Rabu, 06 April 2011

Cerpenku: Senja di Mount Victoria

Published by Majalah Chic

Dewi menarik selimut berwarna biru sampai ke ujung dada. Barangkali dengan keadaan terbalut selimut seperti ini ia bisa tertidur. Namun sejak lebih dari enam jam yang lalu pesawat ini mengudara, ia masih belum bisa memejamkan mata sekejappun. Dari balik jendela, awan putih berarak.  Ada yang menggumpal membentuk gulungan. Sebagian awan  berpendar membentuk kabut putih tipis.   Ia melirik jam di tangannya.  Masih jam tiga dinihari waktu Jakarta. Tapi di sini hari sudah menuju siang. Beberapa menit lalu pilot mengabarkan sekarang pesawat berada di atas daratan Australia dengan ketinggian enam belas ribu kaki. Dalam dua jam  mendatang pesawat dijadwalkan akan mendarat.

             “Excuse me. Would you like to have some coffee or tea?”
Seorang pramugari mendekati kursinya dan menawarkan minuman.
            “No. Thank you.”
Tak ada keinginan Dewi untuk minum apa pun. Saat ini ia hanya ingin mengingat suatu hari pada tanggal dua puluh tiga Januari beberapa tahun yang lalu. Saat di mana  untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki di negeri ini.
             “Selamat datang di Auckland. Bagaimana perjalanan menuju ke sini? Menyenangkan?” Laki-laki tinggi bertubuh atletis bermata coklat itu menjabat tangan Dewi dengan ramah. Dia adalah Jim Benson, manager baru pengganti Andrew Shew, manager lama yang sudah selesai dengan masa tugasnya.  Jim kemudian membantu Dewi menaikkan kopor dan tasnya ke mobil. Menurut Andika, penunjukan Jim sebagai penanggungjawab pasar Asia  Pasifik, termasuk Indonesia sangat tepat. Beberapa tahun lalu  Jim pernah ditugaskan di Indonesia selama empat tahun. Setelah itu ia kembali ke Auckland. Hanya enam bulan di Auckland  Jim ditugaskan di Taiwan. Sewaktu bertugas di Indonesia, Jim cukup dekat dengan Andika.  Beberapa kali mereka menghabiskan liburan bersama. Jim lahir di New Plymouth, sebuah kota pantai sekitar enam jam perjalanan dengan mobil  ke arah selatan Auckland,  empat puluh empat tahun yang lalu. Menikah dengan Michele Bradwick tahun 1981. Bercerai tahun 1988. Dua bulan setelah bercerai, ia menerima  tawaran untuk ditempatkan di Indonesia selama empat tahun.
            “Jim bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Kamu pasti kaget mendengar kefasihannya bicara. Ia pernah mengikuti kursus bahasa Indonesia dan mendapat predikat sebagai peserta kursus terbaik.”  Kata Andika dua hari sebelum Dewi berangkat.
            “Saya akan mengantarmu ke hotel. Masih ada beberapa jam untuk beristirahat setelah perjalanan yang cukup panjang. Sore ini saya akan menjemputmu. Kita berjalan-jalan di seputar kota Auckland,” Kata Jim dengan gaya bahasa yang lugas. Tangannya cekatan memegang setir. 

Sore hari Jim menjemput Dewi seperti yang dijanjikan. Sebelum menjemput Dewi, Jim mengirim fax pendek ke Andika dan  menyerahkan salinan fax itu kepada Dewi. Dewi sudah sampai dengan selamat. Sore ini Saya akan membawanya berjalan-jalan. Esok pagi Andika akan membacanya.
Untuk pertama kalinya Dewi menikmati keindahan kota berpenduduk sekitar satu juta jiwa itu.  Mulai dari Ponsonby Street di pusat kota, menyisir pantai di Mission Bay sampai ke Clevedon di pinggiran Auckland. Salah satu yang menarik perhatian Dewi adalah jalan-jalan di kota ini yang naik turun, seperti bukit.  Kota ini tertata cukup apik dan rapi. 
           “Di hari libur seperti ini, banyak orang pergi ke pantai untuk memancing,  menyelam dan berselancar.” Kata Jim. Ia orang yang cukup ramah dan hangat. Ia menjadi guide yang baik yang menerangkan semua hal yang ditanyakan Dewi. Hanya satu hal yang tidak pernah masuk dalam penjelasan Jim: keluarganya. Barangkali masalah ini terlalu pribadi untuk diceritakan. Toh, sedikit banyak Dewi sudah tahu dari penjelasan Andika.
Jim kemudian membawa Dewi ke Mount Victoria, sebuah dataran tinggi bekas gunung berapi yang ditata menjadi taman kota. Para pengunjung yang ingin menikmati pemandangan kota Auckland dapat dengan mudah mencapai daerah ini dengan mobil.    Pelataran parkirnya memang tidak cukup luas. Orang harus berjalan beberapa tanjakan lagi untuk sampai di pelataran yang lebih luas. Dari sinilah pemandangan indah kota Auckland dapat dilihat. Apalagi di sore hari menjelang malam.  Menara kota yang  menjulang tinggi diantara gedung-gedung. Perumahan penduduk yang nampak seperti kotak-kotak kecil.  Pulau Takapuna yang hijau dengan pepohonan di seberang lautan. Harbour Bridge yang terbentang menghubungkan wilayah di Pantai Utara dengan pusat kota. Pesisir-pesisir pantai yang indah dan bersih menjadi tempat berlabuhnya puluhan atau barangkali ratusan yacht. Tak salah kalau kota indah ini dijuluki City of Sail. Kota Berlayar.
            “Selamat pagi,” kata Jim keesokan harinya saat ia menjemput Dewi di hotel. Dengan dasi bermotif abstrak, kemeja putih, celana berwarna cream dan dan jas coklat tua, pagi itu Jim tampil sangat rapi. Ini hari pertama Dewi memulai pekerjaan.  Dalam perjalanan menuju kantor, Jim menjelaskan rencana kerja mereka hari itu dan beberapa hari ke depan. Dari berkas yang ia sodorkan, ada banyak customer yang akan mereka kunjungi dan beberapa program yang harus ditindaklanjuti sepulang Dewi ke Indonesia.  Untung saja malam harinya Dewi sudah mempersiapkan apa-apa yang akan dikerjakan hari ini.                                                         
*
Area di luar museum ini sangat luas. Hamparan taman bunga mengisi sebagian besar area ini.  Dekat dari gerbang utama berdiri kokoh sebuah patung kayu khas Maori dengan lidah terjulur dan mata membelalak.
            “Penduduk Maori memiliki falsafah hidup yang tergambar pada ukiran-ukiran patung yang mereka buat. Coba perhatikan, setiap ukiran patung memiliki tiga jari. Satu jari menandakan lahir. Satu jari menandakan hidup dan jari terakhir menandakan mati. Ini merupakan fase yang dialami setiap manusia. Lihat, mata mereka yang membelalak dengan lidah terjulur seperti menakut-nakuti siapa saja. Jangan coba-coba bersikap tidak sopan atau kasar. Mereka bisa marah dan kasar. Namun di balik itu, sebenarnya orang-orang Maori sangat ramah,” kata Jim. Setelah menyelesaikan pekerjaan di Auckland, Jim membawa Dewi berlibur ke luar kota. Saat itu mereka tengah mengamati ukiran patung khas penduduk Maori di Rotorua,  sekitar dua ratus lima puluh kilometer ke arah selatan Auckland. Rotorua terkenal dengan  nuansa Maori yang sangat kental. 
             “Nenek moyang kami datang lebih belakangan daripada mereka. Mereka sudah mendiami wilayah ini berabad-abad sebelum nenek moyang kami tiba.”
Seperti semua orang kulit putih di Selandia Baru, nenek moyang mereka berasal dari Inggris. Keluarga Jim berasal dari Wales. Kakek dan nenek Jim datang ke sini sekitar tahun seribu sembilan ratus tiga puluh dengan membawa John, ayah Jim yang masih kecil.   
Setelah itu ada beberapa kota lagi yang mereka kunjungi.  Hamilton, Waitomo dan Otorohonga.  Jim juga membawa Dewi ke danau-danau yang indah: Tarawera, Puha,  Tauranga dan beberapa tempat yang ia sendiri tidak bisa menghapalnya satu persatu.   Toh, hari-hari yang menyenangkan di negeri ini harus berakhir. Dewi harus kembali ke Jakarta.
            “Terima kasih untuk semuanya, Jim.”  Kata Dewi dalam perjalanan menuju bandara.
            “Berterima kasihlah pada Andika yang telah mengijinkan kamu datang ke sini. Anyway, it’s great to have you here, Dewi.”
Sebulan kemudian mereka kembali bertemu di Jakarta. Pekerjaan menuntut mereka terus berhubungan melalui telepon, fax atau pertemuan.  Bahkan belakangan Jim lebih mempersering kunjungannya ke Indonesia. Sampai kemudian hubungan mereka bertambah akrab.
             “Saya ingin mengatakan sesuatu…” Kata Jim suatu hari.  Suara Jim menggantung. Dewi menangkap kebimbangan.  Dari sorot mata Jim, ia sudah mengetahui apa yang akan dikatakan laki-laki ini. Sorot mata itu telah mengungkapkannya di setiap pertemuan mereka. Jim terdiam cukup lama sampai kemudian ia berkata, “Mmm… just forget it.”
             “Kenapa kamu tidak berani mengungkapkannya, Jim?” Tanya Dewi  di pertemuan berikutnya.
             “Saya terlalu tua, Dewi. Tahun depan saya empat puluh lima. Sementara kamu masih terlalu muda. Masa depan kamu masih sangat panjang.” 
              “Jangan pernah punya pikiran seperti itu. Barangkali saya akan mati lebih dulu dari pada kamu,”
            “Saya tidak mau kamu mengorbankan waktu untuk merawat seorang laki-laki tua seperti saya,”
Dewi menyentuh tangan Jim.
             “Dengar, Jim. Kita masih punya cukup banyak waktu untuk hidup. Jangan membuat saya upset karena alasan yang terlalu mengada-ada. Kecuali kalau kamu memiliki alasan lain,”
             “Memang ada alasan lain…”
             “Apa?”
             ”Andika.” Kata Jim setelah beberapa lama terdiam. Dewi tertawa.
             “Dia baik-baik saja dan tidak perlu khawatir dengan saya. Karena sejauh ini saya masih bisa melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab saya dengan baik.”
            “Ia mencintai kamu.” 
            “What?” Kata Dewi tanpa berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
            “Kamu mendengarnya, Dewi. Saya tak perlu mengulangnya,”
            “Saya tidak percaya,”
            “Believe me.”
            “Tapi…”
            “Dewi,”
Kehadiran Andika yang melongokkan kepalanya di pintu menghentikan lamunannya.
            “Ada waktu?”
            “Mmm….ada beberapa laporan yang belum selesai dikerjakan.”
            “Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan.” Kata Andika.
Itu  berarti Dewi harus menghentikan dulu pekerjaannya dan segera menemui dia. Tiga tahun sudah ia mengenal laki-laki itu. Bertubuh tegap. Meskipun tidak terlalu tinggi ia termasuk tipe laki-laki berpenampilan simpatik.  Mapan dan cukup berhasil dengan karirnya di usianya yang baru tiga puluh satu. Ia delapan tahun lebih tua dari Dewi. Kalau memang Andika menyukai dirinya, mengapa Dewi tidak menangkap tanda-tanda apapun dari laki-laki ini padahal banyak sekali kesempatan dia untuk mengungkapkan perasaannya?  
             “Andika baik. Ia orang paling baik yang pernah saya kenal. Ia sudah cukup lama mengenalmu,” Kata Jim. Pandangannya lurus ke arah kebeningan air yang meluncur deras di relief dinding lobby utama dan bermuara di kolam buatan di bawahnya. Dewi pernah mengagumi perancang gedung ini yang menjadikan air sebagai salah satu daya tarik.
              “Sayangnya kita tidak bisa menentukan kepada siapa kita jatuh cinta.”
              “Saya tidak bisa setiap saat hadir dan ada di sisi kamu,”
              “Sebenarnya maumu apa, Jim?” Dewi mulai kesal.
              “Saya ingin yang terbaik buat kamu,”
              “Jangan berdalih yang terbaik buat saya. Saya tahu apa yang terbaik buat saya.  Semua orang pasti menjadi tua. Tidak hanya kamu. Sekarang saya ingin jawabanmu yang jujur, mau kau bawa kemana arah hubungan ini?”
Dewi mencari jawaban di mata Jim. Mata itu mengungkapkan seribu perasaan yang tidak bisa disembunyikan. Mata itu tidak bisa membohongi Dewi.  Sayang, laki-laki ini tidak mau jujur mengungkapkan keinginannya. Apakah semata-mata karena kesetiakawanannya kepada Andika atau karena terlalu khawatir dengan perbedaan usia yang menurutnya terlalu jauh. 
              “Jim, jangan berdiam diri. Please…”
Namun Jim  tidak berkata sepatahpun. Sampai Dewi beranjak pergi tanpa menuntaskan makan siangnya.  Keesokan harinya Dewi mendapatkan Jim sudah pergi.
             “Mr. Jim Benson sudah check out tadi pagi jam sepuluh. Ia menggunakan pesawat jam satu siang ini.”
Begitu kata petugas hotel. Dewi terhenyak. Jim mempercepat kepulangannya.  Tanpa mengatakan apa-apa. Dewi tidak menyangka percakapan kemarin akan berbuntut dengan kepergian Jim. Padahal mereka masih punya rencana untuk makan malam di restoran baru di kawasan Kuningan. Bersama Andika.  
            “Jim mendapat telepon dari Auckland agar ia segera pulang.” Begitu kata Andika pada saat mereka makan malam. Dewi tidak ingin tahu apakah ini betul-betul suatu alasan atau hanya mengada-ada.  Ia juga tidak mau tahu apakah Andika tahu lebih banyak dari yang ia tahu.
Beberapa hari Dewi mencoba menelepon Jim. Namun laki-laki itu seperti menghilang. Ia tidak pernah ada dan sulit dihubungi.  Apapun usaha yang dilakukan Dewi untuk menghubungi Jim selalu kandas.  Sejak kepulangan Jim dari Indonesia, Sarah, asisten Jim yang menangani pekerjaan harian Jim.  Dua bulan kemudian Dewi mendapat kabar Jim ditugaskan ke Amerika.  Enam bulan setelah itu  Andika memberitahu Dewi bahwa Jim akan segera menikah. Kabar terakhir ini yang membuat Dewi terhenyak. Tak ada yang bisa dilakukan Dewi saat itu selain diam-diam menyeka air yang tanpa disadarinya sudah mengalir membentuk alur sungai  di kedua pipinya. 
                                                            
**
Suara pilot kembali mengudara. Ia mengabarkan sepuluh menit lagi pesawat akan mendarat. Pilot mengingatkan penumpang untuk tetap di kursi masing-masing dan memasang sabuk pengaman. Ya, sepuluh menit lagi pesawat  akan mendarat. Pada saat pesawat perlahan-lahan turun, hamparan daratan menghijau yang diapit dengan hamparan laut biru seperti tinggal sejangkauan tangan. Hanya beberapa puluh meter di bawah. Pada saat pesawat menjejakkan rodanya di landasan, ada yang mendesak di dada Dewi.  Entah apa. 

Keesokan harinya, ia sudah berada di dalam taksi menuju ke arah barat laut kota ini : Howick. Dalam perjalanan menuju kesana, seakan ia menelusuri kenangan beberapa tahun yang lalu. Tiga puluh menit kemudian ia sudah berdiri di depan pintu sebuah rumah asri di Ramoana Mews Street. Dua menit kemudian seseorang  membukakan pintu. Jim. Ia menatap Dewi tanpa berkata-kata. Laki-laki itu masih seperti beberapa tahun yang lalu.  Bedanya,  sekarang ia membiarkan rambut-rambut halus tumbuh di dagu dan cambangnya.
            “Is it you, Dewi? I can’t believe that you’re here now.”   Mata Jim sarat dengan kerinduan. Mereka berpelukan.
            “Kapan datang? Kenapa tidak memberitahu? Seharusnya kamu telepon agar saya bisa menjemputmu di airport,” Kalimat Jim memberondong.
Ia membimbing Dewi masuk.  Isi rumah ini tidak berubah. Lukisan penari Bali yang tergantung di dinding menghadap pintu utama.  Patung suku Asmat  yang mengapit  sofa. Di ruang penghubung antara ruang tamu dengan ruang keluarga patung jerapah yang tinggi hampir mencapai langit-langit masih tegak berdiri.  
            “Apa kabar, Dewi?”
            “Baik. Kamu?”
            “Seperti yang kamu lihat,” Jim menyodorkan orange juice kesukaan Dewi.
            “Kamu kurus,” Jim lekat mengamati Dewi.
            “Bagaimana kabar Andika?”
            “Saya dengar dia baik-baik saja.”
            “Saya dengar?” Mata Jim menyiratkan tanda tanya.
            “Kami sudah bercerai.”
Dewi tidak berharap apapun dari Jim dengan pernyataan ini. Toh, ia menangkap keterkejutan sekaligus rasa iba yang tidak bisa disembunyikan Jim. Dewi melanjutkan ceritanya pada saat Jim kembali membawa Dewi ke Mount Victoria. Semilir angin  menyambut mereka saat sampai di puncak.
            “Barangkali kamu benar dalam berbagai hal, Jim. Tapi untuk satu hal ini, tentang saya dengan Andika, perkiraan kamu salah. Dia memang baik dan selalu ingin membahagiakan saya. Semakin dia berusaha untuk membahagiakan saya, semakin tumbuh perasaan bersalah saya. Barangkali saya telah gagal menjadi istri yang baik buat dia. Saya tidak mau membuatnya tersiksa lebih lama. Saya juga tidak mau memupuk rasa bersalah saya. Tepat setahun usia perkawinan, kami sepakat untuk bercerai. Andika kemudian menikah dengan Dini, wanita yang sejak dulu mencintainya.”
Jim terpaku. Ia tak pernah membayangkan gadis muda ini kini tumbuh menjadi seorang wanita yang matang dengan berbagai masalah yang dihadapinya.  Ia tidak pernah membayangkan segalanya akan menjadi  seperti ini.    Suatu hari di saat hubungannya dengan Dewi semakin dekat, Andika mengajak Jim berbicara empat mata. Ia mengutarakan isi hatinya bahwa ia mencintai Dewi sejak pertama kali mengenalnya.  Andika meminta Jim untuk menjauhi Dewi. Suatu hal yang sebenarnya sulit dilakukan Jim.  Tapi ia harus melakukannya.
            “Apa kabar istrimu?”
Sepi. Jim seakan membiarkan pertanyaan Dewi menggantung di udara. Sampai kemudian ia berkata,” Saya sebenarnya tidak menikah lagi.”
            “Jadi kabar itu sebenarnya bohong?”  Tanya Dewi datar. 
Mata Jim menerawang nun ke kejauhan.  Senja mulai turun. Semburat merah yang tercapak di kaki langit menampakkan keindahannya. Lampu-lampu kota mulai menyala. Harbour Bridge berdiri kokoh bagai raksasa angkuh yang menelan ratusan mobil yang berlalu lalang di dalamnya.
            “Itu hanya suatu cara agar kamu melupakan saya dan mulai mencintai Andika.   Satu keputusan terberat yang pernah saya lakukan. Tapi saya harus melakukannya.”
Jim mengambil kerikil kecil di dekat kakinya.  Ia mempermainkan kerikil itu ditangannya.
             “Setelah itu saya mencoba melupakan kamu. Pada saat saya mendengar kabar pernikahanmu dengan Andika, saya sakit. Lalu saya memutuskan untuk cuti selama satu bulan dan pergi ke Swiss. Menyepi.”
Dewi menarik napas panjang. Tak tahu apakah ia perlu marah mendengar pengakuan itu. 
            “Saya selalu berpikir kamu akan lebih bahagia kalau kamu melupakan saya dan menikah dengan Andika.”
            “Jangan mengukur kebahagiaan orang lain dengan ukuranmu sendiri.”
            “Dewi…”
Jim menyentuh bahu Dewi dengan kedua tangannya.  Menarik Dewi dekat ke dadanya.
            “Saya telah melakukan suatu kesalahan dengan membiarkan Andika menikahimu. Maafkan saya. Saya tidak pernah berniat membuat hidupmu menderita.”
Suara Jim bergetar. “Saya mencintaimu. Saya tidak akan pernah lagi melepasmu,”
Ribuan jam Dewi menunggu ungkapan kejujuran ini.   Ribuan jam ia habiskan untuk memikirkan laki-laki ini. Cintanya pada laki-laki ini tidak berubah. Tetap menyala dan utuh.  Meskipun pada suatu saat dalam hidupnya laki-laki ini pernah gamang menentukan sikap. 
            “Saya ingin memulainya sekarang,” kata Jim.   
            “Sejak dulu saya sudah memulainya, Jim. Segalanya berawal di sini. Di negeri yang indah ini. Kini saatnya saya menutup  lembaran  kenangan tentang kamu. Kini saatnya saya memulai hidup tanpa bayang-bayang kamu. That’s what I am here for.”
Ada sesuatu yang lepas dari hati Dewi pada saat mengatakan ini. Sungguh ini keputusan paling sulit yang pernah ia lakukan dalam hidupnya. Dari balik keremangan lampu mobil, Dewi melihat mata  coklat laki-laki ini berkaca.
(Yeni Ratnakomala)

                                                            ***

Senin, 28 Maret 2011

Cerpenku: Murni (episode pulang)

Published by Tabloid Nova, 2000

Perempuan itu membalikkan badannya. Cuaca begitu panas malam ini. Biasanya menjelang dini hari, cuaca dingin. Tapi kali ini sekujur tubuhnya berpeluh. Ia bangkit.  Mengambil koran bekas pembungkus dari dapur lalu mengipas-ngipaskannya ke badan. 
Sebenarnya bukan hanya karena perubahan cuaca yang akhir-akhir ini sukar ditebak, kadang-kadang panas kadang-kadang mendung dan hujan, melainkan juga karena ada yang dipikirkannya. Murni. Sudah sejak sembilan bulan anak sulungnya itu pergi ke Arab, bekerja sebagai TKW. Tapi belum ada sepucuk surat pun yang dikirim sekedar menyampaikan kabar dia baik-baik saja. 
Dihalaunya seekor nyamuk yang menempel di kaki Empin yang nampak teramat lelap. Sejak Murni pergi, tak ada lagi orang yang bisa diajak bicara. Apa saja. Termasuk keluh kesah. Belakangan wajah Murni semakin sering hadir. Rasanya baru saja kemarin malam mereka masih bercakap-cakap. 

             “Saya ingin pergi ke Arab,” Katanya.
             “Kerjaan kamu di pabrik sepatu bagaimana?”
“Penghasilan saya di sana tidak bisa diandalkan untuk mencukupi kebutuhan kita, Mak. Kalau saya kerja di Arab mungkin saya bisa  menghasilkan uang lebih banyak untuk emak dan biaya sekolah adik-adik. Saya juga bisa membayarkan utang kita ke Pak Romli.”
Katanya, bola matanya menari-nari mengikuti gerak api di lampu teplok yang tertiup angin. Suara jengkerik dan kodok nyaring terdengar. Saling bersahutan. Anaking jimat awaking. Hati perempuan itu menjerit. Kalau saja kemiskinan ini tidak menjerat kehidupan, dia tidak akan pernah membiarkan satu-satunya anak perempuannya pergi mencari penghidupan di negeri orang. Anak itu cukup pintar. Ia sebenarnya sangat ingin menyekolahkan Murni setinggi mungkin. Jangan sampai seperti ibu dan bapaknya yang hanya menjadi petani kecil. Hanya saja kesempatan ternyata belum berpihak padanya. Apalagi setelah ayah Murni meninggal, Murni tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan bahwa kini ia menjadi tulang punggung keluarganya. Seminggu sebelum berangkat ia menemani  Murni berkunjung ke rumah Pak Romli.
               “Saya mau berterima kasih. Selama saya bekerta di Jakarta, Pak Romli telah membantu Emak dan adik-adik,” Katanya.
“Itu tidak usah dipikirkan. Sudah kewajiban Bapak membantu keluargamu. Sebentar lagi, ini semua akan menjadi milik Murni. Saya sudah membeli beberapa petak sawah untukmu,” Kata Pak Romli. Semula dia tidak pernah menyadari kebaikan dan bantuan yang selama ini diberikan laki-laki beristri tiga ini ada maksud lain. Dia menginginkan Murni. Ah.
            “Seperti yang saya bilang pada ibumu, Bapak tidak memintamu untuk cepat menerima pinangan bapak. Kalau mau jujur, tentu saja bapak pengen cepat-cepat. Tapi itu tergantung kamu juga,”

            “Saya mau pergi ke Arab dulu, pak.”
            “Ke Arab? Untuk apa ke sana?”
            “Bekerja.”
“Bapak mendengar kabar yang kurang bagus anak-anak kita yang bekerja disana, Ceu Tijah,” Katanya. nada tidak setuju cukup kuat terpancar diwajahnya.
            “Semua saya serahkan kepada Allah. Dia bersikeras untuk berangkat. Keinginannya begitu kuat. Saya tidak bisa menahannya untuk tinggal. Semuanya terserah anak itu, pak.”
“Kalau masalah uang, sebaiknya kamu tidak usah pikirkan. Disini, semua kebutuhan kamu, emakmu dan adik-adik saya cukupi.”
“Saya hanya ingin mencoba pengalaman baru,”
Beberapa hari sebelum keberangkatan Murni, Pak Romli masih mencoba membujuk anaknya itu untuk tetap tinggal.
            “Kalau kamu bersikeras begitu, bapak akan menunggumu di sini.”
Toh, bagi perempuan itu tak ada pilihan yang lebih baik buat Murni: tinggal di desa atau  pergi ke Arab. Mungkin ia lebih memilih pergi ke Arab, karena disana dia jauh dari pak Romli, orang beristri tiga yang berniat untuk menjadikan murni sebagai istri keempat. Ah. Murni tidak pernah mengatakan tidak pada saat Pak Romli meminta Murni padanya. Anak itu begitu santun.
            “Jangan pernah berpikiran emak memaksamu menikah dengan pak Romli, nak. Tidak sama sekali. Emak tidak akan pernah memaksamu. Semuanya terserah kamu,”
Katanya sehari menjelang keberangkatannya. Perempuan itu menatap langit-langit.

*
Emak..
Akhirnya surat yang ditunggu berbulan-bulan muncul juga. Murni disini baik-baik saja. uang ini adalah uang gaji Murni beberapa bulan. Sebagian untuk biaya sekolah adik-adik. Sebagian lagi untuk membayar utang ke Pak Romli. Murni disini sangat senang. Majikan Murni baik sekali.
Perempuan itu berlutut dan bersujud. Bukan karena sejumlah uang yang kini ada di tangannya. Tapi lebih karena rasa syukur Murni dalam keadaan baik-baik. Sejak anak itu pergi, tiada malam terlewati tanpa bersujud ke hadapan Allah, mendoakan keselamatannya. Setelah itu beberapa kali Murni mengirimkan uang. Dia mengatur uang itu sebaik mungkin. Ini adalah uang Murni yang harus digunakan sebaik mungkin. Sebagian ditabung. Sebagian untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagian untuk membayar hutang, terutama hutang ke Pak Romli, sebagaimana pesan Murni. Tapi toh pak Romli tetap menolak menerima uang itu.
“Pakailah untuk keperluan sekolah adik-adik Murni,”
Perempuan itu ragu. Barangkali dulupun Pak Romli bersikap sama terhadap orang tua Nunung, sebelum menjadikannya istri ketiga. Tapi kelihatannya Nunung baik-baik aja. Bahkan tubuhnya semakin subur. Perhiasannya semakin banyak menghiasi leher, telinga, jari dan pergelangan tangannya. Orang-orang sekampung bilang, siapa sih yang tidak mau diperistri Pak Romli, orang kaya dan banyak uang. Meskipun gemar judi.

**
            Minggu depan Murni pulang, mak.
Ini kabar paling membahagiakan yang pernah diterimanya. Dia hampir tidak sabar menunggu kedatangan Murni. Dengan menggunakan mobil Haji Zarkasih dia menjemput Murni di kota kecamatan. Dan itulah, anak itu muncul diantara sekian banyak TKW yang juga pulang kampung.  Keduanya berpelukan tanpa sepatah kata. Murni nampak kurus dibalik jilbab putihnya. Murni begitu kurus. Namun kegembiraan sekaligus kepenatan bersatu padu terpancar diwajahnya.
            “Rasanya lega sudah sampai di rumah…” Kata Murni. Kepenatan yang dipendam berbulan-bulan terpancar disetiap garis wajah Murni, berujung dalam tidur yang lelap. Sangat lelap. Semalaman Sutijah memeluk anak sulungnya itu. Seakan tidak akan pernah lagi melepasnya. Malam-malam tubuh Murni mengigil. Rupanya anak ini terlalu capai. Perjalanan yang begitu lama dan jauh membuatnya masuk angin. Dia membuka baju Murni. Membalurnya tubuhnya dengan minyak angin. Baru beberapa usapan tangan, Murni mengaduh dan berteriak. Sutijah merasakan sesuatu di punggung Murni. Dia mendekatkan lampu teplok ke dekat tubuh Murni yang terus menggigil. Punggungnya berbarut-barut. Legam, sebagian melepuh.
            “Ya, Allah,”
Tubuh Murni masih terus menggigil. (Yeni Ratnakomala)

 ***