Published by Tabloid Nova (November 1999)
Wulan mengaduk orange juice yang sudah habis hampir setengahnya. Di hadapannya Rosa masih terus bercerita.
“Beberapa kali aku berusaha mengakhiri. Beberapa kali pula gagal. Belakangan aku malah berpikir untuk menyerah saja. Biar saja waktu yang membuktikan mau ke arah mana hubunganku dengannya.”
“Suamimu?” tanya Wulan.
Rosa mengangkat bahu. Ia menghabiskan sisa-sisa potongan kecil daging ayam dari
Rosa mengangkat bahu. Ia menghabiskan sisa-sisa potongan kecil daging ayam dari
mangkok sotonya. Lipstiknya sudah lama pudar terhapus kuah bersantan.
“Dia adalah laki-laki yang tidak pernah jujur. Selalu bersembunyi di belakang kedoknya. Seringkali aku berpikir dia sangat berperan besar membuat keadaan kami seperti ini. Aku begini karena dia begitu,” Rosa menarik napas dan melanjutkan kalimatnya. “Tapi dia cukup pandai menyembunyikan kebusukannya.” Ia mengangkat gelas berisi teh manis dingin di depannya. Dengan sekali regukan, hampir setengah isi gelas berpindah ke perutnya yang langsing.
“Bagaimana kalian bisa hidup satu atap kalau rasa saling mencurigai satu sama lain terus dipupuk. Sampai kapan kalian bisa bertahan?”
“Entahlah.” Kata Rosa sambil menyedot rokoknya. “Akhir-akhir ini aku nggak perduli. Aku malah semakin enjoy berhubungan dengan kekasihku. Dia sangat baik. Perhatian. Sabar.”
Asap mengepul membentuk gulungan. Semakin ke atas semakin pudar dan pecah meninggalkan sisa-sisa kepulan seperti kabut tipis.
“Aku khawatir kau lebih melihat kelebihan dan kebaikan kekasihmu daripada suamimu. Sebaiknya kau pertimbangkan resikonya. Bagaimanapun, dia masih suamimu. Kau pikirkan perasaan suamimu saat tahu kau berhubungan dengan laki-laki lain,”
Rosa tertawa.
“Apa dia memikirkan perasaan aku saat berhubungan dengan wanita lain?”
Wulan tepekur. Ia tidak bisa mengatakan apapun karena hal ini tidak pernah dialaminya. Ketidakjujuran dan ketidakpercayaan terhadap suami dilampiaskan Rosa dengan melakukan perselingkuhan. Sayangnya, Rosa kemudian menikmatinya. Diam-diam Wulan merasa menjadi orang yang lebih beruntung dari Rosa. Secara lahiriah, Rosa boleh memiliki banyak kelebihan. Cantik, kaya dan karir yang cukup bagus. Tapi ia tidak memiliki suami seperti Hartono yang mempercayai dan dipercayainya. Yang dimiliki Rosa hanya suami yang mencurigai dan dicurigainya.
“Bagaimana hubunganmu dengan suami?”
“Kami baik-baik saja,”
“Ada yang perlu diceritakan?”
Wulan menggeleng.
“Aku dan dia menjalani runtinitas keseharian kami dengan bahagia. Bangun pagi, menyiapkan sarapan. Sama-sama pergi ke kantor. Sepulang kerja, aku menyiapkan makan malam. Sementara menunggu suami pulang, aku baca-baca. Setelah dia pulang, kami makan malam bersama sambil menceritakan pengalaman seharian. Kalau masih sempat nonton tivi. Lalu tidur. Itu saja.”
“Apa suamimu pernah menjalin hubungan dengan wanita lain?” Desak Rosa.
“Mudah-mudahan nggak. Aku mempercayainya.”
“Kepercayaan jangan terlalu diandalkan secara membabi-buta.”
“Tentu saja nggak.”
Jam satu tepat, keduanya segera meninggalkan cafe.
*
Laki-laki tinggi besar itu terus memburu Wulan. Ia berdiri diantara pohon-pohon tebu yang batang-batangnya rebah diinjak sepatu boot yang membalut kaki-kaki besar miliknya. Beberapa meter dari situ, Wulan tengkurap tanpa napas. Ia merasakan lumpur becek meresap ke dalam bajunya. Nyamuk-nyamuk seakan berpesta di sekitar tubuhnya. Tapi ia memilih tidak bergerak dan membiarkan nyamuk-nyamuk itu menggigiti dan menyedot darah di bawah kulitnya. Beruntung malam yang gelap tanpa bintang menolong dirinya. Wulan terbangun. Keringat dingin mengalir. Sentuhan di pundak menenangkan dirinya.
“Ada apa?”
Wulan menggeleng. Ia masih merasa belum siap untuk menceritakannya. Padahal sudah dua tahun Hartono menjadi suaminya. Waktu yang sebenarnya cukup untuk menceritakan bayangan buruk masa lalunya. Wulan masih merasakan perihnya kaki yang penuh baretan luka terkena tanaman liar dan ranting-ranting yang berserakan di perkebunan tebu itu. Toh, ia sangat bersyukur, kehormatannya masih terjaga. Meskipun dengan begitu ia harus pergi dari rumah meninggalkan ibu. Ibu meminta Wulan untuk tidak usah kembali. Ia terlalu percaya sama laki-laki itu yang selama ini harus dipanggilnya bapak.
“Kamu nggak bisa memendamnya sendiri, Wulan.”
Kata Hartono sambil mengelus pundaknya. “Kapanpun kamu siap. Tolong aku diberitahu. Aku siap mendengarkannya.”
Kata-katanya menyejukkan. Wulan bersyukur Hartono masih tetap memiliki kesabaran yang cukup untuk menunggu sampai dia siap mengatakannya.
*
Selamat ulang tahun.
*
Selamat ulang tahun.
Sekali lagi Wulan membaca hasil sulamannya di saputangan berwarna biru muda sebelum memasukkannya ke kotak kecil yang sudah disiapkan. Di ulang tahun Hartono kali ini, ia memilih menghadiahkan sebuah saputangan bersulamkan kata-kata yang akan selalu mengingatkan Hartono pada dirinya. Sepasang lilin sudah terpasang di atas meja makan. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana mereka biasa merayakan hari ulang tahun masing-masing dengan makan di luar, kali ini Wulan ingin merayakannya di rumah saja. Ia sudah menyiapkan makan malam yang romantis. Pada saat bersantap nanti, ia siap menceritakan semuanya. Kesabaran Hartono membantu mempercepat kesiapan Wulan menceritakan masa lalunya yang pahit. Namun sampai jam sembilan malam, Hartono tidak muncul. Jam setengah sepuluh telepon berdering.
“Wulan,” Suara Hartono di seberang telepon.
“Wulan,” Suara Hartono di seberang telepon.
“Mas di mana?” Kata Wulan dengan khawatir.
“Di kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku pulang telat. Kamu makan aja dulu. Nggak usah nunggu.”
Wulan tercenung. Ia memutuskan untuk menunggu. Jam satu lewat sepuluh malam Hartono baru pulang. “Maaf. Aku membiarkan kamu menunggu. Aku kan sudah bilang tidak usah menunggu,” Katanya.
“Tidak apa-apa. Aku ingin menunggu kamu pulang di hari istimewa-mu. Selamat ulang tahun, ya,” Kata Wulan sambil mendaratkan ciuman selamat di pipi Hartono. Ia kemudian menyodorkan kado kecil yang langsung di buka Hartono.
“Terima kasih, sayang,” Katanya.
“Tidak apa-apa. Aku ingin menunggu kamu pulang di hari istimewa-mu. Selamat ulang tahun, ya,” Kata Wulan sambil mendaratkan ciuman selamat di pipi Hartono. Ia kemudian menyodorkan kado kecil yang langsung di buka Hartono.
“Terima kasih, sayang,” Katanya.
Wajah penat Hartono membuat Wulan urung mengatakannya sekarang. Apalagi dalam sesaat dia sudah jatuh tertidur. Kasihan. Untuk mewujudkan satu impian memang perlu kerja keras. Impian mereka. Sebuah rumah mungil yang ditengahnya ada kolam kecil berisi air jernih dengan ikan-ikan kecil yang berenang riang di dalamnya.
“Beri saya waktu dua tahun untuk mewujudkan impian kita.” Kata Hartono suatu hari. Jangankan dua tahun, lima atau sepuluh tahunpun Wulan sanggup menunggu.
Lagi pula, tentang masa lalu itu, masih ada hari-hari esok.
*
“Hampir saja aku ketahuan.” Kata Rosa. “Suamiku datang pada saat dia ada di rumah.”
“Bagaimana itu terjadi?”
“Aku pikir suamiku kembali dari Hongkong hari minggu. Ternyata, karena suatu alasan, ia mempercepat kepulangannya.”
“Lantas?”
“Aku sembunyikan dia di gudang belakang rumah. Dia baru keluar setelah suamiku tertidur.”
“Itu suatu pertanda,”
“Pertanda apa?’
“Kau harus mulai sadar. Aku khawatir suatu saat kau betul-betul kepergok. Serapi-rapinya menyimpan bangkai, pasti akan ketahuan juga.”
“Kau harus mulai sadar. Aku khawatir suatu saat kau betul-betul kepergok. Serapi-rapinya menyimpan bangkai, pasti akan ketahuan juga.”
“Tapi sungguh sangat sulit melepaskan dia, Barangkali aku akan terus menjaga hubungan ini. Apapun yang terjadi,” Kata Rosa. Ia tertawa. Seperti menertawakan dirinya. Sampai ia tersedak. Mulutnya yang masih penuh dengan kuah soto menyembur keluar tanpa bisa di tahan lagi.
“Sorry,” Rosa terus terbatuk. Wajahnya memerah. Dia mencari-cari sesuatu dari tasnya. Sebuah saputangan menyembul dari dalam tasnya. Saputangan itu berwarna biru muda. Selintas Wulan membaca sulaman tulisan di ujung sapu tangan itu : Selamat ulang tahun. Sapu tangan yang ia berikan di hari ulang tahun Hartono. (Yeni Ratnakomala)

Woowww....Subhanallah...Happy Bday bus...kado dari mang anas mantab banget niy bus :) Semoga bus bisa produktif lagi, trus kumpulan cerpen ini bisa dicetak jadi buku...amin amin..Sukses untuk Bus ku tersayang....
BalasHapusamiiin, makash doanya ya..
BalasHapusiya nih mommiya, kaget juga dpt kado ultah spt ini. nah produktifnya ini nih yang agak susah direalisasikan. mudah2an nanti bisa berkarya lagi.