Published by Kartini (March 2000)
Sekali lagi Amuh menoleh. Hampir dua puluh meter ia melangkah. Suara Oji yang menangis di gendongan emak mengiris hatinya. Anak itu belum sembuh betul. Badannya masih panas.
“Sudahlah. Lebih baik kamu menunggu saja. Suamimu pasti pulang,”
Begitu kata emak tadi malam setelah ia mengutarakan niatnya. Saat itu emak tengah memasak air. Amuh memperhatikan perempuan tua itu meniup api di tungku dengan batang bambu. Menjaga api tetap menyala.
“Sampai kapan, Mak? Kang Obon biasa pulang sebulan sekali. Tapi sekarang ini, tak ada sedikitpun kabar. Saya khawatir dia sakit.”
“Tapi kamu tidak tahu dimana dia tinggal. Si Urip bilang mencari alamat di Jakarta itu seperti mencari jarum di jerami. Susah!”
Mulut perempuan tua yang menempel di ujung batang bambu kembali membentuk gelembung. Ia menghimpun udara dan menghembuskannya ke tungku lewat ujung lain batang bambu itu.
“Saya tahu, mak.”
Amuh mengeluarkan sesuatu dari balik kutangnya.
“Tadi pagi saya mencari Kang Ardi. Ia memberikan alamat ini. Dia bilang Kang Obon bekerja di sini.”
Dibantu cahaya api dari tungku, mata rabun perempuan tua itu membuatnya harus menjauhkan secarik kertas itu dari matanya. Ia hanya bisa melihat tulisan-tulisan buram yang tidak dimengerti. Sepanjang hidupnya ia tidak pernah mengenal baca dan tulis. Amuh mengambil kembali kertas itu dan dengan hati-hati menyelipkannya ke saku plastik berisi pakaian yang akan dibawanya.
“Si Ardi itu kan sudah lama tidak ke Jakarta. Mungkin saja Obon sudah pindah.”
“Saya yakin ia masih bekerja di sana. Doakan saja, mak.”
Amuh ingat kang Obon pernah menyebut nama tempat dimana dia tinggal dan bekerja. Setelah mencocokkan dengan alamat yang diberikan Kang Ardi, Amuh yakin alamat itulah yang akan ia tuju. Tak ada lagi yang bisa menghalangi niat Amuh. Tidak juga Oji, anak semata wayangnya. Anak berumur tiga tahun itu dilahirkan di musim penghujan di malam gelap gulita tepat setahun usia perkawinan mereka.
Sekali lagi Amuh menoleh. Dengan menguatkan hati, Amuh kembali melangkah menyusuri jalan setapak. Kali ini tanpa bakul berisi pakaian dan piring kotor untuk dibawa ke sungai. Juga tanpa si Oji yang dengan tubuh telanjang mengikuti Amuh dari belakang. Kali ini ia hanya menenteng tas plastik berisi dua potong baju, bersepatu sandal dan berbaju sedikit rapi dari yang biasa dipakai sehari-hari. Ia akan pergi ke Jakarta menyusul Kang Obon dengan bekal uang pinjaman dari Atun, TKW yang baru pulang dari Saudi dan tentu saja membawa uang.
Sejauh mata memandang, sawah-sawah hanya membentuk bongkahan dan retakan lebar. Kering dan gersang. Tanah kelahirannya yang memang sudah gersang diperburuk dengan kemarau panjang tahun ini. Kemarau sekarang ini tidak menyisakan apapun bagi penghuni kampungnya untuk tetap bertahan. Berbondong-bondong anak muda keluar dari tanah kelahiran mereka untuk mengadu nasib. Merantau ke Jakarta.
Setelah lima belas menit berjalan, Amuh sampai di pangkalan ojek. Dari situ ia menumpang ojek ke kota kecamatan. Ia harus membayar ongkos ojek cukup mahal untuk ukuran kantongnya, karena posisi desanya yang terpencil dan paling jauh dibandingkan dengan desa-desa lain di kecamatan ini. Dari kota kecamatan ia menumpang bis omprengan ke kota terdekat. Dari situ Amuh baru melanjutkan perjalanan ke Jakarta.
*
Amuh tengadah. Ini Hari sudah gelap saat bis yang ditumpanginya sampai di Jakarta. Ini adalah terminal paling megah dan luas yang pernah dilihatnya. Sepanjang hidupnya, Amuh baru melihat kesibukan yang luar biasa. Orang-orang bergegas seperti mengejar sesuatu. Suara klakson mobil dan teriakan calo-calo saling bersahutan. Hampir saja ia ditabrak seorang perempuan yang membawa kopor besar dan menuntun anak kecil. Amuh menarik napas panjang. Menghimpun kekuatan. Pada tarikan napas berikutnya, ia melangkah mantap. Mendatangi petugas terminal berpakaian seragam tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sesaat kemudian Amuh sudah duduk di sebuah angkutan kecil. Wajah Kang Obon sudah di pelupuk mata. Banyak sekali yang ingin ia ceritakan. Tentu saja hal pertama yang akan ia ceritakan adalah Oji sakit. Sejak seminggu lalu hanya sedikit saja makanan masuk ke dalam perutnya. Oji baru mau makan kalau dibikinkan bubur kaldu ayam. Untuk kesembuhan Oji, terpaksa tiga ayam piaraan mereka, termasuk ayam jago kesayangan si Oji, dipotong satu demi satu. Kini, tidak ada lagi ayam piaraan yang tersisa. Setelah itu Amuh akan bercerita tentang sawah sepetak mereka yang kini hanya ditumbuhi dengan pohon alang-alang yang semakin tinggi. Lalu atap rumbia rumah mereka yang bocor, tukang kredit yang beberapa kali datang menagih hutang, tapi Amuh tidak mampu membayar karena tidak ada uang. Jangankan untuk bayar utang, untuk membawa Si Oji ke puskesmas pun ia harus berutang. Lalu tentang Arum yang setelah pulang dari Saudi bisa membeli sapi dan memperbaiki rumah.
Amuh merapatkan tas plastiknya ke dada saat seorang penumpang naik. Ia harus semakin merapatkan tubuh ke pinggir. Penumpang begitu sesak. Sekitar setengah jam kemudian angkutan mulai memasuki jalan kecil. Di kiri kanan jalan rumah-rumah kecil berdempetan. Jam didekat kemudi sudah menunjukkan hampir pukul sembilan. Satu persatu penumpang mulai turun. Kini tinggal hanya tiga penumpang termasuk dirinya. Amuh mulai kebingungan. Di mana ia akan turun? Bukankah nanti kernet atau sopir yang akan memberitahu? Bukankah sebelum naik tadi ia sudah mengatakan daerah yang ia tuju dan meminta kernet memberitahu di mana ia harus turun, sebagaimana yang dinasehatkan petugas terminal tadi. Apakah mereka sudah lupa? Amuh ingat kampungnya. Pada jam seperti ini semestinya ia sudah jatuh terlelap di alam mimpi, mengeloni si Oji. Kini hanya emak yang mengeloni anak itu. Tubuh Amuh kembali terhempas saat angkutan kembali terguncang. Kini ia tinggal satu-satunya penumpang yang belum turun. Kegelisahan mulai melanda dirinya.
“Ibu turun di mana?” kata kernet. Di depan sopir memperlambat mobil dan menoleh ke arahnya, membenarkan pertanyaan kernet.
“Tadi kan saya sudah bilang, saya akan pergi ke daerah ini. Manggarai.”
Amuh menyodorkan kertas lecek yang sedari tadi digenggamnya. Kernet sekilas membacanya. Lalu menyodorkan kertas itu ke sopir.
“Kita nggak lewat Manggarai.”
Amuh tersentak. Apa ia salah mendengar dari petugas terminal yang menunjuk angkutan ini. Apa kernet tidak mendengar kata-katanya tadi?
“Sebelum naik tadi saya teh sudah bilang. Kenapa tidak memberitahu saya naik mobil yang salah?”
“Yang namanya penumpang kan banyak, bu. Mana saya ingat?”
“Jadi?”
Kernet mengatakan sesuatu dalam bahasa daerah yang tidak dimengerti. Amuh merasa seluruh tubuhnya menggigil dijerat ketakutan yang sangat. Ia tidak tahu Jakarta. Ia tidak tahu di daerah mana kini ia berada. Tiba-tiba ia ingin menangis. Ia merasa sendirian. Tanpa emak dan si Oji. Tanpa Kang Obon. Tanpa sanak saudara atau satu orangpun yang ia kenal.
“Ibu sebaiknya kembali ke terminal. Lalu naik bis kota ke arah Manggarai.”
Amuh tidak bisa berkata-kata. Lidahnya terasa kelu. Bagaimana ia bisa kembali ke terminal di malam yang sudah cukup larut seperti ini. Baru kali ini ia merasakan kesedihan dan kesepian yang sangat. Kalau saja ia mendengarkan kata-kata emak.
“Kalau ibu mau kembali ke terminal, ibu tinggal menyeberangi jembatan penyeberangan di depan. Lalu berjalan ke lampu merah. Dari situ masih ada kendaraan ke arah terminal.”
“Pak, saya baru datang dari daerah. Saya ke sini mau mencari suami saya. Saya betul-betul tidak tahu Jakarta.”
Tiba-tiba saja kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Amuh. Ia berusaha keras untuk tidak mengucurkan air mata. Amuh memperhatikan sopir dan kernet bercakap. Cukup lama. Dalam obrolan mereka, ia juga menangkap ucapan sopir dengan nada tinggi. Sayang satu katapun Amuh tidak mengerti. Yang ia mengerti kemudian adalah sopir dan kernet akhirnya menyarankan Amuh tidur di angkutan ini sementara menunggu besok pagi. Tak ada pilihan lain. Setelah itu, angkutan kembali melaju. Dua puluh menit kemudian, sopir memarkir mobil di sebuah warung kopi. Nampaknya mereka akan minum kopi. Dari tempatnya duduknya, Amuh bisa melihat ke ruang dalam warung kopi itu. Sebagian orang tengah bermain kartu. Sebagian lagi mengobrol sambil menikmati hidangan kopi panas atau bir. Ada juga sebagian yang hanya menyelonjorkan kaki dengan wajah terkantuk-kantuk. Lalu ada beberapa wanita muda yang berlalu lalang melayani. Amuh heran. Malam semakin larut tapi warung kopi itu seperti tidak menunjukkan tanda-tanda akan tutup. Setelah sopir dan kernet pergi, Amuh merapatkan pintu mobil. Ia merasa cukup penat. Berbantalkan tas plastiknya, Amuh membaringkan badan. Tempat duduk penumpang ternyata tidak cukup mampu menampung badan Amuh dan membuatnya harus memiringkan badan. Alam lamunannya membayangkan Kang Obon, Oji dan emak. Dengan harapan pagi segera tiba Amuh jatuh tertidur. Belum juga ia betul-betul lelap, samar ia mendengar pintu angkutan di ujung kakinya terbuka. Kernet masuk. Bau minuman keluar dari mulutnya. Belum sadar sepenuhnya terhadap bahaya yang ada, kernet sudah memepet Amuh sampai ke sudut mobil. Amuh terkejut. Untuk sesaat ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Jeritannya seperti tertelan di tenggorokan. Kernet semakin berani. Menjambak rambut dan menarik pakaiannya. Apa yang bisa ia lakukan saat itu adalah berteriak sekuat tenaga sambil memukuli kernet dengan tasnya. Entah berapa lama ia berontak sampai tiba-tiba ada tangan lain yang menjambak kepala si kernet. Menempeleng dan menyeret keluar sampai si kernet jatuh terhuyung.
“Dia mabuk.” Kata si sopir. Matanya memancarkan ketidaksenangan.
“Kunci dari dalam.” Lanjutnya. Dengan air mata yang ia tidak tahu sejak kapan turun, Amuh mengangguk. Amuh kemudian melihat sopir menyeret si kernet masuk kembali ke warung. Malam itu ia tidak bisa tidur. Amuh berharap pagi segera tiba.
*
Pagi hari dengan di antar sopir, Amuh sampai di suatu tempat. Di mulut sebuah gang.
“Saya kenal seseorang di sini. Namanya Pak Lenggono. Ia banyak tahu dan kenal para pekerja di lingkungan sini.”
“Terima kasih.”
Mungkin itu ucapan terima kasih yang paling tulus yang pernah diucapkan Amuh. Sopir itu telah menyelamatkan diri dan kehormatannya. Peristiwa yang hampir terjadi semalam membuatnya tak berhenti bersyukur dan berterima kasih atas kebaikan sopir itu. Amuh berjalan menyusuri gang sempit yang ramai dengan teriakan anak kecil yang tengah bermain. Nasi bungkus pemberian sopir lumayan bisa mengganjal perutnya setidaknya sampai nanti siang. Ia celingukan. Apakah ia bisa menemukan Pak Lenggono yang tidak dikenalnya di tengah belantara manusia yang juga tak satupun dikenalnya. Amuh memutuskan untuk langsung saja menanyakan Kang Obon. Pada saat celingukan itulah, seorang laki-laki berbadan gemuk menghampiri Amuh. Ia meneliti alamat yang disodorkan Amuh.
“Wilayah ini sudah kena gusur sejak hampir setahun lalu.”
Amuh tersentak. Lalu di mana Kang Obon sekarang?
“Adik memang cari siapa?”
Dalam kekhawatiran Amuh menjelaskan maksudnya. Ia juga menceritakan ciri-ciri Kang Obon. Barangkali saja bapak ini pernah melihatnya.
“Obon….Obon….”
Laki-laki bertampang ramah ini mengernyitkan alis. Berpikir.
“Rasanya…”
Tiba-tiba ia menepuk dahi. “Obon! Saya ingat sekarang. Saya kenal. Ia pernah tinggal di daerah ini sebelum di gusur.”
Amuh hampir tidak percaya mendengarnya. Bapak bertubuh tambun itu mengenal Kang Obon. Dunia terasa kembali terbuka luas di depan Amuh.
“Bagaimana saya bisa menemuinya?”
“Saya biasa melihatnya ditempat kerjanya. Kebetulan tempat kerja Obon biasa saya lalui setiap hari.”
Amuh menarik napas lega. Ia begitu berterima kasih pada laki-laki yang mengingatkannya pada sebuah wajah di televisi saat ia menonton di rumah pak lurah.
“Dari sini memang agak jauh. Tapi nggak apa-apa. Dalam waktu satu setengah sampai dua jam kita bisa sampai ke sana.”
Amuh tidak lagi peduli berapa lama lagi waktu yang ia perlukan agar bisa bertemu dengan kang Obon. Pak Sobri, nama laki-laki ramah itu, meminta Amuh menunggu sepuluh menit untuk bersiap. Dengan menumpang bis kota, mereka berangkat. Sekitar satu jam kemudian mereka turun di perempatan. Dari perempatan Amuh mengikuti pak Sobri menaiki mokrolet yang penuh sesak. Lima belas menit kemudian mereka turun di sebuah gang. Amuh mengikuti pak Sobri masuk gang sempit itu. Sebentar kemudian mereka sudah sampai di gang agak besar. Dengan mengikuti kelokan gang yang agak menurun, mereka sampai di sebuah rumah yang cukup besar di ujung kelokan. Pak Sobri mengajak Amuh memasuki gerbang rumah besar itu.
“Yang saya tahu ini tempat kerja Obon. Tunggu sebentar di sini.”
Amuh memperhatikan Pak Sobri menghampiri dua petugas di sudut kanan rumah besar ini. Tak lama kemudian mereka dipersilahkan masuk melewati pintu samping. Pak Sobri meminta Amuh menunggu di beranda kecil. Sementara menunggu, ia meneliti seisi ruangan. Ada lukisan kuda berlatar pemandangan di dinding. Tepat di sebelah Amuh ada pot bunga berisi mawar segar. Di sebelah paviliun, sebuah taman tertata cukup rapi dengan batu-batu kecil dan rumput hijau yang terawat. Mungkin ini hanya salah satu dari beberapa paviliun di rumah besar ini. Amuh diliputi perasaan haru sekaligus bangga saat melihat betapa rapi dan nyamannya tempat kerja Kang Obon. Tiba-tiba ia merasa bangga memiliki suami Kang Obon yang beruntung memiliki pekerjaan di tempat nyaman ini, padahal Kang Obon hanya lulusan SD. Ah, banyak sekali yang akan ia ceritakan ke emak dan si Oji kalau nanti ia pulang. Seperempat jam kemudian, Pak Sobri kembali datang ditemani seorang perempuan setengah baya berambut pendek dan berponi yang menyambut Amuh dengan senyum ramah.
“Obon memang kerja dan tinggal di sini. Tapi hari ini ia lagi tugas keluar. Mungkin baru nanti malam ia kembali.”
Amuh menarik napas lega. Menunggu sampai nanti malam bukan waktu yang lama bagi Amuh.
“Ruangan Obon ada di sebelah. Tapi di kunci. Sementara menunggu, kamar ini bisa dipakai untuk istirahat.” Perempuan itu mengajak Amuh masuk ke sebuah kamar yang juga tertata rapi.
“Kamar mandi juga ada di dalam kamar. Anggap saja rumah sendiri.”
Kata perempuan itu sebelum menutup pintu.
“Terima kasih.”
Hanya itu yang bisa diucapkan Amuh. Kata-kata itu pula yang diucapkan Amuh kepada Pak Sobri yang segera pamit pulang.
Sepuluh menit kemudian, kamarnya diketuk. Seorang wanita tua mengantarkan segelas air jeruk dan makanan kecil. Amuh hanya meminum air jeruk saja sampai habis. Ia tidak bernapsu untuk mencicipi makanan kecil. Sambil membaringkan badan ke kasur Amuh menatap langit-langit kamar. Membayangkan emak dan si Oji. Membayangkan nanti malam ia akan bertemu dengan Kang Obon. Apa yang akan dilakukannya? O, iya. Sebaiknya ia membersihkan badan dulu sekarang. Tapi nanti saja. Amuh menggeliat merasakan kantuk yang pekat. Perjalanan sejak dari kampung, pengalamannya dengan sopir dan kernet di warung kopi sangat menguras tenaga dan pikirannya. Hanya sebentar saja Amuh sudah jatuh terlelap. Dalam lelapnya Kang Obon datang. Memeluknya dengan kerinduan yang sangat. Mencium keningnya. Menyapu bau tubuhnya. Ia ingat saat-saat pertama bertemu dengan Kang Obon. Laki-laki yang membuatnya tertarik karena kesederhanaan dan kesopanannya. Amuh membelai rambut Kang Obon yang sudah panjang. Tubuhnya begitu kekar. Tapi… Kang Obon tidak kekar. Ia kurus. Rambutnya juga tidak biasa panjang. Apakah Jakarta telah mengubah Kang Obon? Amuh tersentak. Ini bukan mimpi. Amuh memaksakan membuka mata. Dalam keremangan lampu lima watt ia melihat bukan Kang Obon yang tengah menindihnya. Tapi orang lain. Entah siapa. Ia berteriak.
*
Sementara itu, sekitar delapan kilometer dari rumah besar itu ke bagian selatan kota Jakarta, seorang laki-laki tengah duduk mencangklong, di sebuah trotoar berdebu. Di sampingnya tergeletak pacul, blencong dan pengki. Berharap seorang kontraktor sudi menyewa tenaganya. Dengan itu ia bisa mendapatkan sedikit uang untuk ongkos pulang. Tapi sejak enam bulan lalu, tak satupun kontraktor yang datang. Udara panas kota Jakarta membuat peluh mengucur di sekujur tubuhnya. Bayangan Amuh dan Oji begitu lekat beberapa hari belakangan ini. Esok ia harus pulang. Bagaimanapun caranya. Meski tak sepeserpun uang di saku. (Yeni Ratnakomala)


Happy milad " soulmate " semoga Allah melimpahkan banyak rizki, nikmat iman dan Islam, kesehatan yang prima dan kel yang sakinah mawaddah warahmah.
BalasHapusAmin ya robball allamin.
Dan semoga dengan hadiah special dari suami tercinta ini bisa menjadi inspirasi dan semangat untuk berkarya lagi.
di tunggu ya cerpen berikutnya plus traktirannya :)
with big huge and love,
Pang pang
Makasih nyah pang! Iya surprised banget dibikinin blog di hari ultah. Ngga nyangka. Padahal file2nya tercecer ntah di mana. Bahkan ada beberapa yang hilang soft filenya; mungkin yg bbrp itu dia scan-in hingga jd softfile.
BalasHapusHidup di Jakarta tak seindah ceita di sinetron...
BalasHapus