Sabtu, 21 Mei 2011

Cerpenku: Di Sebuah Sudut Sel

Published by Swara Cantika (February 2003)

Satu persatu nama dipanggil melalui pengeras suara. Mereka yang dipanggil akan berbaris di pintu penghubung yang dijaga petugas. Petugas itu mencatat nama dan jam mulai kunjungan. Biasanya tidak lebih dari lima belas menit. Untuk mendapat kelebihan waktu dari yang sudah ditentukan, biasanya penghuni memberi sejumlah uang, maka penjaga akan memperpanjang waktu kunjungan sampai lima belas menit ke depan. Di balik pintu penghubung itu terletak halaman rumput yang cukup luas dan terawat rapi. Pada saat lebaran atau hari besar lainnya halaman rumput itu disulap menjadi semacam barak tenda. Di barak-barak tenda itulah penghuni bertemu melepas kangen, berbagi cerita dan bercengkerama bersama sanak famili. Pada hari-hari biasa, ada ruangan khusus yang disediakan untuk penghuni menerima pengunjung.
Seseorang, di sudut sebuah sel yang lembab tengah mengisap sebatang rokok dalam-dalam. Asap rokok terbang melingkar-lingkar, memanjang membentuk pendaran-pendaran yang bias ke atas langit-langit sel yang sempit. Parjo, teman satu sel, memberikan rokok yang hanya tinggal seruas jari tangan itu sebelum beranjak menemui anak istrinya. Laki-laki kurus berkulit gelap itu divonis satu setengah tahun penjara karena terlibat kasus penipuan dengan kekerasan. Setiap minggu anak istri Parjo  datang menjenguk.
Dia kembali mengisap rokok yang ujung baranya hanya tinggal menyisakan beberapa senti dari ujung jari. Di antara helai-helai asap rokok, ia ingat Raia, anak satu-satunya. Di minggu kedua dia menjadi penghuni, anak itu datang bersama Farina, adiknya.
“Ayah, pesantrennya masih lama? Tidurnya sama siapa? Kamar ayah di mana? Makannya di mana? Ayah betah di sini?”
Suara renyah Raia dengan pertanyaan memberondong dan seakan tiada habisnya masih terngiang di telinga. Rambutnya ikal ‘kriwil’ diikat kepang dua dengan ikat rambut berwarna pink. Tas punggung barby menutupi punggungnya. Dia mencoba tegar, menjawab satu persatu pertanyaan Raia dengan bahasa yang paling bisa dimengerti anak berumur lima tahun. Mata polos Raia tak berhenti menatap. Entah apa yang ada di benaknya.
            “Ayah lupa cukuran, ya?”
Raia mempermainkan kumis dan cambang yang dibiarkan panjang.
            “Ayah belum sempat cukuran,”
“Cukuran dong! Kalo nggak di cukur, ayah kayak penjahat!”
            “Memang ayah kayak penjahat?”
Raia mengangguk-angguk. “Kayak di pilem-pilem di televisi,”
            “Ayah janji, kalau Raia kesini lagi, jenggot ayah sudah hilang,”
Dia mendekatkan ujung dagu ke punggung tangan yang bersandar di kedua lutut, lalu menggesekkannya dengan samar. Sudah tidak ada lagi jenggot dan cambang yang tertinggal. Bersih. Kelimis. Seperti yang diinginkan Raia. Anak perempuan,  apakah memang selalu lebih perhatian dari anak laki-laki?
Dalam keserba-terpurukan seperti yang dihadapi sekarang, hanya ada satu hal yang masih bisa dia syukuri. Raia. Dia bersyukur, Raia masih terlalu kecil untuk memahami keberadaan dia di sini. Kelak, saat Raia sudah beranjak dewasa, dia akan mengatakannya. Sesuram apapun lembaran itu. Menurut Farina, Kintan selalu mengatakan pada Raia bahwa ayahnya ikut pesantren dan untuk beberapa lama tidak bisa tinggal bersama mereka.
Kintan. Tiba-tiba ada sesuatu yang mendesak-desak di dadanya. Untuk sekarang ini dia tidak berharap Kintan akan datang menjenguk. Atau barangkali istrinya itu tidak akan pernah mau menjenguk. Dia masih belum mau membayangkan apa yang akan terjadi dengan dirinya dan Kintan setelah keluar nanti. Lembaran-lembaran kisah itu tanpa dikehendaki hadir, menyelinap ke balik jeruji sel yang dingin.
Semuanya berawal di sebuah pub. Seorang penyanyi menarik perhatiannya saat dia mampir minum kopi di sana selepas jam kantor. Rambutnya yang panjang nyaris sepinggang dibiarkan terurai lepas tanpa jepitan. Kulitnya putih terbalut gaun hitam panjang bermanik-manik yang berkilau kena cahaya lampu. Suaranya syahdu. Nyanyiannya bagai buaian menyelinap di telinga setiap pengunjung. Tepukan meriah senantiasa mengiringi setiap ia usai membawakan sebuah lagu. Dia adalah Kintan. Dia adalah primadona. Sejak itu dia menjadi lebih sering menghabiskan waktu di sana. Ternyata bukan hanya dirinya yang mengagumi dan menyanjung Kintan. Banyak pengunjung yang datang untuk sekedar menikmati lantunan merdu Kintan. Banyak orang mengagumi. Banyak orang memuji.
Maka dia merasa menjelma menjadi seorang pangeran yang teramat beruntung karena dari sekian banyak pengagum, dari sekian banyak laki-laki mapan  yang terang-terangan menginginkan Kintan,  ternyata Kintan memilih dirinya. Seorang karyawan biasa bergaji pas-pasan yang hanya bisa menawarkan cinta dan kasih sayang. Bukan materi.
Mereka menikah dengan sederhana di sebuah mesjid, dihadiri hanya keluarga dan kerabat dekat. Seusai menikah, Kintan terus menjalani profesi sebagai penyanyi pub. Sementara itu, dia memutuskan untuk menerima tawaran Pak Indra untuk memperkuat divisi marketing dan tentu saja mendapat penyesuaian gaji dan fasilitas, meski dengan konsekuensi dia harus sering pergi ke luar kota. Dia beruntung, karena prestasi yang dicapainya, dia kemudian mendapat promosi menggantikan Pak Idrus, atasannya, yang  sekarang menempati pos baru sebagai pimpinan cabang di Medan.
Dua belas bulan kemudian Raia lahir. Setelah Raia lahir, dia meminta  Kintan berhenti menjadi penyanyi dan lebih berkonsentrasi mengurus Raia di rumah. Tapi waktu itu Kintan bilang dia merasa belum siap meninggalkan pekerjaannya. Seiring dengan bertambahnya usia Raia, dia kembali meminta Kintan berhenti bekerja. Toh penghasilannya selama ini sudah cukup untuk membiayai hidup mereka bertiga. Namun rupanya Kintan sudah terlanjur menikmati pekerjaannya.
“Aku sudah terlanjur mencintai pekerjaan ini. Aku ingin terus berkarier  dengan bakat yang tidak semua orang memiliki. Lagi pula, dengan menyanyi, aku bisa membantumu mencari nafkah,”
 “Kamu keliru kalau mengatakan kamu bekerja untuk membantu suami mencari nafkah. Toh, selama ini penghasilanku sudah cukup membiayai hidup kita bertiga dengan cukup layak,”
“Mpok Suti bisa dipercaya untuk mengurusi Raia sementara aku bekerja. Lagipula Ibu sering datang menengok ke sini,”
“Ini semua untuk kepentingan Raia. Kamu pikirkan itu,”
“Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku. Apalagi sekarang pub sedang ramai pengunjung,”
“Raia lebih membutuhkanmu dari para pelanggan-pelangganmu di pub itu,”
Ada gelora di mata Kintan. Ini adalah pertengkaran pertama sepanjang usia pernikahan mereka. Tapi dia tidak ingin membuat situasi bertambah buruk. Besok subuh dia harus berkemas mengejar kereta jam enam pagi menuju Surabaya. Namun harus diakui, sejak itu, ketegangan dan pertengkaran lebih sering wewarnai hubungan mereka.
                                                *
Peristiwa itu terjadi hampir sepuluh bulan yang lalu. Saat dia berada di sebuah kota di Jawa Tengah ketika Mpok Suti mengabari Raia sakit. Dia memutuskan untuk pulang, seusai rapat terakhir. Untungnya, pekerjaan sudah hampir selesai dan dia bisa mendelegasikan sisa-sisa pekerjaannya kepada Andi, asistennya.
Sepanjang perjalanan dia mencoba menghubungi Kintan. Namun dia selalu mendapatkan jawaban yang sama : nomor telepon yang sedang anda hubungi sedang tidak aktif. Berkali-kali pula dia mencoba menghubungi pub tempat Kintan menyanyi, tapi operator hanya mengatakan Kintan sedang di atas panggung, tidak bisa diganggu. Setelah itu, berulangkali dia menelepon, tidak ada lagi operator yang mengangkat.
Jam menunjukkan pukul sepuluh lewat empat puluh enam menit ketika dirinya sampai di rumah. Dia mendapati Raia tergolek lemas di atas tempat tidur. Mata Raia terpejam. Mulutnya mengerang. Badannya panas tinggi. Dengan dibantu Farina dan Mpok Suti, dia melarikan Raia ke rumah sakit. Dokter menyarankan malam itu Raia dirawat di rumah sakit sampai menunggu perkembangan esok pagi.
Setelah mendapatkan kamar untuk Raia, dia meminta Farina dan Mpok Suti menjaga Raia dan segera melarikan mobilnya ke pub. Mencari Kintan.
Dalam perjalanan dari rumah sakit menuju tempat Kintan, perasaannya ber campur aduk : khawatir dengan kondisi Raia, ngantuk dan penat bercampur dengan kegusaran karena gagal menghubungi Kintan pada saat-saat darurat seperti ini. Pertanyaannya terjawab setelah dia sampai di pub. Di sana dia mendapatkan Kintan tengah duduk berdua dengan seorang lelaki. Pada situasi biasa, barangkali dia tidak melihat pemandangan ini sebagai suatu hal yang luar biasa karena dia tahu ini adalah dunia Kintan yang, meski sampai sekarang, dia masih belum terbiasa, dia mencoba untuk mengerti. Dia juga mengabaikan satu dua orang yang memberinya kabar Kintan dekat dan kerap  pergi dengan seorang laki-laki. Tapi dalam kondisi Raia sakit, ini adalah hal yang kurang wajar. Kintan masih sempat duduk santai dengan tawa yang berderai-derai sambil berbincang dengan akrab dengan seorang laki-laki. Entah siapa. Entah membicarakan apa. Sementara Raia, terbaring sakit, hanya ditemani Mpok Suti dan Farina. Orang tua macam apa mereka?
Kintan baru menyadari kehadirannya setelah dia berdiri kurang dari satu meter dari meja.
            “Mas! Kapan datang?”
Dia menangkap kaget yang samar di wajah istrinya.
“Raia sakit,”
Hening sejenak.
“Sejak kemarin anak itu memang agak sakit. Sebelum pergi tadi aku sudah memberi dia obat turun panas,”
“Raia sakit,”
Suaranya seperti menggumam.
“Aku nggak bisa pergi sekarang. Masih ada beberapa lagu yang harus dinyanyikan,”
Suara Kintan meninggi, sekaligus memohon. Tiba-tiba dia merasa menjadi laki-laki yang paling tidak beruntung di dunia. Istrinya, ibu dari anaknya, nampaknya lebih memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya dan duduk dengan laki-laki lain yang tidak pernah dikenalnya.
            “Bung, sebaiknya anda duduk dulu dan bicara baik-baik,”
Laki-laki di samping Kintan berdiri menghampiri. Dia tidak lagi menganggap ini sebuah keramahan. Tapi hanya sebuah basa-basi. Kalau tidak dikatakan sebuah lelucon yang tidak lucu. Kesabarannya habis sudah. Bibirnya bergetar. Giginya gemelutuk. Ada yang bergolak hebat di dadanya. Amarah itu tiba-tiba saja datang menggemuruh. Memilin-milin sekujur tubuh. Selanjutnya dia nyaris tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Dia menerjang. Seakan menumpahkan semua gemuruh di dalam dada yang sekian lama menumpuk dan tiba-tiba bergolak hebat. Beberapa saat kemudian, dia menyaksikan teman lelaki Kintan jatuh terkapar. Darah mengalir. Suara Kintan yang menjerit histeris hanya terdengar sayup-sayup. Bergema di udara. Melayang-layang. Kemudian orang-orang datang mengamankan dirinya.                       
                                                                       
*

Pengeras suara kembali memanggil sebuah nama. Namanya. Ini saat-saat yang ditunggu-tunggu sejak hampir sebulan lalu Farina dan Raia tidak datang. Dia siap beranjak. Membayangkan tubuh mungil Raia meloncat dan berlari sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memburu ke arahnya. Kepang kriwilnya terayun-ayun mengikuti gerak tubuhnya. Tapi kemudian pengeras suara itu menyebut nama belakang yang berbeda dengan dirinya. Bukan. Bukan buat dirinya. Ada keluarga lain yang menjenguk seorang penghuni yang nama depannya sama dengan namanya. Bayangan Raia menjauh. Dia kembali terduduk lesu. Barangkali hari ini akan sama dengan hari kemarin. Tak ada yang datang. Tak ada yang perlu ditunggu. Tapi

buatnya, menunggu adalah harapan. Harapan melihat Raia. Harapan melihat anak itu tumbuh dan berkembang. Meski dia akan melihat sepenggal masa itu dari balik jeruji.
Asap rokok tinggal menyisakan abu yang terserak. Di sudut lantai yang lembab seekor kecoa merayap. Mendengus-dengus. (Yeni Ratnakomala)

                                                *

2 komentar:

  1. (Menghela nafas panjaaanng...) Thanks ya udah diajak jalan2 menengok lapas. Terharuuu :((

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hatur nuhun Kang Gagah Bandung. :) Terimakasih sudah mampir!

      Hapus