni Ratnakomala)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar