Published by Swara Kartini (February 2003)
“Mak, Sumi pamit. Assalamualaikum.” Kata Sumi sembari mencium tangan emak.
“Hati-hati. Jaga diri baik-baik. Cepat pulang. Jangan lupa terus berdoa biar selamat di perjalanan,”
Wajah Emak menunjukkan rasa khawatir yang sangat. Matanya berkaca-kaca. Sebenarnya ia tidak begitu mengijinkan Sumi pergi menyusul Hamdani ke Jakarta. Tapi toh keinginan Sumi tidak terbendung lagi. Sumi meyakinkan Emak ia masih sangat hapal dengan jalan ke arah rumah kontrakan Hamdani. Waktu itu Hamdani pernah mengajaknya ke Jakarta. Dari terminal Kampung Rambutan cukup naik mobil jurusan Kali Deres. Turun di perempatan sebelum terminal Kali Deres. Dari situ tinggal menumpang ojek. Dengan menyebut Pak Abdullah, pemilik kontrakan semua tukang ojek sudah pada tahu. Jadi sebaiknya Emak tak perlu sekhawatir itu. Ada beberapa barang seperti mukena dan sajadah untuk mas kawin, seprei, dan banyak pernik-pernik kecil lainnya yang sebaiknya di beli di Jakarta. Sumi akan membeli ke pasar Tanah Abang. Orang bilang di situ ia bisa membeli barang apa saja dengan harga murah. Selain itu ia akan mendapat banyak pilihan dan tentu saja ia akan memilih yang terbaik untuk acara yang paling penting dan bersejarah dalam hidupnya. Barang-barang yang biasa di kreditkan Cicih di kampungnya juga dibeli di Tanah Abang. Lebih baik membeli langsung ke tempatnya daripada membeli dari Cicih dengan harga yang tiga atau empat kali lipat lebih mahal meskipun dengan pembayaran secara kredit. Cicih juga menawari Sumi membeli segala keperluan pernikahannya melalui dia. Cicih bilang dia sering kali ke Jakarta untuk belanja barang-barang kreditan seperti seprei, blouse, baju tidur, mukena, sampai pakaian dalam. Tapi Sumi memutuskan untuk membeli sendiri. Hamdani toh akan pulang tiga hari menjelang hari pernikahan. Itu berarti lusa. Dua hari di Jakarta untuk berbelanja sudah cukup. Lalu mereka bersama-sama pulang. Dengan pemikiran itulah Sumi memutuskan untuk pergi.
*
Sepanjang perjalanan, yang ada di benaknya hanya Hamdani. Rasanya ia sudah tak sabar lagi menunggu saat membahagiakan itu tiba. Saat dimana mereka disahkan menjadi suami istri dan bersanding di pelaminan. Sumi merasa bangga dan beruntung mendapatkan Hamdani. Banyak gadis di desa ini yang mendambakan Hamdani sebagai calon suami. Banyak keluarga yang menginginkan Hamdani menjadi mantu mereka. Karena pemuda itu baik. Tingkah lakunya santun. Tidak banyak bicara. Meskipun sudah bekerja lama di Jakarta. Berbeda dengan pemuda-pemuda yang lain. Baru beberapa bulan saja bekerja di Jakarta, cara bicara mereka sudah berubah. Gaya berpakaian sudah lain. Banyak diantara mereka yang kemudian menjadi sombong. Mereka malas pergi ke sawah membantu keluarga. Katanya gengsi. Pada hari Senin, hari pasar di kampungnya, mereka lebih suka bergerombol dengan pakaian rapi dan bagus. Baju dan badan mereka wangi karena minyak wangi entah merek apa. Tentu saja mereka menarik perhatian gadis-gadis. Maklum dari Jakarta. Pasti banyak uang. Nggak perduli mereka bekerja apa di Jakarta. Hamdani lain. Sejak dia bekerja di Jakarta empat tahun yang lalu, ia tidak berubah. Gaya bicaranya tetap santun. Ia tetap sopan, pendiam dan rendah hati. Pada saat pulang dan mendapat libur kerja beberapa hari, ia tetap mau membantu menggarap tanah orang tuanya yang tidak seberapa. Di Jakarta ia giat bekerja sehingga sudah mampu membelikan orang tuanya pesawat televisi empat belas inci. Terakhir Hamdani sudah mampu merenovasi rumah. Menambah satu lagi kamar untuk di pakai kelak setelah menikah dengan Sumi. Maklum Hamdani anak tunggal. Orang tua Hamdani meminta Sumi tetap tinggal bersama mereka setelah menikah nanti. Itulah yang membuat emak simpatik dan menyetujui hubungan mereka.
“Hati-hati. Jaga diri baik-baik. Cepat pulang. Jangan lupa terus berdoa biar selamat di perjalanan,”
Wajah Emak menunjukkan rasa khawatir yang sangat. Matanya berkaca-kaca. Sebenarnya ia tidak begitu mengijinkan Sumi pergi menyusul Hamdani ke Jakarta. Tapi toh keinginan Sumi tidak terbendung lagi. Sumi meyakinkan Emak ia masih sangat hapal dengan jalan ke arah rumah kontrakan Hamdani. Waktu itu Hamdani pernah mengajaknya ke Jakarta. Dari terminal Kampung Rambutan cukup naik mobil jurusan Kali Deres. Turun di perempatan sebelum terminal Kali Deres. Dari situ tinggal menumpang ojek. Dengan menyebut Pak Abdullah, pemilik kontrakan semua tukang ojek sudah pada tahu. Jadi sebaiknya Emak tak perlu sekhawatir itu. Ada beberapa barang seperti mukena dan sajadah untuk mas kawin, seprei, dan banyak pernik-pernik kecil lainnya yang sebaiknya di beli di Jakarta. Sumi akan membeli ke pasar Tanah Abang. Orang bilang di situ ia bisa membeli barang apa saja dengan harga murah. Selain itu ia akan mendapat banyak pilihan dan tentu saja ia akan memilih yang terbaik untuk acara yang paling penting dan bersejarah dalam hidupnya. Barang-barang yang biasa di kreditkan Cicih di kampungnya juga dibeli di Tanah Abang. Lebih baik membeli langsung ke tempatnya daripada membeli dari Cicih dengan harga yang tiga atau empat kali lipat lebih mahal meskipun dengan pembayaran secara kredit. Cicih juga menawari Sumi membeli segala keperluan pernikahannya melalui dia. Cicih bilang dia sering kali ke Jakarta untuk belanja barang-barang kreditan seperti seprei, blouse, baju tidur, mukena, sampai pakaian dalam. Tapi Sumi memutuskan untuk membeli sendiri. Hamdani toh akan pulang tiga hari menjelang hari pernikahan. Itu berarti lusa. Dua hari di Jakarta untuk berbelanja sudah cukup. Lalu mereka bersama-sama pulang. Dengan pemikiran itulah Sumi memutuskan untuk pergi.
*
Sepanjang perjalanan, yang ada di benaknya hanya Hamdani. Rasanya ia sudah tak sabar lagi menunggu saat membahagiakan itu tiba. Saat dimana mereka disahkan menjadi suami istri dan bersanding di pelaminan. Sumi merasa bangga dan beruntung mendapatkan Hamdani. Banyak gadis di desa ini yang mendambakan Hamdani sebagai calon suami. Banyak keluarga yang menginginkan Hamdani menjadi mantu mereka. Karena pemuda itu baik. Tingkah lakunya santun. Tidak banyak bicara. Meskipun sudah bekerja lama di Jakarta. Berbeda dengan pemuda-pemuda yang lain. Baru beberapa bulan saja bekerja di Jakarta, cara bicara mereka sudah berubah. Gaya berpakaian sudah lain. Banyak diantara mereka yang kemudian menjadi sombong. Mereka malas pergi ke sawah membantu keluarga. Katanya gengsi. Pada hari Senin, hari pasar di kampungnya, mereka lebih suka bergerombol dengan pakaian rapi dan bagus. Baju dan badan mereka wangi karena minyak wangi entah merek apa. Tentu saja mereka menarik perhatian gadis-gadis. Maklum dari Jakarta. Pasti banyak uang. Nggak perduli mereka bekerja apa di Jakarta. Hamdani lain. Sejak dia bekerja di Jakarta empat tahun yang lalu, ia tidak berubah. Gaya bicaranya tetap santun. Ia tetap sopan, pendiam dan rendah hati. Pada saat pulang dan mendapat libur kerja beberapa hari, ia tetap mau membantu menggarap tanah orang tuanya yang tidak seberapa. Di Jakarta ia giat bekerja sehingga sudah mampu membelikan orang tuanya pesawat televisi empat belas inci. Terakhir Hamdani sudah mampu merenovasi rumah. Menambah satu lagi kamar untuk di pakai kelak setelah menikah dengan Sumi. Maklum Hamdani anak tunggal. Orang tua Hamdani meminta Sumi tetap tinggal bersama mereka setelah menikah nanti. Itulah yang membuat emak simpatik dan menyetujui hubungan mereka.
“Anak itu lain dari pemuda-pemuda yang lain. Dia santun,” begitu kata Emak. Hati Sumi berbunga-bunga.
Tiga minggu lalu Hamdani, bersama orang tuanya, datang melamar. Hari yang sebenarnya ditunggu-tunggu Sumi. Setelah itu disepakati hari perkawinan sebulan setelah hari pertunangan. Jadi, kini tinggal seminggu lagi hari yang ditunggu-tunggu itu akan tiba. Sayang bapak sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Ia tidak bisa merasakan kebahagiaan yang sekarang dirasakannya. Kebahagiaan yang juga dirasakan Emak. Belakangan, hampir setiap usai shalat, Sumi semakin rajin mendoakan bapak. Mudah-mudahan bapak juga merasakan kebahagiaan ini.
Tiga minggu lalu Hamdani, bersama orang tuanya, datang melamar. Hari yang sebenarnya ditunggu-tunggu Sumi. Setelah itu disepakati hari perkawinan sebulan setelah hari pertunangan. Jadi, kini tinggal seminggu lagi hari yang ditunggu-tunggu itu akan tiba. Sayang bapak sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Ia tidak bisa merasakan kebahagiaan yang sekarang dirasakannya. Kebahagiaan yang juga dirasakan Emak. Belakangan, hampir setiap usai shalat, Sumi semakin rajin mendoakan bapak. Mudah-mudahan bapak juga merasakan kebahagiaan ini.
Sejak itu Emak mulai sibuk. Mulai dari menghubungi penghulu, merancang baju pengantin sampai menghubungi sanak saudara. Dan yang paling membuat emak sibuk adalah Emak membuat sendiri makanan ringan seperti wajik, rengginang, opak dan berbagai jenis makanan lainnya. Persediaan makanan walaupun seadanya harus banyak. Kata emak bikin penganan lebih baik dicicil dari sekarang. Biar nanti nggak keburu-buru. Emak membuat penganan kecil itu dari pagi sampai malam. Tanpa kenal waktu. Mungkin karena kecapaian itulah Emak jatuh sakit. Badannya panas. Rencana Sumi ke Jakarta tertunda. Untung sakit Emak tidak lama. Setelah di bawa ke puskesmas panasnya turun. Sekarang Emak mulai sembuh. Tapi Sumi melarangnya untuk kembali meneruskan membuat penganan.
“Sumi nggak mau Emak sakit di hari pernikahan. Dari hari ini biar Bi Eha saja yang mengerjakan.”
*
Jam dinding besar yang terpampang di pintu keluar terminal menunjukkan pukul empat lewat tujuh menit saat bis yang ditumpangi Sumi masuk ke terminal. Sore masih menyisakan panas. Gersang dan berdebu. Sambil bersiap turun, Sumi menggerakkan bahu, membuang rasa pegal. Enam jam duduk di bis membuat badannya penat dan pegal. Tapi kebahagiaan akan bertemu dengan Hamdani menghapus semua kepenatannya. Ia sudah bisa membayangkan wajah Hamdani yang terkejut sekaligus senang. Barangkali tidak akan pernah terlintas dalam pikiran Hamdani bahwa calon istrinya, menengoknya di Jakarta.
*
Jam dinding besar yang terpampang di pintu keluar terminal menunjukkan pukul empat lewat tujuh menit saat bis yang ditumpangi Sumi masuk ke terminal. Sore masih menyisakan panas. Gersang dan berdebu. Sambil bersiap turun, Sumi menggerakkan bahu, membuang rasa pegal. Enam jam duduk di bis membuat badannya penat dan pegal. Tapi kebahagiaan akan bertemu dengan Hamdani menghapus semua kepenatannya. Ia sudah bisa membayangkan wajah Hamdani yang terkejut sekaligus senang. Barangkali tidak akan pernah terlintas dalam pikiran Hamdani bahwa calon istrinya, menengoknya di Jakarta.
“Kelak kalau sudah menikah, sekali-kali aku akan membawamu ke Jakarta. Menginap barang beberapa hari. Kita bawa anak-anak kita piknik ke Taman Mini. Ke Ancol. Ke Dunia Fantasy. Jalan-jalan di mall. Seperti yang dilakukan kebanyakan orang-orang Jakarta.” Kata Hamdani suatu saat, beberapa bulan yang lalu. Seperti berangan-angan. Tatapannya menerawang jauh, melampaui semak-semak pohon perdu yang tumbuh subur di sepanjang pinggiran sungai. Di bawah kaki-kaki mereka, mengalir air jernih dan dingin. Air pegunungan. Beberapa ikan kecil berenang-renang., saling berkejaran.
“Kalau keadaan sudah memungkinkan. Rejeki kita sudah bertambah baik kau dan anak-anak akan kubawa pindah ke Jakarta. Kau mau kalau suatu saat kuajak pindah ke Jakarta?”
Sumi mengangguk pasti. Baginya, tidak ada yang lebih membahagiakan selain senantiasa bersama dengan orang yang paling dicintainya.
“Aku tidak ingin berlama-lama meninggalkan kalian di kampung. Aku ingin anak-anak kita tahu dunia lain yang lebih ramai, lebih hidup, lebih semarak dari kampung mereka yang sepi.”
“Sepi-sepi juga kampung halaman kita, kang,” protes Sumi.
Hamdani hanya tertawa. Angin sore berhembus pelan. Menebarkan wangi pucuk-pucuk padi menguning yang siap dipanen.
“Sepi-sepi juga kampung halaman kita, kang,” protes Sumi.
Hamdani hanya tertawa. Angin sore berhembus pelan. Menebarkan wangi pucuk-pucuk padi menguning yang siap dipanen.
Gemuruh air sungai Cibuni berbaur dengan gemuruh hati Sumi saat Hamdani menggenggam tangannya, meniti batu-batu kali. Mereka beriringan pulang.
Gemuruh sungai itu kini berganti dengan gemuruh suara klakson yang hingar bingar, saling bersahutan, dari begitu banyak kendaraan yang masuk dan keluar terminal. Dengan sekali tarikan napas panjang Sumi melangkah. Menuju halte. Sekilas dia menyapu sekeliling. Begitu banyak perubahan yang terjadi sejak hampir tiga tahun lalu sewaktu pertama kali dia datang di sini. Benar kata Hamdani, Jakarta senantiasa berubah. Dari waktu ke waktu.
Tiba-tiba seseorang menubruknya dari belakang. Sumi merasakan tasnya ditarik dengan paksa. Entah bagaimana caranya dalam sekejap tasnya sudah berpindah tangan. Sadar dengan apa yang baru saja terjadi, Sumi berteriak, “Copet! Tolong!” Sumi terus menjerit dan berteriak. Beberapa orang menghampirinya. “Saya dicopet! Orang itu mengambil tas saya!” Katanya sambil menunjuk seseorang bertopi merah yang berlari menyeruak kerumunan, menabrak beberapa orang yang menghalanginya. Sumi terus berteriak. Beberapa orang dengan mengikuti arah tangan Sumi bergerak mengejar pencopet. Hati Sumi berdegup tak karuan. Lututnya gemetar hebat. Barangkali Hamdani benar. Jakarta itu keras dan menakutkan, apalagi bagi pendatang seperti dirinya. Baru beberapa menit saja menginjakkan kaki di kota ini kejahatan sudah merajalela. Ada selintas penyesalan yang muncul dibenaknya karena tidak mengabari Hamdani. Kalau diberi kabar, pasti ia akan menjemput Sumi. Namun barangkali juga Hamdani akan melarangnya datang ke sini. Apalagi menjelang hari pernikahan mereka. Ia terlalu khawatir akan keselamatan Sumi. Lalu Sumi ingat Emak. Ia telah mengabaikan nasehatnya. Emak bilang mendekati hari pernikahan, calon pengantin tidak boleh bepergian jauh. Namun kekerasan hati Sumi membuat Emak tidak bisa berkata apa-apa lagi selain mengijinkannya pergi.
Walaupun begitu, Sumi masih bisa menarik napas lega. Hanya tas yang di rampas. Coba kalau kejadian yang lebih buruk dari ini menimpanya. Misalnya ditabrak atau diculik lalu di…. Sumi bergidik. Menghalau bayangan buruk yang tiba-tiba mampir di benaknya. Dari jauh Sumi melihat beberapa orang berhasil menangkap si pencopet. Ragu, ia mendekat. Lalu terdengar suara pukulan yang bertubi-tubi : Buk-buk-buk. Si pencopet dipukuli. Orang-orang semakin banyak berkerumun. Sumi mendengar teriakan lirih meminta ampun. Seperti rintihan. Namun sebagian orang masih terus memukulinya.
“Biar tahu rasa. Makanya jangan nyopet.” Teriak salah seorang.
“Hajar terus!” teriak yang lain.
“Mampus aja sekalian!”
Seseorang menyeruak dari baling kerumunan. Mendekatinya dan menyodorkan tas tangannya.
“Makanya hati-hati. Di sini banyak copet berkeliaran.” Katanya.
Sumi mendekap tas tangannya lebih erat. Dengan rasa syukur. Di dalamnya uang puluhan ribu, pemberian Hamdani, masih utuh. Dua orang polisi datang, melerai kerumunan. Sumi ikut masuk menyeruak bersama dua polisi itu. Ia melihat tubuh pencopet itu terkapar dan menggelepar. Orang-orang sudah melucuti pakaiannya. Yang tertinggal di tubuhnya hanya celana kolor. Wajah orang itu babak belur nyaris tidak berbentuk. Bagaimanapun Sumi merasa iba melihatnya. Dari balik punggung polisi, Sumi melihat mata pencopet itu terpejam menahan rasa sakit. Darah mengalir di dahi dan pipi dan ujung bibirnya. Tiba-tiba ia merasa bumi tempatnya berpijak terangkat.
Sumi mendekap tas tangannya lebih erat. Dengan rasa syukur. Di dalamnya uang puluhan ribu, pemberian Hamdani, masih utuh. Dua orang polisi datang, melerai kerumunan. Sumi ikut masuk menyeruak bersama dua polisi itu. Ia melihat tubuh pencopet itu terkapar dan menggelepar. Orang-orang sudah melucuti pakaiannya. Yang tertinggal di tubuhnya hanya celana kolor. Wajah orang itu babak belur nyaris tidak berbentuk. Bagaimanapun Sumi merasa iba melihatnya. Dari balik punggung polisi, Sumi melihat mata pencopet itu terpejam menahan rasa sakit. Darah mengalir di dahi dan pipi dan ujung bibirnya. Tiba-tiba ia merasa bumi tempatnya berpijak terangkat.
“Kang Hamdani…” bisiknya.
Dunia sekelilingnya berputar hebat dan… gelap. (Yeni Ratnakomala)
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar